Stroke dapat terjadi kapan saja, termasuk ketika seseorang sedang tidur. Kondisi ini kerap tidak disadari hingga penderitanya terbangun dengan wajah tidak simetris, tubuh melemah, atau kesulitan berbicara.
Stroke yang baru diketahui saat seseorang bangun tidur dikenal sebagai wake-up stroke. Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena waktu pasti terjadinya stroke sering kali tidak diketahui. Padahal, semakin cepat pasien mendapatkan penanganan medis, semakin besar peluang untuk mengurangi risiko kerusakan otak dan kecacatan.
Lantas, apa saja gejala stroke saat tidur yang perlu diwaspadai? Berikut penjelasannya:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Stroke saat tidur, apakah bisa terjadi?
Stroke merupakan kondisi medis darurat yang terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu akibat penyumbatan pembuluh darah atau pecahnya pembuluh darah di otak.
Kondisi tersebut dapat terjadi saat seseorang beraktivitas maupun ketika sedang tidur. Pada wake-up stroke, seseorang mungkin tidak mengalami keluhan sebelum tidur, tetapi terbangun dengan gejala yang mengarah pada stroke.
Salah satu tantangan dalam menangani kondisi ini adalah dokter tidak selalu dapat memastikan kapan stroke mulai terjadi. Informasi tersebut penting untuk menentukan jenis penanganan yang paling tepat.
Pada stroke akibat penyumbatan pembuluh darah atau stroke iskemik, misalnya, dokter dapat mempertimbangkan terapi untuk melarutkan bekuan darah atau prosedur untuk mengangkat sumbatan pada pasien yang memenuhi kriteria medis.
Terapi pelarut bekuan darah intravena umumnya diberikan dalam 4,5 jam sejak gejala muncul. Namun, pada pasien wake-up stroke, waktu terakhir diketahui normal sebelum tidur dan hasil pemeriksaan pencitraan otak dapat membantu dokter menentukan kelayakan terapi tertentu.
Karena itu, jangan menunggu gejala membaik dengan sendirinya ketika seseorang terbangun dengan tanda-tanda stroke. Penanganan harus segera dilakukan di rumah sakit.
Penyebab dan faktor risiko stroke saat tidur
Secara umum, penyebab stroke saat tidur tidak berbeda dengan stroke yang terjadi pada waktu lain. Risiko dapat meningkat akibat kondisi medis tertentu maupun kebiasaan sehari-hari yang memengaruhi kesehatan pembuluh darah.
Berikut beberapa faktor risiko stroke yang perlu diperhatikan:
1. Tekanan darah tinggi
Hipertensi dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyumbatan maupun perdarahan di otak.
2. Diabetes
Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko stroke.
3. Penyakit jantung
Sejumlah gangguan jantung dapat meningkatkan kemungkinan terbentuknya bekuan darah yang berisiko menyumbat pembuluh darah otak.
4. Gangguan irama jantung
Atrial fibrilasi atau fibrilasi atrium dapat menyebabkan terbentuknya bekuan darah yang berpotensi memicu stroke.
5. Kolesterol tinggi
Kadar kolesterol yang tidak terkontrol dapat berkontribusi terhadap penumpukan plak pada pembuluh darah.
6. Riwayat stroke sebelumnya
Orang yang pernah mengalami stroke memiliki risiko mengalami stroke kembali.
7. Kebiasaan merokok
Merokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
8. Kurang aktivitas fisik
Gaya hidup sedentari dapat meningkatkan risiko hipertensi, diabetes, dan obesitas yang berkaitan dengan stroke.
9. Gangguan tidur
Obstructive sleep apnea (OSA), yaitu kondisi ketika saluran napas berulang kali menyempit atau tertutup saat tidur, berkaitan dengan peningkatan risiko stroke.
10. Faktor lain
Usia, kelainan pembuluh darah seperti aneurisma otak, penyakit sel sabit, serta kondisi medis tertentu juga dapat memengaruhi risiko stroke.
Selain itu, kehamilan dan penggunaan kontrasepsi hormonal tertentu dapat berkaitan dengan peningkatan risiko stroke pada kelompok tertentu. Besarnya risiko bergantung pada kondisi kesehatan dan faktor lain yang menyertainya.
Meski memiliki satu atau beberapa faktor risiko tersebut, seseorang belum tentu akan mengalami stroke saat tidur. Sebaliknya, stroke juga dapat terjadi pada orang yang sebelumnya merasa sehat.
Gejala stroke saat tidur
Gejala stroke saat tidur pada dasarnya sama dengan stroke yang terjadi ketika seseorang terjaga. Perbedaannya, tanda-tanda tersebut mungkin baru diketahui setelah penderita bangun. Berikut beberapa gejala yang perlu diwaspadai:
1. Wajah tampak tidak simetris
Salah satu sisi wajah terlihat turun, misalnya ketika tersenyum.
2. Lengan atau kaki melemah
Penderita mungkin mengalami kelemahan atau mati rasa pada satu sisi tubuh.
3. Kesulitan berbicara
Ucapan menjadi tidak jelas, sulit menemukan kata-kata, atau penderita kesulitan memahami pembicaraan.
4. Gangguan penglihatan
Penglihatan mendadak kabur, berkurang, atau hilang pada satu maupun kedua mata.
5. Pusing dan kehilangan keseimbangan
Penderita dapat mengalami gangguan koordinasi, sulit berjalan, atau mendadak kehilangan keseimbangan.
6. Kebingungan mendadak
Penderita mungkin kesulitan memahami situasi atau mengikuti instruksi sederhana.
7. Sakit kepala hebat mendadak
Sakit kepala yang muncul tiba-tiba dan terasa sangat berat, terutama jika disertai gejala neurologis lain, dapat menandakan kondisi darurat.
Sebagian penderita juga mungkin mengalami gangguan menelan atau kesulitan mengendalikan buang air kecil. Namun, gejala tersebut tidak spesifik untuk stroke dan perlu dinilai bersama tanda-tanda lainnya.
Gejala stroke dapat muncul secara mendadak dan tidak harus terjadi bersamaan. Karena itu, satu tanda yang muncul tiba-tiba saja sudah cukup menjadi alasan untuk mencari pertolongan medis.
(tis/tis)

