Tak Cuma Bikin Melek, Ini 5 Fakta tentang Kopi yang Jarang Diketahui

CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 06:45 WIB
Fakta menarik tentang kopi.
Ilustrasi. Ada beberapa fakta menarik tentang kopi yang masih jarang diketahui. (eliasfalla/Pixabay)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Bagi kamu pecinta kopi, mungkin sudah akrab dengan ritual menyeruput kopi di pagi hari, saat bekerja, atau ketika butuh teman untuk begadang. Tapi, pernah sadar enggak sih kalau secangkir kopi ternyata bisa melakukan lebih banyak hal di dalam tubuh?

Selama ini kopi memang identik dengan kafein dan efeknya yang bikin mata lebih melek. Ternyata, kopi juga mengandung banyak senyawa lain yang dapat berinteraksi dengan tubuh, bahkan sampai memengaruhi bakteri di dalam usus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah penelitian pun menemukan fakta-fakta menarik yang mungkin belum banyak diketahui para pencinta kopi.

Bertepatan dengan momen Hari Kopi Internasional pada Kamis (1/10), yuk simak beberapa fakta menarik tentang kopi yang masih jarang diketahui berikut ini.

1. Kopi ternyata bisa mengubah bakteri di usus

Ternyata, kopi bukan cuma bekerja di otak ketika diminum. Minuman ini juga berkaitan dengan perubahan mikrobioma, yakni kumpulan mikroorganisme yang hidup di dalam saluran pencernaan.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications membandingkan orang yang rutin minum kopi dengan mereka yang tidak mengonsumsinya. Kelompok yang biasa minum kopi kemudian diminta berhenti mengonsumsi kopi selama dua minggu.

Hasilnya, konsumsi kopi berkaitan dengan perbedaan komposisi mikrobioma usus. Ketika konsumsi kopi dihentikan, sejumlah perubahan pada mikrobioma dan metabolit juga ikut berubah. Setelah kopi kembali diminum, beberapa perubahan tersebut kembali muncul.

2. Minum kopi dikaitkan dengan risiko demensia yang lebih rendah

Kalau selama ini kopi dikenal sebagai minuman untuk menemani bekerja, penelitian juga melihat kaitannya dengan kesehatan otak dalam jangka panjang.

Melansir Harvard Health Publishing, orang yang minum sekitar 2,5 cangkir kopi berkafein per hari memiliki risiko demensia 18 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang minum sedikit atau tidak minum kopi. Kelompok ini juga mengalami penurunan kemampuan kognitif yang lebih sedikit.

Meski terdengar menarik, temuan ini perlu dibaca dengan hati-hati. Penelitian tersebut memang menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi kopi dan risiko demensia, bukan membuktikan bahwa minum kopi secara langsung dapat mencegah demensia.

3. Baru minum kopi, kok langsung ingin BAB? Ini faktanya

[Gambas:Video CNN]

Mungkin kamu pernah mengalaminya. Baru beberapa teguk kopi masuk, tiba-tiba muncul keinginan untuk pergi ke toilet. Buat sebagian orang, minum kopi dan ingin buang air besar seperti sudah menjadi satu paket.

Faktanya, respons tersebut bukan sekadar candaan. Penelitian yang dipublikasikan dalam European Journal of Gastroenterology & Hepatology menunjukkan, kopi dapat meningkatkan aktivitas gerakan usus atau motilitas kolon. Peneliti menemukan, kopi dapat meningkatkan aktivitas bagian akhir usus besar pada sebagian peserta. Respons tersebut bahkan muncul sekitar empat menit setelah minum kopi.

Menariknya, efek serupa juga ditemukan pada kopi decaf atau kopi yang sebagian besar kafeinnya sudah dihilangkan. Jadi, dorongan untuk BAB setelah minum kopi tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh kafein.

Para peneliti menduga, respons tersebut berkaitan dengan mekanisme gastrocolic, yaitu ketika aktivitas di saluran pencernaan memicu gerakan usus besar. Hormon dan sinyal saraf diduga ikut terlibat, meski mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.

4. Respons tubuh terhadap kopi ternyata bisa dipengaruhi gen

Pernah bertanya-tanya kenapa ada orang yang bisa minum kopi malam-malam dan tetap tidur nyenyak, sementara orang lain baru minum sedikit saja sudah sulit memejamkan mata? Salah satu faktornya ternyata bisa berasal dari gen.

Faktor genetik ikut berperan dalam bagaimana tubuh seseorang memproses dan merespons kafein. Jadi, respons tubuh terhadap kopi memang bisa berbeda antara satu orang dan lainnya. Ada yang masih bisa menyeruput kopi sore hari tanpa masalah, sementara ada yang merasa efeknya sampai malam.

Meski begitu, gen bukan satu-satunya faktor yang menentukan. Jumlah kafein yang diminum, waktu konsumsi, kebiasaan minum kopi, usia, dan sensitivitas tubuh juga dapat memengaruhi respons seseorang.

5. Kopi ternyata punya lebih dari 1.000 senyawa kimia

Ilustrasi biji kopiIlustrasi. Kopi mengandung banyak senyawa kimia aktif. (Padurariu Alexandru)

Kalau selama ini kita menganggap kopi hanya soal kafein, ternyata ceritanya jauh lebih panjang. Mengutip The Washington Post, kopi mengandung lebih dari 1.000 senyawa kimia. Banyak di antaranya bersifat aktif secara biologis dan dapat berinteraksi dengan tubuh.

Selain kafein, kopi juga mengandung berbagai senyawa seperti polifenol serta sejumlah zat gizi, termasuk magnesium, kalium, niasin, dan vitamin B. Karena itu, efek kopi terhadap tubuh tidak selalu bisa dijelaskan hanya dari kandungan kafeinnya.

Jadi, secangkir kopi yang menemani pagi kamu ternyata jauh lebih kompleks dari sekadar minuman yang bikin melek. Di dalamnya ada ribuan senyawa yang dapat berinteraksi dengan tubuh dengan cara yang berbeda-beda.

(anm/asr)