Dokter Ingatkan Fibrilasi Atrium Tanpa Gejala Tetap Berisiko Stroke

Brawijaya Hospital | CNN Indonesia
Minggu, 04 Okt 2026 14:07 WIB
ilustrasi jantung
(Foto: iStockphoto/magicmine)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dokter Peringatkan Fibrilasi Atrium Tanpa Gejala dapat Picu Stroke

Gangguan irama jantung atau aritmia perlu mendapat perhatian karena penyakit jantung kerap hanya dikaitkan dengan penyempitan pembuluh darah koroner, serangan jantung, atau pemasangan stent.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Kardiovaskular Brawijaya Hospital Saharjo, dr. Simon Salim, mengatakan salah satu aritmia yang paling sering ditemukan adalah fibrilasi atrium (atrial fibrillation/AF). Kondisi ini membuat irama jantung tidak teratur dan dapat terjadi pada siapa saja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masalah pada jantung tidak hanya berkaitan dengan aliran darah. Irama jantung juga dapat mengalami gangguan, yang dikenal sebagai aritmia," katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu (3/10).

Risiko fibrilasi atrium meningkat seiring bertambahnya usia. Studi Framingham menunjukkan bahwa setelah usia 50 tahun, risikonya dapat meningkat sekitar dua kali lipat setiap bertambah 10 tahun.

Hampir 10 persen orang yang mencapai usia 80 tahun diperkirakan dapat mengalami fibrilasi atrium. Selain usia, tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes, gagal jantung, penyakit jantung struktural, sleep apnea, dan konsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risiko.

Sebagian orang merasakan jantung berdebar, denyut jantung tidak teratur, mudah lelah, sesak, atau kemampuan beraktivitas yang menurun. Namun, ada pula yang tidak merasakan keluhan apa pun dan baru mengetahuinya saat menjalani pemeriksaan jantung untuk alasan lain.

"Meski tidak menimbulkan keluhan, fibrilasi atrium tetap perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko stroke," ujar dr. Simon.

Irama jantung yang tidak teratur dapat membuat aliran darah di dalam jantung kurang lancar sehingga bekuan darah lebih mudah terbentuk. Jika bekuan itu terlepas dan terbawa ke pembuluh darah otak, aliran darah ke otak dapat tersumbat dan menyebabkan stroke.

Maka dari itu, pencegahan stroke menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan pasien fibrilasi atrium.

"Tidak semua kasus fibrilasi atrium dapat dicegah. Namun, banyak faktor yang meningkatkan risiko fibrilasi atrium dapat dimodifikasi," tegas dr. Simon.

Pada orang yang sudah mengalami fibrilasi atrium, pengelolaan faktor-faktor risiko dapat membantu mengurangi kekambuhan dan beban fibrilasi atrium. Pedoman ESC 2024 menempatkan pengelolaan faktor risiko dan penyakit penyerta sebagai bagian penting dalam penanganannya.

Oleh karena itu, menjaga kesehatan jantung bukan hanya penting untuk mencegah penyakit pembuluh darah, tetapi juga untuk menjaga irama jantung. Simon memaparkan delapan pilar yang dapat dijalankan, yaitu pola makan sehat, aktivitas fisik, berhenti merokok, tidur cukup, menjaga berat badan, serta mengendalikan kolesterol, gula darah, dan tekanan darah.

Pola makan sehat dilakukan dengan memperbanyak sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sumber protein sehat seperti ikan. Garam, gula tambahan, lemak jenuh, makanan olahan, minuman manis, dan alkohol perlu dibatasi.

American Heart Association (AHA) menganjurkan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang setidaknya 150 menit atau intensitas berat 75 menit setiap minggu. Latihan kekuatan dianjurkan minimal dua kali seminggu, sedangkan berjalan kaki dan mengurangi waktu duduk juga termasuk kebiasaan aktif.

Merokok dan produk nikotin dapat meningkatkan tekanan darah, denyut jantung, serta risiko penyakit kardiovaskular. Bagi yang sulit berhenti merokok, dukungan tenaga kesehatan dapat dicari.

Orang dewasa sebaiknya tidur sekitar 7-9 jam setiap malam. Selain durasi, kualitas tidur juga penting, antara lain dengan waktu tidur dan bangun yang teratur serta mengurangi penggunaan layar sebelum tidur.

Pada pasien fibrilasi atrium, gangguan tidur seperti sleep apnea perlu diperhatikan. Tandanya antara lain dengkuran keras, sering terbangun saat tidur, atau mengantuk berlebihan pada siang hari.

Kelebihan berat badan dan obesitas dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium. Pedoman ESC 2024 merekomendasikan penurunan berat badan setidaknya 10 persen pada pasien fibrilasi atrium yang mengalami kondisi tersebut.

Tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko penting fibrilasi atrium sehingga tekanan darah perlu diperiksa berkala. Bila diperlukan, obat tekanan darah dikonsumsi teratur sesuai anjuran dokter.

Kadar kolesterol dan gula darah juga perlu dijaga tetap terkendali. Pada orang dengan diabetes, pemantauan gula darah dan penggunaan obat sesuai anjuran dokter penting untuk mengurangi risiko komplikasi kardiovaskular.

Menurut Simon, delapan pilar itu tidak harus dijalankan sekaligus. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Ia menyebut tidak perlu menunggu munculnya keluhan atau diagnosis penyakit jantung untuk mulai memperhatikan pola makan, aktivitas fisik, tidur, berat badan, maupun faktor kesehatan lainnya.

"Menjaga jantung tidak selalu dimulai dari ruang pemeriksaan. Sering kali, langkah pertamanya justru dimulai dari kebiasaan yang kita lakukan setiap hari," pungkas Simon.

(inh)