Akhir Era hingga Cerita Miris Pesawat Komersial Tercepat di Dunia

CNN Indonesia
Sabtu, 26 Sep 2026 20:35 WIB
Akhir Era hingga Cerita Miris Pesawat Komersial Tercepat di Dunia
Meski telah pensiun, pesawat supersonik Concorde tetap diingat sebagai pesawat ikonik dengan kemampuan luar biasa. (AFP/EDUARDO MUNOZ ALVAREZ)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mobilitas masa kini tak memakan waktu lama berkat kehadiran pesawat-pesawat canggih. Namun andai Concorde masih eksis, pesawat lain barangkali tak akan bisa menandingi kemampuannya. 

Concorde menjadi salah satu pesawat paling ikonik dalam sejarah penerbangan. Pesawat supersonik hasil kerja sama Inggris dan Prancis ini mampu terbang lebih dari dua kali kecepatan suara dan memangkas waktu perjalanan lintas Atlantik secara signifikan.

Pesawat ini debut pada 1969 dan mulai melayani penerbangan komersial pada 1976. mampu mencapai kecepatan jelajah sekitar 2.160 km per jam atau Mach 2, dengan ketinggian jelajah hingga sekitar 18.000 meter. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir VN Express, penerbangan London-New York yang biasanya membutuhkan sekitar delapan jam dengan pesawat konvensional dapat ditempuh Concorde dalam waktu kurang dari tiga setengah jam.

Tak cukup sampai situ, penerbangan tercepatnya dari New York menuju London pada 1996 hanya membutuhkan 2 jam 52 menit 59 detik. Concorde juga pernah jadi pesawat komersial tercepat di dunia.  

Dalam penerbangan komersial, Concorde hanya dioperasikan secara rutin oleh dua maskapai, yakni British Airways dan Air France. Keduanya menggunakan pesawat ini terutama untuk penerbangan lintas Atlantik, khususnya rute London-New York dan Paris-New York.

Kapasitas Concorde hanya sekitar 100 penumpang. Pesawat ini juga menggunakan empat mesin Rolls-Royce/SNECMA Olympus 593 dengan teknologi reheat untuk menghasilkan tenaga besar saat lepas landas dan ketika beralih ke kecepatan supersonik.

Cepat tapi Mahal dan Bising

Kecepatan tentunya menjadi keunggulan utama Concorde. Penumpang dapat memangkas waktu perjalanan lintas Atlantik hingga lebih dari separuh dibandingkan penerbangan subsonik.

Akan tetapi, kemampuan tersebut harus dibayar dengan konsumsi bahan bakar dan biaya perawatan yang tinggi.

Harga tiketnya pun sangat mahal. Pada 1996, tiket pulang-pergi New York-London mencapai US$7.574 atau sekitar Rp135 juta. Angka tersebut merupakan harga tiket pulang-pergi pada masa itu, bukan biaya operasional pesawat dalam satu penerbangan.

Selain biaya operasional yang tinggi, Concorde juga menghadapi persoalan kebisingan. Suara mesin saat lepas landas tergolong sangat keras, sementara penerbangan supersoniknya menghasilkan sonic boom.

Sonic boom yang sangat keras membuat penerbangan di atas daratan jadi terbatas. Akibatnya, Concorde lebih banyak digunakan untuk penerbangan di atas lautan sehingga memiliki keterbatasan rute. Selain itu, Concorde juga mengalami beberapa insiden kecelakaan. 

Salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Concorde terjadi pada 25 Juli 2000. Air France Penerbangan 4590 jatuh tidak lama setelah lepas landas dari Bandara Charles de Gaulle, Paris, menuju New York.

Menurut Federal Aviation Administration (FAA), ban roda pendaratan utama pesawat menabrak potongan logam yang sebelumnya terjatuh dari pesawat lain.

Ban kemudian pecah dan serpihannya menyebabkan kerusakan pada tangki bahan bakar. Bahan bakar bocor dan terbakar, sementara mesin mengalami kerusakan hingga pesawat kehilangan kemampuan untuk terus menanjak.

Pesawat kemudian jatuh ke sebuah hotel. Insiden tersebut memakan korban sebanyak 109 orang di dalam pesawat dan empat orang di darat meninggal dunia.

Kecelakaan tersebut membuat seluruh armada Concorde Air France dan British Airways sempat dihentikan operasinya. Pesawat kemudian kembali terbang setelah dilakukan peningkatan keselamatan, tetapi masalah ekonomi Concorde belum terselesaikan.

Pada awal 2000-an, biaya perawatan Concorde semakin tinggi, sementara permintaan perjalanan premium menurun. British Airways menyatakan keputusan menghentikan operasional pesawat itu diambil karena pendapatan penumpang terus menurun di tengah meningkatnya biaya perawatan.

British Airways menghentikan penerbangan Concorde pada Oktober 2003, disusul Air France. Setelah sekitar 27 tahun melayani penerbangan komersial, era pesawat penumpang supersonik tersebut akhirnya berakhir.

(dsd/els)