Anak Suka Jalan Jinjit, Normal atau Tanda Gangguan Perkembangan?

CNN Indonesia
Rabu, 14 Okt 2026 06:45 WIB
Ada beberapa alasan anak berjalan jinjit. Pada sebagian anak, kebiasaan ini muncul saat baru belajar berjalan dan berkurang seiring pertambahan usia.
Ilustrasi. Ada beberapa alasan anak berjalan jinjit. Pada sebagian anak, kebiasaan ini muncul saat baru belajar berjalan dan berkurang seiring pertambahan usia. (iStockphoto/simonkr)
Jakarta, CNN Indonesia --

Melihat anak berjalan jinjit mungkin terasa menggemaskan. Sebagian anak melakukannya saat baru belajar berjalan.

Namun, ada juga anak yang terus berjalan dengan bertumpu pada ujung jari kaki meski usianya bertambah. Apakah hal ini normal atau justru perlu diwaspadai orang tua?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada beberapa alasan anak berjalan jinjit. Pada sebagian anak, kebiasaan ini muncul saat baru belajar berjalan dan bisa berkurang seiring bertambahnya usia.

Mengutip jurnal Current Opinion in Pediatrics, sebagian besar kasus idiopathic toe walking atau berjalan jinjit tanpa penyebab spesifik yang diketahui memang tidak memiliki penyebab yang jelas. Meski begitu, pola berjalan ini juga bisa berkaitan dengan kondisi otot, tendon, atau saraf.

Misalnya, tendon Achilles yang terlalu pendek atau tegang bisa membuat anak kesulitan menapakkan tumit ke lantai saat berjalan. Tendon Achilles adalah jaringan kuat yang menghubungkan otot betis dengan tulang tumit.

Jalan jinjit juga dapat berkaitan dengan kondisi tertentu, seperti cerebral palsy, distrofi otot, atau kelainan pada saraf tulang belakang.

Karena penyebabnya beragam, orang tua tidak perlu langsung menganggap kebiasaan ini sebagai tanda gangguan perkembangan. Perlu dilihat juga apakah ada tanda lain yang menyertainya.

Benarkah anak jalan jinjit karena masalah sensorik?

Ada anggapan bahwa anak berjalan jinjit karena mencari sensasi tertentu atau merasa tidak nyaman saat telapak kakinya menyentuh lantai.

Faktor sensorik memang pernah diteliti. Menukil jurnal Acta Paediatrica, sebagian anak yang berjalan jinjit menunjukkan kesulitan dalam memproses rangsangan sensorik.

Meski begitu, bukti ilmiah yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa masalah sensorik merupakan penyebab umum kebiasaan ini. Tidak semua anak yang berjalan jinjit memiliki masalah sensorik. Kebiasaan ini juga tidak otomatis menandakan adanya gangguan perkembangan.

Jalan jinjit lebih sering ditemukan pada anak autistik. Meski demikian, kebiasaan ini saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak mengalami autisme.

Anak yang berjalan jinjit bisa saja tidak memiliki gangguan perkembangan tertentu. Sebaliknya, jika kebiasaan ini disertai keterlambatan perkembangan atau tanda lain yang mengkhawatirkan, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.

Apakah kebiasaan jalan jinjit bisa hilang sendiri?

Pada sebagian anak, kebiasaan berjalan jinjit dapat berkurang seiring bertambahnya usia. Peluang ini juga dipengaruhi kondisi masing-masing anak, termasuk ada atau tidaknya kekakuan atau pemendekan otot dan tendon.

Penanganan jalan jinjit pada anak juga tidak sama pada masing-masing kasus. Dokter perlu menilai kondisi anak terlebih dahulu untuk menentukan apakah kebiasaan tersebut cukup dipantau atau membutuhkan penanganan tertentu.

Orang tua sebaiknya membawa anak untuk diperiksa jika si kecil terus berjalan jinjit, terutama jika tidak bisa menapakkan tumit ke lantai saat diminta. Perhatikan juga jika anak mulai berjalan jinjit setelah sebelumnya berjalan normal, hanya bertumpu pada ujung jari di satu sisi kaki, atau mengalami kekakuan otot, gangguan keseimbangan, maupun keterlambatan perkembangan.

(anm/asr)