Udara pagi di Teluk Namlea berembus perlahan membawa kesegaran khas lautan yang berpaduan dengan kehangatan matahari terbit. Namlea merupakan sebuah pulau penyimpan butiran emas di Kabupaten Buru, Maluku.
Bagi siapa saja yang menginjakkan kaki di tanah penghasil minyak kayu putih dan emas dengan keramahan, segala hal akan terasa nikmat.
Namlea bukan hanya sekadar kota transit pelayaran antar pulau namun kota ini adalah pintu gerbang menuju kisah panjang persilangan budaya, kekayaan alam, dan cerita sejarah yang melukiskan wajah di bumi 'Bupolo' yang artinya Pulau Buru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pantauan CNNIndonesia.com di lokasi aktivitas pagi dimulainya dari kawasan pelabuhan Namlea, di sana terlihat perahu-perahu nelayan berjejeran sepanjang teluk. Denyut ekonomi warga mulai terasa nyata. Pedagang kecil merapikan dagangan mereka, mulai dari hasil kebun, rempah-rempah hingga hasil tangkapan nelayan.
Dari pelabuhan kita bergeser ke perbukitan. Di sana, kita disambut dengan pepohonan minyak kayu putih dengan indra penciuman dan aroma segar yang menenangkan. Ini merupakan identitas sejati Pulau Buru.
Minyak kayu putih asal Namlea telah lama diakui sebagai salah satu warisan terbaik karena kadar minyaknya yang tinggi serta aroma yang khas. Cara buatannya pun masih tradisional, daun dimasukkan ke dalam ketel tembaga besar yang dipanaskan dengan kayu bakar. Uap air dan minyak dikondisikan hingga menghasilkan tetesan minyak murni.
Usaha penyulingan kayu putih bukan hanya penggerak ekonomi warga, tetapi juga warisan budaya yang diturunkan antar generasi. Minyak botolan sederhana ini menjadi oleh-oleh bagi setiap wisatawan yang melancong di pulau penghasil emas tersebut.
Selain aroma minyak kayu putih, 'Namlea' dalam dua dekade terakhir begitu melekat dengan fenomena tambang emas. Penemuan cadangan emas di kawasan Gunung Botak, Pulau Buru Maluku memicu gelombang migrasi besar-besaran dari luar ke Pulau Buru. Seperti, penambang asal Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, hingga Maluku berbondong-bondong ke sini untuk mengadu nasib.
Setiap hari, penambang dari luar Maluku terus berdatangan, mereka menumpangi kapal cepat dan kapal Pelni dari Ambon. Setelah tiba di Pelabuhan Namlea, mereka langsung berangkat ke Gunung Botak.
"Saya dan beberapa teman dari Sulawesi, kita mau ke Gunung Botak, saya sudah sering bolak-balik bawa teman dari Sulawesi," ujar seorang penambang Ichal, Selasa (22/9).
Tak hanya itu, mobil-mobil berkelas milik pengusaha tambang terparkir di sejumlah penginapan, terlihat mereka duduk santai sambil menikmati secangkir kopi pagi sambil ngobrol terkait koperasi di Gunung Botak.
Mereka ini datang tak hanya karena meraup butiran emas di gunung botak namun juga membawa warna baru pada lanskap sosial di tanah 'Bupolo' mulai dari keberagaman kuliner hingga maraknya sektor usaha jasa. Meski begitu, pengelolaan tambang kerap menghadapi tantangan alias masalah lingkungan namun daya tariknya pun menjadi magnet tersendiri hingga saat ini.
Di sini, masyarakat dikenal terbuka dan ramah terhadap pendatang. Ini, terlihat pada sudut-sudut jalan warga asli Pulau Buru, perantau dan penambang saling berkomunikasi dengan baik.
Selain Pulau Buru dikenal dengan tambang emas dan kaya minyak kayu putih. Namun, di sana juga punya wisata yang memesona yakni pantai Jikumerasa.
Sore hari, warga ramai-ramai ke pantai tersebut untuk menikmati suasana pasir putih dan laut yang jernih juga memburu matahari terbit untuk mengabadikan foto.
"Namlea itu, di sini ada kapal-kapal datang dan pergi membawa hasil bumi, sementara di darat orang-orang datang dari belahan Indonesia untuk menggantung harapan di tambang emas, di sini juga punya pantai yang (suasananya) tak terlupakan," ujar seorang warga Namlea, Mus. Selasa (22/9).
Sehari di Namlea, Kabupaten Buru Maluku memberikan gambaran utuh tentang sebuah kota yang terus berkembang tanpa kehilangan identitas aslinya. Yakni, harum minyak kayu putih dan kilau emas yang menjanjikan.
(sai/wiw)