Hati-Hati, Komplikasi Influenza A Bisa Berujung pada Pneumonia

CNN Indonesia
Jumat, 25 Sep 2026 11:15 WIB
Dalam kasus parah, komplikasi influenza A bisa berujung pada Pneumonia. Dokter ingatkan untuk melakukan pemeriksaan dini.
Ilustrasi. Dalam kasus parah, komplikasi influenza A bisa berujung pada Pneumonia. Dokter ingatkan untuk melakukan pemeriksaan dini dan kelompok rentan perlu lebih dijaga. (iStock/Moyo Studio)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hati-hati dengan infeksi influenza tipe A. Pasalnya, influenza A bisa menurunkan sistem kekebalan tubuh dan dalam kasus parah, bisa memicu komplikasi serius seperti pneumonia.

Hal ini diungkapkan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi, Joyce Bratanata.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Virus influenza itu memperlemah sistem imun tubuh dan membuka celah. Jika barier pertahanan tubuh terganggu, bakteri yang berkolonisasi di saluran napas atas bisa masuk ke paru-paru dan berkembang menjadi pneumonia," kata Joyce di Jakarta, Kamis (25/9), dilansir Antara.

Hal pertama yang perlu diwaspadai, yakni gejala awal influenza A. Biasanya, gejala umum menyerupai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) lainnya, nyeri tenggorokan, batuk kering, hingga demam tinggi.

Batuk dan pilek kerap dianggap hal biasa. Namun Joyce mengingatkan agar masyarakat tak menyepelekan gejala yang dianggap kecil tersebut.

"Jangan menunggu sampai gejalanya berat atau sesak napas. Jika batuk dan pilek sudah berlangsung tiga hari disertai demam, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter," ucapnya.

Pemeriksaan medis secara dini bisa memastikan etiologi atau penyebab pasti penyakit. Caranya, bisa melalui swab test atau uji usap antigen influenza, hingga pemeriksaan panel PCR.

Hasil diagnosis bisa lebih tepat dengan metode pemeriksaan yang sesuai. Jadi, pasien bisa mendapatkan terapi yang sesuai dan tak sembarangan mengonsumsi obat.

Namun Joyce mengingatkan, tak semua penderita influenza perlu mengonsumsi obat antivirus. Terapi antivirus ini biasanya diprioritaskan bagi pasien dengan indikasi klinis jelas atau yang masuk dalam kelompok rentan dengan risiko tinggi.

Siapa saja yang tergolong kelompok rentan?

Menurut Joyce, kelompok yang paling rentan mengalami perburukan kondisi akibat influenza A, yakni anak-anak usia balita, anak usia 6-7 tahun, lansia, hingga individu dengan penyakit komorbid.

Penyakit komorbid yang dimaksud, antara lain seperti penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, asma, hingga penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Orang yang mengalami penurunan daya tahan tubuh, seperti penderita autoimun, pengidap kanker yang menjalani kemoterapi, hingga orang dengan HIV, juga termasuk ke dalam kelompok rentan.

Agar penyebaran influenza A tak makin parah, Joyce mengimbau masyarakat agar kembali memperketat protokol kesehatan dasar di lingkungan rumah ataupun kantor. Apalagi influenza mudah menyebar melalui udara (airborne).

Cara mencegahnya, antara lain dengan menggunakan masker secara benar, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum menyentuh anggota keluarga, hingga tak merokok di ruangan tertutup. Jika memungkinkan, lengkapi vaksinasi influenza tahunan.

"Vaksin influenza yang beredar saat ini umumnya memberikan perlindungan terhadap galur influenza A dan B. Vaksinasi tahunan menjadi langkah proteksi penting untuk menekan risiko penularan dan keparahan penyakit," ucap Joyce.

[Gambas:Video CNN]

Update kasus influenza A H3N2

Sejak 2025 hingga minggu ke-36 2026, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada 184 kasus influenza A(H3N2) Subclade K yang tersebar di 20 provinsi, seperti diwartakan Detikhealth.

Dari penyebaran di 20 provinsi, kasus paling banyak ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.

Khusus di 2026, hingga minggu ke-36, tercatat 22 kasus influenza A H3N2 Subclade K di enam provinsi, dengan kasus terbanyak di DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Papua Selatan.

Influenza tipe ini dikenal pula dengan istilah super flu. Adapun Subclade K merupakan bagian dari influenza A(H3N2) yang sudah mengalami mutasi.

Adapun berdasarkan kelompok usia, super flu ini paling banyak ditemukan pada kelompok usia 0-4 tahun, yaitu 38 persen. Diikuti kelompok usia 5-9 tahun (23,4 persen), usia 10-17 tahun (21,2 persen), usia 18-59 tahun (15,8 persen), dan usia di atas 60 tahun sebesar 1,6 persen.

(rti)