Obat Cacing Bisa Bantu Lawan Kanker Paru-Paru? Ini Studinya

CNN Indonesia
Rabu, 14 Okt 2026 09:00 WIB
Berdasarkan penelitian terbaru, obat cacing mebendazole yang dipadukan dengan obat kanker gefitinib bisa memperlambat pertumbuhan sel kanker paru.
Ilustrasi. Berdasarkan penelitian terbaru, obat cacing mebendazole yang dipadukan dengan obat kanker gefitinib bisa memperlambat pertumbuhan sel kanker paru-paru. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Berdasarkan studi terbaru, perpaduan antara obat cacing dan obat kanker ternyata bisa melawan kanker paru-paru. Penemuan ini berpotensi jadi cara baru penyembuhan kanker.

Dalam uji coba laboratorium, kombinasi dua obat ini bisa mengurangi viabilitas sel kanker yang resistan. Ada pun pada uji coba tikus, perpaduan obat tersebut melambatkan perkembangan tumor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Studi yang dipublikasikan di PLOS One pada 8 Oktober 2026 ini, mencoba menemukan kelemahan pada sel kanker yang sudah resistan terhadap pengobatan, untuk kemudian menekan kelemahan tersebut.

"Pesan yang menarik adalah resistensi obat mungkin tidak membuat sel kanker kebal. Itu mungkin meninggalkan kelemahan yang dapat kita targetkan," kata salah seorang peneliti farmakologi Shakta Mani Satyam, dari RAK Medical and Health Sciences University di Uni Emirat Arab, dilansir ScienceAlert.

Mengapa harus pakai obat cacing?

Obat cacing yang dimaksud dalam penelitian ini, yakni mebendazole. Adapun obat kanker yang jadi perpaduannya dalam studi ini, yaitu gefitinib.

Mengutip Cleveland Clinic, mebendazole merupakan obat antiparasit untuk mengobati infeksi cacing kremi dan parasit lainnya. Biasanya, cacing kremi hidup di usus dan rektum orang yang terinfeksi.

Adapun gefitinib digunakan untuk mengobati kanker paru-paru. Obat ini bekerja dengan cara menghambat protein yang membuat sel kanker tumbuh.

Studi ini fokus pada satu model kanker paru-paru non-sel kecil bermutasi EGFR yang sudah resistan terhadap gefitinib.

EGFR itu sendiri merupakan protein yang memberi sinyal sel untuk tumbuh. Mutasi genetik membuat sinyal ini tetap aktif, sehingga sel terus tumbuh. Obat gefitinib bertugas memblokir protein ini, meski sel yang resistan tetap bisa terus tumbuh.

Nah, mebendazole berperan mengganggu struktur kecil di dalam sel yang mengatur pembelahan dan pemindahan materi.

"Ide kami adalah menyerang kanker dari dua arah secara bersamaan," ucap Satyam.

Obat gefitinib memblokir sinyal pertumbuhan, sedangkan mebendazole mengganggu mesin internal sel dan meningkatkan stres terkait replikasi DNA.

Menurut para peneliti, terganggunya sinyal pertumbuhan dan mesin internal bisa mempersulit sel yang resistan terhadap gefitinib dan terus berlipat ganda.

Mereka melakukan uji lab perpaduan obat tersebut pada sel kanker paru-paru manusia yang resistan. Setelah 3 hari, kombinasi kedua obat bisa menurunkan ukuran sel hingga menjadi sekitar 38 persen.

Adapun konsentrasi mebendazole yang lima kali lebih tinggi bisa mengurangi viabilitas hingga jadi sekitar 30 persen.

Dalam percobaan sel kanker, terdeteksi ada kerusakan DNA. Para peneliti menafsirkan, temuan ini konsisten dengan peningkatan stres terkait replikasi DNA.

Percobaan lain dilakukan pada delapan tikus yang membawa tumor resistan. Setelah 40 hari, tumor butuh 6,2 hari untuk berlipat ganda jika tanpa pengobatan.

Tumor pada tikus yang hanya mendapat mebendazole butuh waktu 10,3 hari, sedangkan gefitinib 15,5 hari. Kalau mebendazole dan gefinitib dipadukan, waktu bagi tumor untuk menggandakan diri jadi lebih panjang, yakni 25 hari.

Tumor belum hilang sepenuhnya

Meski memperlambat durasi penggandaan tumor, perpaduan kedua obat ini belum dapat menghilangkan tumor sepenuhnya.

Di sisi lain, temuan ini masih bersifat praklinis dan hasil dari satu model kanker resistan tidak bisa menentukan bagaimana kanker paru-paru lainnya akan merespons.

Para peneliti juga belum bisa menentukan apakah mebendazole membalikkan resistansi terhadap gefitinib atau menambah kerusakan yang membuat sel resistan kurang mampu bertahan hidup.

"Temuan kami menunjukkan bahwa kombinasi ini melakukan lebih dari sekadar menambah sumber kerusakan lain, tetapi kami belum dapat mengatakan secara pasti bahwa itu sepenuhnya mengembalikan sensitivitas terhadap gefitinib," kata Satyam.

Pemberian obat terhadap manusia juga jadi tantangan lainnya. Soalnya, penyerapan mebendazole setelah ditelan bisa bervariasi, sehingga paparan obat dan dosis yang efektif perlu diteliti lebih lanjut.

(rti)