Si Kecil Marah? Ucapkan 6 Kalimat Ini untuk Menenangkannya

CNN Indonesia
Rabu, 14 Okt 2026 20:00 WIB
Jangan ikut emosi ketika menghadapi anak marah. Ketimbang membentak balik, coba ucapkan satu dari enam kalimat ini yang ampuh redakan amarah anak.
Ilustrasi. Jangan ikut emosi ketika menghadapi anak marah. Ketimbang membentak balik, coba ucapkan satu dari enam kalimat ini yang ampuh redakan amarah anak. (Istockphoto/Lovleah)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Menghadapi anak marah bisa membuat orang tua ikut merasa kesal atau bingung harus berkata apa. Kalimat seperti "sabar," "tenang," atau "jangan emosi," terkadang tidak membantu sama sekali.

Anak perlu didengarkan dan diyakinkan bahwa emosinya bisa diterima, meski perilakunya tetap perlu diarahkan. Validasi perasaan dapat membuat anak merasa aman, sehingga ia lebih siap untuk menenangkan diri dan berkomunikasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jadi, coba gunakan enam kalimat berikut saat anak sedang marah atau kecewa, ketimbang membentak balik Si Kecil.

1. "Mama/Papa paham kamu sedang kesal."

Menyebutkan emosi yang terlihat, bisa bantu anak mengenali apa yang sedang ia rasakan. Ucapkan kalimat ini dengan nada tenang, tanpa buru-buru menyalahkan atau memperbaiki situasi.

"Ketika mereka merasa diperhatikan alih-alih dikoreksi, tubuh mereka menerima pesan bahwa mereka aman, dan rasa aman itulah yang memungkinkan sistem saraf mereka tenang," kata Samantha Stiles, terapis okupasi pediatri berbasis di Florida, AS, seperti dilansir Upworthy.

Setelah itu, beri anak waktu untuk memproses perasaannya. Jika ia belum siap bicara, dampingi tanpa memaksanya menjelaskan semuanya.

2. "Wajar kalau kamu merasa kecewa."

Menurut CNBC Make It, anak usia sekolah mulai merasakan emosi yang lebih kompleks, tetapi belum tentu yakin apakah perasaannya boleh muncul.

Katakan bahwa kecewa, sedih, atau marah merupakan hal wajar. Namun bukan berarti semua tindakan saat marah bisa dibenarkan. Orang tua tetap dapat menetapkan batasan, misalnya, "Kamu boleh kesal, tetapi tidak boleh memukul."

3. "Kita memang tidak bisa melakukan itu, tapi bagaimana kalau coba ini?"

Menurut Motherly, kalimat ini berguna ketika anak marah karena rencana atau keinginannya tidak bisa dipenuhi. Misalnya, acara bermain bersama teman batal.

Validasi terlebih dahulu bahwa ia kecewa, lalu ajak mencari alternatif yang masih menyenangkan, berkomunikasi dengan teman melalui panggilan video atau menjadwalkan ulang pertemuan.

Tawarkan pilihan yang sesuai usia anak, tetapi biarkan ia ikut menyumbangkan ide. Solusi pengganti pun tidak harus sempurna. Yang penting, anak merasa dibantu mencari jalan keluar, bukan sekadar ditolak.

4. "Perasaanmu wajar, kok. Coba cerita apa yang bikin kamu marah."

"Sebelum beralih ke hal-hal yang menyenangkan, kenali apa yang membuat anak Anda merasa sedih dan validasi perasaan mereka," ujar psikolog klinis Jaclyn Shlisky, yang berbasis di Florida AS, dikutip dari laman Parents.

Dengarkan ceritanya sampai selesai dan hindari mengecilkan masalah dengan berkata, "Itu bukan masalah besar."

Memvalidasi perasaan bukan berarti orang tua harus selalu sepakat dengan sudut pandang anak. Artinya, orang tua mengakui bahwa pengalaman tersebut terasa nyata baginya.

5. "Coba sampaikan lagi dengan suara yang lebih pelan"

Anak kadang merengek atau berbicara keras tanpa menyadari nada suaranya. Daripada langsung membentak balik, minta ia mengulang perkataannya dengan suara yang lebih tenang.

Ucapkan secara lembut dan tunjukkan orang tua tetap bersedia mendengarkan. Kalimat ini mengajarkan bahwa cara menyampaikan keinginan secara baik-baik juga penting.

6. "Mama/Papa paham. Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan?"

Kalau anak terus mengeluh tentang masalah yang sama, ajak ia memikirkan solusi. Tanyakan dengan rasa ingin tahu, bukan dengan nada menyindir.

Terima ide-idenya terlebih dahulu, meski terdengar lucu atau belum realistis, lalu bantu Si Kecil memilih langkah yang aman dan mungkin dilakukan.

Cara ini memberi anak kesempatan untuk berlatih memecahkan masalah. Ia tidak hanya merasa didengar, tetapi juga belajar mengambil bagian dalam mencari jalan keluar.

Jadi, saat anak marah, usahakan tetap tenang dan pilih kalimat yang menunjukkan perasaannya valid. Beri ruang untuk berbicara, sambil tetap menjaga batas perilaku yang aman.

(rti)