Unik! Aliran Sungai di Semarang Ini Hanya Mengalir saat Musim Kemarau

CNN Indonesia
Sabtu, 10 Okt 2026 12:00 WIB
Aliran Kali Odo di Tuntang, Kabupaten Semarang hanya mengalir saat musim kemarau.
Aliran Kali Odo di Tuntang, Kabupaten Semarang hanya mengalir saat musim kemarau. (Ardian Dwi Kurnia/detikJateng)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sungai umumnya akan terus mengalir tak peduli musim apa yang sedang berlangsung. Tapi, hal yang sama tak berlaku bagi salah satu sungai unik di Semarang, Jawa Tengah ini.

Ia adalah Kali Odo, yang berada di Desa Gedangan, Tuntang, Kabupaten Semarang. Mata air di sungai ini hanya mengalir saat musim kemarau panjang dan kering kala musim penghujan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga setempat percaya Kali Odo punya tujuh mata air yang akan mati saat musim penghujan tiba. Hujan yang disertai petir menjadi penandanya.

"Kalau sumbernya orang dulu bilang tujuh tuk (mata air) yang bisa ngeluarin air. Kalau bulan penghujan airnya mati, keluarnya di bulan kemarau aja," ujar pengurus wisata Kali Odo, Agung, melansir detikJateng.

"Begitu ada hujan petir, besoknya kita ke sini [Kali Odo], langsung hilang [airnya]. Surut, benar-benar enggak ada air lagi sama sekali, kering," tambah dia.

Agung mengaku tak tahu mengapa mata air Kali Odo bisa langsung kering saat musim penghujan tiba. Warga, lanjutnya, hanya menganggapnya sebagai salah satu kuasa Tuhan.

Jelang musim kemarau, warga punya tradisi membersihkan sungai. Sampah-sampah yang menumpuk saat sungai kering akan dibersihkan.

Begitu mata air kembali mengucur saat kemarau, warga selalu menggelar sadranan atau semacam ritual rasa syukur karena air yang kembali mengalir.

Fenomena tidak lazim

Guru Besar Keairan Teknik Sipil Universitas Diponegoro Profesor Ign Sriyana mengatakan, fenomena itu terjadi lantaran anomali hidrologi. Fenomena seperti itu sebenarnya tidak lazim ditemui.

"Dari hasil pantauan di lapangan, terjadi fenomena yang tidak lazim. Di mana pada saat musim hujan, volume air tanah tersebut airnya mengecil, bahkan tidak mengalir. Namun, alirannya justru membesar saat musim kemarau," jelas Sriyana.

Ada beberapa faktor yang dapat menciptakan anomali hidrologi. Dugaannya adalah pengaruh waktu jeda aliran atau lag time.

Air hujan, lanjut Sriyana, memerlukan waktu untuk meresap dan melakukan infiltrasi melewati zona tidak jenuh air, sebelum akhirnya mencapai zona jenuh air atau akuifer. Istilah terakhir merupakan lapisan tanah atau batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan air dalam jumlah besar.

Ada dua jenis akuifer, yakni akuifer atas yang dekat dengan permukaan tanah dan akuifer dalam yang berada di bawah lapisan kedap air.

Saat musim penghujan, air baru mulai meresap di dalam tanah, tapi tidak bisa langsung mencapai akuifer dalam. Penyebabnya, menurut Sriyana, bisa disebabkan oleh konduktivitas hidrolik lapisan tanah atas yang cenderung lambat.

Proses air hujan tiba hingga ke lapisan akuifer dalam bisa saja selesai saat musim kemarau tiba. Hal inilah, yang menurut Sriyana, membuat mata air baru mengalir saat musim kemarau.

"Saat musim kemarau, air yang meresap selama berbulan-bulan sepanjang musim hujan baru saja tiba dan berkumpul di lapisan akuifer tertekan. Akibatnya, debit atau aliran air tanah justru memuncak saat di permukaan sudah memasuki musim kemarau," jelas dia.

(asr)