Penyakit flu atau influenza kerap dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan yang dapat sembuh dengan sendirinya tanpa penanganan medis khusus.
Namun, di balik persepsi tersebut, masyarakat diimbau untuk mewaspadai ancaman infeksi Influenza A yang jauh lebih berbahaya dan berpotensi memicu komplikasi fatal seperti pneumonia, gagal napas, hingga kematian.
Organisasi kesehatan mencatat influenza sebagai salah satu ancaman kesehatan masyarakat global yang paling konsisten. Setiap tahunnya, terjadi sekitar satu miliar kasus flu musiman di seluruh dunia, dengan 3 hingga 5 juta di antaranya tergolong kasus berat, serta menyebabkan 290 ribu hingga 650 ribu kematian akibat gangguan pernapasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara medis, virus influenza diklasifikasikan menjadi empat tipe utama berdasarkan karakteristik protein internalnya, yakni tipe A, B, C, dan D. Dari keempat varian tersebut, Influenza A dan B menjadi penyebab utama epidemi musiman. Kendati demikian, Influenza A mendapatkan perhatian khusus dari para ahli kesehatan karena memiliki potensi memicu pandemi global.
Hal ini disebabkan oleh kemampuan Influenza A untuk berevolusi secara agresif melalui mekanisme antigenic shift dan drift, serta kemampuannya menyeberang dari hewan ke manusia.
Melansir bblabkesmasmakassar.go.id, penamaan varian Influenza A sendiri didasarkan pada dua protein kunci di permukaannya, yaitu Hemagglutinin (H) dan Neuraminidase (N), yang menentukan cara virus menginfeksi dan menyebar antar-sel tubuh.
Penularan Influenza A terjadi secara cepat melalui percikan liur (droplet) saat penderita berbicara, batuk, atau bersin. Selain penularan udara, menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi seperti gagang pintu, meja, maupun ponsel, lalu mengusap area wajah juga menjadi jalur utama penyebaran virus.
Risiko penularan ini makin meningkat di tengah kerumunan atau ruangan tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk.
Gejala Influenza A
Gejala infeksi umumnya mulai muncul satu hingga empat hari setelah terpapar dan berlangsung selama kurang lebih satu minggu.
Hal yang perlu diwaspadai adalah penderita sudah dapat menularkan virus satu hari sebelum gejala klinis muncul hingga lima sampai tujuh hari setelahnya. Akibatnya, individu yang tampak sehat sekalipun tetap berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan sekitar.
Perbedaan Flu Biasa dan Influenza A
Tantangan utama dalam mengenali Influenza A terletak pada kemiripan gejalanya dengan infeksi saluran pernapasan biasa pada tahap awal. Namun, perbedaan mendasar dapat dilihat dari kecepatan dan intensitas kemunculannya.
Jika flu biasa berkembang secara perlahan dalam satu hingga dua hari dengan gejala ringan, Influenza A ditandai dengan serangan akut yang mendadak dan intens, di mana penderita sering mengibaratkan kondisinya seperti mendadak tertabrak beban berat.
Gejala khas Influenza A meliputi demam tinggi mendadak yang mencapai 38 hingga 40 derajat Celsius, nyeri otot dan sendi yang berat terutama di area punggung dan anggota gerak, sakit kepala hebat, serta kelelahan ekstrem.
Penderita juga kerap mengalami batuk kering yang mengganggu, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, hingga gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare yang lebih sering dijumpai pada pasien anak-anak.
Tanda Bahaya Darurat
Masyarakat diminta untuk segera mencari pertolongan medis apabila penderita menunjukkan indikasi komplikasi serius. Tanda bahaya darurat yang harus diwaspadai meliputi munculnya sesak napas atau napas yang terasa semakin berat, timbulnya rasa nyeri dan tekanan hebat di area dada, kebingungan mendadak, serta penurunan tingkat kesadaran.
Langkah penanganan medis darurat juga wajib dilakukan jika demam tinggi tidak kunjung mereda meski telah diberi obat penurun panas, timbul warna kebiruan pada area bibir maupun kuku, atau ketika kondisi penderita yang sempat membaik tiba-tiba memburuk kembali akibat potensi infeksi bakteri sekunder.
(wiw)