Perempuan Dominasi Peserta KB di Indonesia, Capai 96,7 Persen

CNN Indonesia
Rabu, 23 Sep 2026 16:00 WIB
Berdasarkan data tahun 2025 yang dipresentasikan Kemendukbangga/BKKBN, sebanyak 96,7 persen peserta KB merupakan perempuan.
Ilustrasi. Berdasarkan data tahun 2025 yang dipresentasikan Kemendukbangga/BKKBN, sebanyak 96,7 persen peserta KB merupakan perempuan. (iStockphoto/JPC-PROD)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penggunaan kontrasepsi di Indonesia masih didominasi perempuan. Berdasarkan Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) 2025, sebanyak 96,7 persen peserta KB merupakan perempuan, sedangkan partisipasi laki-laki baru sekitar 3,3 persen.

Direktur Bina Akses Pelayanan KB Kemendukbangga/BKKBN dr. Fajar Firdawati mengatakan, kondisi tersebut tidak jauh berbeda dari data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Saat itu, sekitar 95,3 persen peserta KB merupakan perempuan dan 4,7 persen laki-laki.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memang masih sangat didominasi oleh perempuan. Selain karena jenis pilihan untuk perempuan jauh lebih banyak daripada laki-laki," kata Firda dalam acara advokasi strategis PJPK di Jakarta, Rabu (23/9).

Ia menyoroti masih adanya anggapan bahwa penggunaan kontrasepsi merupakan urusan perempuan. Padahal, keputusan terkait kontrasepsi seharusnya dibicarakan dan diputuskan bersama oleh pasangan.

"Jadi pemahaman pasangan suami istri yang perlu kita tingkatkan kembali. Keluarga ini harus memutuskan bersama," ujarnya.

Suntik KB paling banyak digunakan

Data PK 2025 menunjukkan, suntik KB menjadi metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan di Indonesia. Proporsinya mencapai 56,74 persen dari peserta KB.

Setelah suntik, metode yang paling banyak digunakan adalah susuk atau implan KB sebesar 13,85 persen, pil KB 11,49 persen, dan IUD sebesar 9,88 persen.

Sementara itu, metode operasi wanita (MOW) tercatat digunakan oleh 4,57 persen peserta KB. Penggunaan kondom mencapai 0,13 persen dalam data tersebut.

Firda menyampaikan bahwa penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) seperti implan mulai menunjukkan peningkatan.

"Implan dulunya mungkin hanya sekitar 3 persen. Sekarang sudah sekitar 6 persen. Sudah mulai mau masyarakat kita menggunakan implan," jelasnya.

[Gambas:Video CNN]

Peningkatan minat tersebut juga membuat pemerintah menyesuaikan penyediaan kebutuhan implan agar dapat memenuhi permintaan masyarakat.

Di sisi lain, penggunaan kontrasepsi oleh laki-laki masih rendah. Peserta KB pria masih berada di kisaran 3 persen. Pilihan kontrasepsi bagi laki-laki saat ini juga lebih terbatas dibandingkan perempuan, terutama kondom dan vasektomi atau metode operasi pria (MOP).

"Karena vasektomi sendiri, seperti kita ketahui, pilihan laki-laki itu hanya kondom dan vasektomi," katanya.

Menurut Firda, data menunjukkan penggunaan kondom jauh lebih banyak dibandingkan vasektomi. Vasektomi umumnya dipilih oleh laki-laki yang sudah benar-benar tidak ingin menambah jumlah anak.

(anm/asr)