Apa yang Terjadi pada Otak Saat Mengalami Trauma? Ini Kata Sains

CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 08:18 WIB
Apa yang terjadi pada otak saat mengalami trauma?
Ilustrasi. Trauma memengaruhi otak. Beberapa bagian otak turut terdampak sehingga sensasi baik berupa suara, aroma, sentuhan bisa memicu rasa tak nyaman akan pengalaman traumatis meski sudah lama berlalu. (Pexels.com/https://kaboompics.com/)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengalaman traumatis bisa meninggalkan rasa takut yang bertahan lama. Bagi sebagian orang, suara, tempat, atau situasi tertentu bahkan dapat memunculkan kembali sensasi saat kejadian tersebut berlangsung. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi di otak ketika seseorang mengalami trauma?

Trauma tidak otomatis berarti otak seseorang rusak atau ia pasti mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD). Sebagian besar orang yang mengalami peristiwa traumatis dapat mengalami tekanan emosional sementara dan kemudian pulih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada sebagian orang, pengalaman tersebut memang dapat berkembang menjadi PTSD. Kondisi ini berkaitan dengan cara otak memproses ancaman, mengelola memori, mengatur emosi, dan merespons stres.

Otak menjadi lebih siaga terhadap ancaman

Studi yang diterbitkan di Nature Review Neuroscience menyebut ketika menghadapi sesuatu yang dianggap mengancam, tubuh secara otomatis mengaktifkan sistem respons stres. Salah satu bagian otak yang berperan penting dalam proses ini adalah amigdala.

Amigdala membantu otak mengenali ancaman dan memproses rasa takut. Pada orang dengan PTSD, respons amigdala terhadap stimulus yang berkaitan dengan ancaman atau trauma ditemukan lebih tinggi.

Sederhananya, sistem alarm di otak menjadi lebih sensitif. Hal ini dapat membuat seseorang lebih mudah terkejut ketika mendengar suara keras, terus merasa waspada, atau menganggap situasi tertentu sebagai ancaman meski sebenarnya sudah berada dalam kondisi aman.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menggambarkan kondisi tersebut sebagai persistent perception of heightened current threat, atau persepsi bahwa ancaman masih terus ada.

Kemudian bagian otak lain yang ikut berperan adalah hippocampus. Bagian ini memiliki fungsi penting dalam pembentukan dan pengelolaan memori, termasuk memberikan konteks pada sebuah pengalaman.

Hippocampus membantu otak memahami apa yang terjadi, di mana kejadiannya, dan kapan peristiwa tersebut berlangsung.

Pada orang dengan PTSD, adanya perbedaan struktur dan fungsi hippocampus. Beberapa penelitian juga menemukan volume hippocampus yang lebih kecil pada kelompok dengan PTSD.

Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti trauma secara langsung menyebabkan hippocampus mengecil. Perubahan tersebut bisa berkaitan dengan pengalaman trauma dan stres, faktor risiko yang sudah ada sebelum trauma, atau kombinasi keduanya.

Sistem 'alarm' dan 'rem' otak

Apa yang terjadi pada otak saat mengalami trauma?Ilustrasi. Pada orang yang PTSD, ada beberapa bagian otak yang terdampak trauma. (Pexels.com/Liza)

Kalau amigdala dapat dibayangkan sebagai sistem alarm, maka bagian tertentu dari otak, korteks prefrontal berperan membantu mengatur respons tersebut.

Korteks prefrontal adalah bagian otak yang berada di bagian depan dan banyak berperan dalam mengatur emosi, mengambil keputusan, serta membantu seseorang menilai suatu situasi.

Bagian ini, terutama area medialnya juga atau dekat garis tengah otak berfungsi untuk mengevaluasi dan mengendalikan respons terhadap ancaman.

Gambaran sederhananya seperti ini, amigdala memberi sinyal, "Ada bahaya!" Sementara korteks prefrontal membantu otak mengecek kembali, "Tunggu, apakah kita benar-benar sedang dalam bahaya?".

Pada PTSD, keseimbangan antara sistem yang mendeteksi ancaman dan sistem yang membantu mengatur respons tersebut dapat berubah. Itulah mengapa seseorang bisa tetap merasa terancam meski situasi yang memicu rasa takut sebenarnya sudah berlalu.

Trauma pengaruhi sistem stres tubuh

Perubahan akibat trauma tidak hanya terjadi pada bagian-bagian otak. Sistem kimia yang mengatur respons stres juga ikut berperan.

Mengutip studi yang diterbitkan di Neurobiologi, trauma menunjukkan traumatic stress dapat memengaruhi sistem yang melibatkan hormon kortisol dan neurotransmiter seperti noradrenalin, atau hormon yang punya peran penting untuk punya sinyal lawan atau lari. Perubahan ini kemudian dapat memengaruhi bagaimana tubuh merespons stres berikutnya.

Efeknya bisa terasa dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat mengalami jantung berdebar, tubuh terasa tegang, lebih mudah terkejut, sulit tidur, sulit berkonsentrasi, atau merasa harus terus waspada terhadap lingkungan sekitar.

WHO juga memasukkan kewaspadaan berlebihan, gangguan tidur, serta respons terkejut yang berlebihan sebagai bagian dari gambaran PTSD.

Kenapa trauma bisa terasa seperti terjadi lagi?

Salah satu pengalaman yang sering dikaitkan dengan PTSD adalah flashback. Seseorang dapat tiba-tiba mengalami kembali ingatan traumatis, mimpi buruk, atau sensasi seolah-olah peristiwa tersebut sedang terjadi lagi.

WHO menjelaskan bahwa ketika mengalami flashback, seseorang bahkan dapat untuk sementara merasa dan bertindak seolah-olah peristiwa traumatis tersebut sedang berlangsung kembali.

Hal ini bukan berarti otak menyimpan trauma seperti sebuah video yang kemudian diputar ulang. Prosesnya jauh lebih kompleks.

Memori, respons takut, konteks suatu kejadian, dan sistem stres saling berinteraksi. Pemicu tertentu kemudian dapat mengaktifkan kembali respons yang sangat mirip dengan respons ketika ancaman pertama kali terjadi.

Oleh karena itu, suara, bau, tempat, atau situasi tertentu bisa memunculkan reaksi emosional yang terasa sangat kuat, meski peristiwa aslinya sudah lama berlalu.

Trauma tidak otomatis menjadi PTSD, trauma merujuk pada pengalaman atau peristiwa yang sangat mengancam atau menyakitkan. Sementara PTSD merupakan gangguan mental yang dapat berkembang setelah seseorang mengalami trauma.

(anm/els)