Chris Godfrey, Global Co-CEO HBA (Hirsch Bedner Associates), mengaku sangat terkesan akhirnya kembali ke Indonesia setelah beberapa tahun tak berkunjung.
"Selalu menjadi kebanggaan bisa kembali, dan saya sudah memikirkan kapan perjalanan berikutnya," ujar Godfrey dalam wawancara eksklusif dengan CNNIndonesia.com.
HBA merupakan perusahaan desain global yang bergerak di bidang desain interior, arsitektur, dan perencanaan terintegrasi (integrated design), dengan spesialisasi utama pada sektor perhotelan mewah (hospitality) dan hunian kelas atas (high-end residential).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perusahaan ini telah berkiprah lebih dari 25 tahun di tanah air, sehingga Godfrey menyebut Indonesia bukan sekadar lokasi proyek, melainkan pasar yang strategis dan terus berkembang. Kantor pusat operasional Asia Tenggara di Singapura membuat kehadiran HBA di Indonesia makin kuat, dengan tim yang kini berjumlah hampir 100 orang.
Dalam wawancara itu, Godfrey juga berbicara soal terjadinya pergeseran besar dalam industri desain perhotelan. Menurut dia, kesehatan dan kebugaran, umur panjang, keberlanjutan, serta teknologi, yang dulunya berkembang terpisah, kini saling menyatu menjadi pendorong utama arah desain masa depan.
Khusus soal keberlanjutan, ia menekankan pendekatan menyeluruh, bukan sekadar tampilan fisik. "Mulai dari pemanfaatan lahan, penghormatan terhadap sinar matahari, angin, curah hujan, pemilihan material, hingga efisiensi energi dan air sehari-hari. Semua itu satu siklus utuh," papar Godfrey.
Bagi dia, keistimewaan Indonesia terletak pada kekayaan budaya dan bentang alam yang beragam. "Sebagai desainer, kami mencari keotentikan, dan di sini begitu banyak hal menginspirasi karya kami," katanya.
Ia melihat peluang besar ke depan, meski tak menampik adanya tantangan. HBA berencana makin mengandalkan tenaga kerja lokal, pemahaman budaya setempat, dan memberdayakan tim dari dalam negeri.
Perusahaan yang telah beroperasi 60 tahun di 27 negara ini terus memperluas ke wilayah baru, dari Eropa Tengah hingga Amerika Latin, sejalan dengan pergeseran pasar pascapandemi.
Dia menilai, teknologi digital juga menjadi tulang punggung kemajuan, karena menghubungkan puluhan studio di seluruh dunia, berbagi gagasan, hingga membangun basis data karya sendiri agar tak mengulang dari nol.
Dia menekankan bahwa HBA menatap masa depan Indonesia dengan optimistis. Godfrey menyebut pihaknya sedang mengkaji perluasan layanan, dari perencanaan wilayah, arsitektur, lanskap, hingga desain pencahayaan dan grafis, guna menjawab kebutuhan pasar hunian bermerek, perhotelan, dan pengembangan kawasan.
"Kami ingin memahami peluang di setiap sudut negeri ini, dan menghadirkan apa yang benar-benar dibutuhkan Indonesia," jelasnya.
(wiw)