Liburan tidak hanya menjadi waktu untuk bersantai dan bepergian. Mengambil jeda dari rutinitas secara berkala juga dapat membantu proses pemulihan tubuh dan pikiran yang bekerja setiap hari.
Sebuah editorial yang diterbitkan dalam jurnal medis Cureus membahas pentingnya frekuensi liburan untuk menjaga kesejahteraan dan kinerja pekerja.
Editorial berjudul Maximizing Recovery: The Superiority of Frequent Vacations for Well-Being and Performance tersebut ditulis oleh Selvaraj Giridharan dan Bhuvana Pandiyan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artikel tersebut membahas sejumlah penelitian sebelumnya mengenai hubungan antara liburan, pemulihan, stres, dan kinerja.
Dalam pembahasannya, penulis menjelaskan bahwa pekerjaan dengan tuntutan tinggi dapat menguras sumber daya fisik dan psikologis.
Jika tidak diselingi waktu pemulihan, tekanan tersebut dapat menumpuk dan berkontribusi terhadap kelelahan, stres, hingga penurunan produktivitas.
Salah satu konsep yang digunakan adalah effort-recovery theory. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang membutuhkan periode pemulihan setelah mengeluarkan tenaga dan menghadapi tuntutan pekerjaan.
Oleh karena itu, liburan menjadi salah satu cara untuk memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk memulihkan diri.
Sejumlah penelitian menuliskan manfaat liburan terhadap kesejahteraan. Salah satunya adalah meta-analisis yang menggabungkan 22 penelitian dan menemukan adanya penurunan kelelahan serta peningkatan suasana hati dan kepuasan hidup setelah berlibur.
Meta-analisis lain yang mencakup 54 penelitian juga menemukan sejumlah manfaat fisiologis, termasuk perubahan pada kadar kortisol, kualitas tidur, dan variabilitas detak jantung.
Namun, manfaat liburan tidak selalu bertahan lama. Penulis mengutip penelitian terhadap 54 pekerja yang menjalani liburan rata-rata selama 23 hari.
Kesehatan dan kesejahteraan peserta mencapai puncaknya sekitar hari kedelapan, tetapi manfaat tersebut kembali menurun setelah mereka kembali bekerja. Kondisi ini disebut sebagai fade-out effect.
Karena itu, penulis menilai liburan yang lebih sering dan berdurasi lebih singkat dapat menjadi salah satu strategi untuk menjaga proses pemulihan sepanjang tahun.
Dalam bagian rekomendasi, mereka menyarankan agar seseorang menjadwalkan liburan singkat setiap dua bulan untuk membantu mencegah penumpukan stres.
Meski demikian, rekomendasi tersebut bukan berarti seseorang secara medis wajib berlibur tepat setiap dua bulan. Selain mengambil jeda, kualitas liburan juga dianggap penting.
Penulis menekankan perlunya benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan, termasuk mengurangi komunikasi terkait pekerjaan. Aktivitas seperti berolahraga, menikmati alam, melakukan hobi, atau kegiatan budaya juga disebut dapat membantu proses pemulihan.
(dsd/wiw)