6 Kebiasaan Orang dengan Kemampuan Sosial Tinggi, Suka Basa-basi?

CNN Indonesia
Senin, 12 Okt 2026 06:45 WIB
Kebiasaan orang dengan kemampuan sosial tinggi
Ilustrasi. Orang dengan kemampuan sosial tinggi memiliki beberapa kebiasaan sebagai berikut. (Pexels.com/cottonbro studio)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Punya kemampuan sosial yang baik bukan berarti harus selalu menjadi orang paling ramai di ruangan atau suka berbasa-basi. Berikut kebiasaan orang yang punya kemampuan sosial tinggi.

Apa orang dengan kemampuan sosial tinggi sudah pasti banyak bicara? Ternyata tidak. Ada orang yang tidak banyak bicara, tetapi bisa membuat lawan bicaranya merasa didengar dan nyaman. Orang seperti ini juga bisa dibilang punya kemampuan sosial tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemampuan seperti ini juga tidak sebatas pandai basa-basi atau mudah mendapatkan teman. 

Kebiasaan orang dengan kemampuan sosial tinggi

Kamu bisa tahu seseorang punya kemampuan sosial tinggi saat menemukan beberapa kebiasaan berikut.

1. Benar-benar mendengarkan, bukan sekadar menunggu giliran bicara

Pernah cerita panjang lebar kepada seseorang, tetapi rasanya seperti sedang berbicara dengan tembok? Kemampuan mendengarkan ternyata menjadi salah satu bagian penting dalam interaksi sosial.

Sebuah studi yang diterbitkan di Communications Psychology, perilaku mendengarkan tertentu berkaitan dengan hubungan sosial yang lebih baik. Selain itu didukung pula dengan memberikan validasi secara verbal dan mengajukan pertanyaan lanjutan yang juga relevan.

2. Mengajukan pertanyaan lanjutan yang relevan

Masih berkaitan dengan kemampuan mendengarkan, kebiasaan bertanya juga bisa membuat percakapan terasa lebih hidup. Semakin sering peserta menggunakan pertanyaan lanjutan yang relevan, semakin banyak indikator hubungan sosial yang terlihat dalam percakapan mereka.

Efek ini terlihat dari respons percakapan, penilaian pasangan bicara, hingga penilaian pengamat. Pertanyaan lanjutan juga tidak harus terdengar seperti wawancara. Justru dari pertanyaan yang sederhana, percakapan bisa berkembang secara alami.

3. Tidak buru-buru menghakimi

Kemampuan sosial juga terlihat dari cara seseorang merespons cerita orang lain. Ketika teman menceritakan masalah, orang yang punya kemampuan sosial baik tidak selalu buru-buru memberikan penilaian, nasihat, atau menentukan siapa yang salah. Mereka bisa memberi ruang terlebih dahulu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Melansir Psychology Today, sebuah studi tentang interpersonal listening menunjukkan empati dan sikap tidak menghakimi sebagai bagian dari berbagai konsep yang sering dikaitkan dengan kualitas mendengarkan.

Meski demikian, peneliti pun menekankan bahwa tidak ada satu formula yang selalu berlaku dalam setiap situasi.

4. Mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain

Kebiasaan orang yang punya kemampuan sosial tinggiIlustrasi. Orang dengan kemampuan sosial tinggi mampu melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. (Magnific.com)

Orang dengan kemampuan sosial yang baik juga tidak selalu melihat situasi hanya dari kacamata dirinya sendiri. Mereka mencoba memahami apa yang mungkin dipikirkan atau dirasakan lawan bicara sebelum merespons.

Kemampuan seperti ini berkaitan dengan perspective-taking, yakni kemampuan mempertimbangkan sudut pandang orang lain.

5. Peka terhadap respons lawan bicara

Percakapan bukan cuma soal kata-kata. Ekspresi wajah, respons verbal, perubahan nada bicara, hingga apakah seseorang masih terlihat ingin melanjutkan percakapan juga bisa memberikan konteks.

Studi yang diterbitkan di Frontiers in Psychology menyebut kemampuan berinteraksi secara sosial dipandang sebagai gabungan berbagai keterampilan, kemampuan, pengalaman, serta perilaku yang digunakan sesuai situasi.

Peneliti juga menekankan bahwa konteks sangat berpengaruh karena aturan dalam interaksi sosial dapat berubah tergantung situasi dan orang yang dihadapi.

Itulah sebabnya orang yang peka secara sosial mungkin akan menyadari ketika lawan bicara mulai memberikan jawaban pendek atau terlihat ingin mengakhiri percakapan. Mereka kemudian bisa menyesuaikan diri, tentu dengan tidak terus memaksakan topik.

6. Tahu kapan harus bicara dan kapan memberi ruang

Jago bersosialisasi tidak selalu berarti paling cerewet. Ada kalanya kemampuan sosial justru terlihat dari kesediaan seseorang untuk memberi kesempatan kepada orang lain berbicara.

Memasukkan keseimbangan antara berbicara dan mendengarkan sebagai salah satu persoalan penting dalam penelitian mengenai interaksi sosial.

Peneliti juga menekankan bahwa mendengarkan bukan sekadar diam, tetapi merupakan proses yang dipengaruhi tujuan, konteks, dan dinamika antara orang yang berbicara dan mendengarkan.

Seseorang pun tidak perlu terus-menerus mengisi keheningan agar dianggap pandai bersosialisasi. Kadang, cukup memberi ruang ketika orang lain sedang bercerita sudah menjadi bagian dari komunikasi yang baik.

Hal ini juga menunjukkan bahwa kemampuan sosial tidak bisa disamakan begitu saja dengan sifat ekstrovert. Seseorang bisa sangat mudah bergaul, tetapi kemampuan sosial tetap melibatkan bagaimana ia menggunakan keterampilan tersebut sesuai situasi.

(anm/els)