Indonesia memiliki banyak situs pemakaman yang tidak hanya menjadi tempat peristirahatan tokoh masa lalu, tetapi juga menyimpan jejak sejarah Islam di Nusantara.
Makam kuno di Indonesia sendiri menjadi salah satu sumber penting untuk melihat bagaimana kehidupan masyarakat pada masa lampau, termasuk perkembangan Islam di berbagai wilayah Nusantara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun sejumlah makam memiliki nilai sejarah yang kuat karena berkaitan dengan tokoh penting dan perkembangan pusat perdagangan pada masanya. Mulai dari Barus di Sumatera Utara hingga Gresik dan Madiun di Jawa Timur, keberadaan makam dan berbagai peninggalannya memberikan gambaran tentang perjalanan Islam serta pertemuan budaya lokal dengan pengaruh dari luar.
1. Makam Tuan Ambar, Sumatera Utara
Di kawasan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, terdapat Makam Tuan Ambar yang menjadi bagian dari tinggalan budaya Islam. Berdasarkan laman Cagar Budaya Sumatera Utara, situs ini berkaitan dengan sejarah Barus sebagai bandar perdagangan internasional yang telah menjadi tempat persinggahan pedagang dari Arab, Persia, India, dan wilayah Asia lainnya.
Makam tersebut memiliki nisan batu dengan bentuk dan ornamen yang menunjukkan perkembangan seni pahat pada masa lalu. Makam ini menjadi bukti perkembangan umat Muslim di Barus.
2. Makam Kuncen, Madiun
Makam Kuncen di Desa Kuncen, Kabupaten Madiun, berkaitan dengan sejarah tokoh-tokoh penting dalam perkembangan wilayah tersebut. Salah satunya adalah Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno atau Pangeran Timur yang menjadi Bupati Madiun pertama pada 1568-1586.
Kompleks makam ini juga berada di dalam satu area bersama dengan Masjid Kuncen. Masjid ini dibangun oleh Pangeran Timur sebagian bagian dari misi dakwahnya.
Kawasan tersebut hingga kini dihormati masyarakat sebagai tempat yang memiliki nilai sejarah dan keagamaan.
3. Makam Siti Fatimah binti Maimun, Gresik
Makam Siti Fatimah binti Maimun, Gresik (Dok. Istimewa via Detikcom) |
Makam Siti Fatimah binti Maimun berada di Desa Leran, Kabupaten Gresik. Berdasarkan informasi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gresik, Siti Fatimah binti Maimun lahir pada 1064 M dan datang ke Jawa untuk menyebarkan ajaran Islam.
Makamnya berada di dalam cungkup berbahan batu kapur. Bentuk bangunannya memiliki pengaruh arsitektur Hindu-Buddha sehingga memperlihatkan pertemuan unsur budaya dalam sejarah Jawa.
Situs ini dikelola sebagai kawasan cagar budaya dan ditetapkan sebagai makam Islam tertua di Asia Tenggara berdasarkan informasi pemerintah daerah yang menjadi sumber artikel.
4. Makam Mbah Wasil, Kediri
Kawasan Setono Gedong di pusat Kota Kediri menjadi lokasi Makam Mbah Wasil atau Syeh Sulaiman Syamsudin Al-Wasil. Makam ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata religi yang didatangi peziarah dari berbagai daerah.
Riwayat Mbah Wasil sendiri masih memiliki sejumlah versi. Salah satu versi menyebutkan ia hidup pada masa Sri Aji Joyoboyo sekitar abad ke-10 atau ke-11, sedangkan versi lainnya menempatkannya pada abad ke-14, sezaman dengan Wali Songo.
Perbedaan informasi tersebut menunjukkan bahwa kajian mengenai identitas Mbah Wasil masih membutuhkan penelusuran literatur sejarah lebih lanjut. Yang jelas, sosok Mbah Wasil dikaitkan dengan penyebaran agama Islam di Kediri.
5. Makam Sultan Malik Al-Saleh, Aceh Utara
Makam Sultan Malik Al-Saleh berada di Desa Beuringin, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Ia dikenal sebagai pendiri Kesultanan Samudera Pasai dan wafat pada 1297 M atau 696 H.
Makam ini memiliki jirat dan nisan berbahan sandstone. Bagian nisannya dihiasi kaligrafi dan relief berciri seni Islam. Inskripsi tersebut memuat penghormatan terhadap Sultan Malik Al-Saleh sebagai sosok yang dikenal pemurah dan ahli ibadah.
Keberadaan makam ini menjadi salah satu bukti penting perkembangan Islam dan perdagangan di kawasan pesisir utara Sumatera. Situs tersebut sekaligus memperlihatkan hubungan antara sejarah kerajaan, perdagangan internasional, dan penyebaran Islam di Nusantara.
(gas/asr)


