Studi: Wisatawan Bukan 'Orang' yang Sama Ketika Liburan

CNN Indonesia
Rabu, 23 Sep 2026 12:45 WIB
Studi: Wisatawan Bukan 'Orang' yang Sama Ketika Liburan
Ilustrasi wisatawan atau turis saat liburan. (Istockphoto/Vasyl Dolmatov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Berlibur tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengunjungi tempat liburan baru, tetapi juga bisa membuat seseorang berperilaku berbeda dari kebiasaannya sehari-hari.

Jauh dari rutinitas dan tanggung jawab di rumah, wisatawan cenderung merasa lebih bebas untuk melakukan berbagai hal yang biasanya tidak mereka lakukan.

Mengutip Euronews, sebuah penelitian terbaru dari Hint App menunjukkan bahwa perubahan perilaku tersebut ternyata cukup umum terjadi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Banyak wisatawan secara sadar memutuskan untuk bertindak berbeda selama bepergian. Bahkan, sebagian dari mereka mengaku terkejut dengan keputusan yang dibuat setelah kembali ke rumah.

Hint App, aplikasi yang memberikan saran berdasarkan bagan kelahiran, melakukan survei untuk mengetahui bagaimana perilaku seseorang ketika berada jauh dari rumah.

Survei tersebut melibatkan sekitar 14.673 orang dewasa dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Uni Eropa, Australia, dan Amerika Latin.

Hasilnya, sebanyak 61 persen responden mengaku sengaja berperilaku berbeda saat bepergian dibandingkan ketika berada di rumah.

Padahal, responden secara umum menggambarkan diri sebagai orang yang cenderung menjalani rutinitas dan memiliki kebiasaan yang cukup dapat diprediksi dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam survei tersebut, sebanyak 47 persen responden mengatakan pernah dengan sengaja melakukan sesuatu saat bepergian karena merasa hal tersebut lebih sesuai dilakukan ketika sedang berlibur. Mereka bahkan mengaku kemungkinan akan menolak melakukan hal yang sama jika berada di rumah.

Perubahan perilaku tersebut dapat terlihat dari berbagai aktivitas selama perjalanan. Salah satunya adalah berbelanja. Sebanyak 38 persen responden mengaku pernah membeli barang yang biasanya mereka anggap tidak diperlukan karena barang tersebut berkaitan erat dengan kenangan dari perjalanan.

Selain itu, waktu malam selama liburan juga dianggap lebih berharga. Sebanyak 42 persen responden mengatakan pernah pulang lebih larut karena tidak ingin "menyia-nyiakan" waktu malam selama liburan.

Meski begitu, wisatawan tetap berusaha memberikan alasan atas keputusan yang mereka ambil. Mereka seolah mengganti aturan sehari-hari dengan standar baru yang membuat penggunaan waktu, uang, dan tenaga selama perjalanan terasa layak.

Menariknya, perubahan tersebut tidak selalu disadari saat seseorang masih berlibur. Sebanyak 35 persen responden mengaku pulang ke rumah dan merasa terkejut dengan sesuatu yang mereka lakukan selama bepergian.

Penelitian tersebut belum dapat memastikan apakah perilaku saat liburan merupakan gambaran sebenarnya tentang diri seseorang. Namun, hasilnya menunjukkan bahwa rutinitas yang dijalani di rumah bisa lebih bebas daripada yang selama ini disadari.

Bagi 61 persen wisatawan yang sengaja mengubah perilaku saat bepergian, liburan seolah menjadi kesempatan untuk sementara keluar dari aturan yang biasanya mereka ikuti.

Mulai dari membeli sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan, menikmati malam lebih lama, hingga mencoba pengalaman yang biasanya akan mereka tolak.

(dsd/wiw)
placeholder