Rumah selalu dibersihkan, tangan anak berkali-kali dicuci, bermain tanah dilarang, dan benda yang jatuh ke lantai langsung dibersihkan.
Menjaga kebersihan tentu penting untuk melindungi anak dari berbagai penyakit. Namun, benarkah anak yang tumbuh di lingkungan terlalu bersih justru lebih mudah sakit?
Pertanyaan ini berkaitan dengan hygiene hypothesis, sebuah teori yang mencoba menjelaskan hubungan antara berkurangnya paparan mikroorganisme pada masa awal kehidupan dan meningkatnya risiko penyakit alergi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa interaksi dengan berbagai mikroorganisme sejak awal kehidupan berperan dalam perkembangan sistem imun dan berkaitan dengan risiko sejumlah penyakit, terutama alergi dan autoimun. Meski demikian, bukan berarti anak perlu sengaja dibiarkan kotor atau terpapar kuman agar sistem imunnya menjadi kuat.
Sistem imun anak belajar dari lingkungan
Melansir Nature Reviews Immunology, masa awal kehidupan merupakan periode penting dalam perkembangan sistem imun. Pada fase ini, mikrobiota atau kumpulan mikroorganisme yang hidup di dalam tubuh, terutama di usus, terus berinteraksi dengan sistem imun yang sedang berkembang.
Pembentukan mikrobiota dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk lingkungan, pola makan, dan berbagai kondisi lainnya. Perubahan komposisi mikrobiota pada masa awal kehidupan juga dikaitkan dengan sejumlah kondisi yang berhubungan dengan sistem imun, terutama penyakit alergi.
Artinya, tubuh anak tidak berkembang dalam lingkungan yang steril. Sejak awal kehidupan, sistem imun terus berinteraksi dengan mikroorganisme yang ada di lingkungan maupun di dalam tubuh.
Karena itu, perhatian peneliti bukan sekadar pada apakah anak sering terpapar kuman atau tidak. Yang juga penting adalah jenis dan keragaman mikroorganisme yang berinteraksi dengan tubuh.
Bukan berarti semakin banyak kuman, semakin kuat imun
Hal yang menjadi perhatian adalah paparan terhadap mikroorganisme yang beragam secara alami, terutama pada masa awal kehidupan. Tinjauan yang diterbitkan di Nature Reviews Immunology pada 2025 membahas hubungan antara keragaman mikroba dan risiko sejumlah penyakit inflamasi, termasuk alergi dan autoimun.
Meski demikian, hubungan tersebut masih terus diteliti. Temuan ini juga tidak dapat diartikan bahwa lingkungan yang bersih secara langsung menyebabkan anak lebih mudah sakit.
Dengan kata lain, hygiene hypothesis bukan alasan untuk mengabaikan kebersihan. Teori tersebut lebih banyak membahas bagaimana perubahan pola hidup dan lingkungan dapat memengaruhi interaksi tubuh dengan mikroorganisme.
Bagaimana dengan anak yang sering bermain di alam?
Mengutip New England Journal of Medicine, anak yang terpapar mikroorganisme lingkungan yang lebih beragam memiliki risiko asma dan atopi yang lebih rendah. Temuan tersebut menjadi salah satu bukti penting dalam pembahasan mengenai hubungan antara lingkungan, mikrobiota, dan perkembangan sistem imun.
Namun, bukan berarti anak harus tinggal di peternakan atau sengaja bermain di lingkungan yang kotor. Yang menjadi perhatian adalah keragaman mikroorganisme yang ditemui anak secara alami di lingkungan sekitarnya.
Karena itu, anak tetap perlu diberi kesempatan untuk bermain dan berinteraksi dengan lingkungan secara wajar. Pada saat yang sama, kebersihan tetap harus dijaga.
Mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan dan air, memastikan sanitasi yang baik, serta memberikan vaksinasi tetap penting untuk melindungi anak dari mikroorganisme penyebab penyakit.
Orang tua tidak perlu memilih antara rumah yang supersteril atau membiarkan anak bebas bermain tanpa memperhatikan kebersihan. Pendekatan yang lebih tepat adalah melindungi anak dari paparan patogen yang berbahaya, sembari tidak membatasi interaksinya dengan lingkungan secara berlebihan.
(anm/tis)

