Kanker langka menjadi tantangan tersendiri dalam dunia medis. Selain jumlah kasusnya yang relatif sedikit dibandingkan jenis kanker lain, penyakit ini juga dapat menyulitkan proses diagnosis dan penentuan pengobatan yang tepat.
Riset di Amerika Serikat memperkirakan sekitar satu dari lima diagnosis kanker tergolong sebagai kanker langka. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa pasien dapat mengalami keterlambatan dalam memperoleh diagnosis akurat, mengakses dokter spesialis, hingga mendapatkan pengobatan yang sesuai.
Kondisi ini membuat keahlian spesifik dokter menjadi penting. Penanganan kanker langka sering kali membutuhkan pemeriksaan mendalam untuk memastikan subtipe tumor, sekaligus menentukan pendekatan terapi yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu tantangannya terlihat pada kasus sarkoma, yaitu kanker yang dapat berkembang pada tulang maupun jaringan lunak. Tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam jurnal Pathology pada Februari 2026 menemukan bahwa lima studi yang dianalisis melaporkan perbedaan signifikan antara diagnosis awal dan pendapat kedua (second opinion) dari dokter ahli pada lebih dari 20 persen kasus sarkoma yang ditinjau.
Perbedaan diagnosis tersebut dapat memengaruhi penanganan hingga prognosis pasien. Meski demikian, temuan itu berasal dari populasi dalam studi internasional tertentu sehingga tidak dapat digeneralisasi untuk menggambarkan angka kesalahan diagnosis pada seluruh pasien kanker.
Dokter spesialis onkologi dari OncoCare, Kevin Tay, mengatakan kanker langka termasuk kondisi yang menantang untuk didiagnosis dan ditangani. Pasien juga dapat merasa cemas ketika menghadapi penyakit yang jarang ditemukan.
Menurut dia, kolaborasi antardokter dengan keahlian berbeda dapat membantu proses diagnosis dan penyusunan rencana terapi. Dengan menggabungkan pengalaman para spesialis serta dukungan tim multidisiplin, penanganan dapat disesuaikan dengan karakteristik kanker dan kebutuhan pasien.
Jenis kanker langka yang membutuhkan penanganan khusus
Kanker langka mencakup beragam jenis penyakit dengan karakteristik yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah keganasan hematologi dan limfoma, sarkoma, kanker kulit yang jarang ditemukan, tumor neuroendokrin (neuroendocrine tumours/NET), serta kanker otak.
Setiap jenis kanker tersebut dapat membutuhkan pendekatan diagnosis dan terapi yang berbeda. Karena itu, mengenali karakteristik penyakit dan memperoleh penilaian dari dokter yang berpengalaman menangani jenis kanker terkait dapat menjadi bagian penting dalam menentukan langkah selanjutnya.
Pasien juga dapat mempertimbangkan pendapat kedua dari dokter spesialis, terutama ketika diagnosis masih belum pasti atau pilihan pengobatan membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Namun, kebutuhan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi klinis dan rekomendasi dokter yang menangani pasien.
Untuk mempermudah akses terhadap dokter dengan keahlian khusus, Tamarind Health meluncurkan Rare Cancer Centre pada 30 September 2026, bertepatan dengan Hari Kanker Langka (Rare Cancer Day). Pusat layanan yang berbasis di Singapura ini menghimpun dokter spesialis onkologi dari jaringan Tamarind Health untuk menangani berbagai jenis kanker langka dan kompleks.
Melalui layanan tersebut, pasien dan pendamping dapat memperoleh informasi mengenai kanker langka sekaligus mencari dokter spesialis yang sesuai dengan kondisi mereka. Pasien tidak perlu menghubungi klinik satu per satu untuk mulai menjajaki pilihan konsultasi.
Group CEO Tamarind Health, Lim Eng Seng, mengatakan pembentukan pusat layanan tersebut bertujuan menghubungkan pasien dengan keahlian spesialis yang sesuai, sekaligus mendukung penyusunan rencana pengobatan yang dipersonalisasi.
Dokter spesialis yang tergabung dalam Rare Cancer Centre antara lain Akhil Chopra, Colin Phipps Diong, Foo Kian Fong, Angela Pang, Richard Quek, Tanujaa Rajasekaran, Kevin Tay, Wong Siew Wei, dan Valerie Yang.
Selain layanan bagi pasien, Rare Cancer Centre juga mendukung pertukaran pengetahuan di antara tenaga kesehatan di kawasan regional. Pada 3 Oktober 2026, tiga dokter dari pusat tersebut, yakni Richard Quek, Angela Pang, dan Valerie Yang, memandu webinar mengenai sarkoma untuk berbagi pengetahuan spesialistik dan pengalaman klinis dengan tenaga kesehatan.
(tis/tis)

