Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan bahasa yang berbeda. Namun orang tua perlu tahu, tak semua keterlambatan itu digolongkan sebagai speech delay, karena bisa jadi anak hanya mengalami late talker.
Istilah apa itu? Lalu apa bedanya late talker dan speech delay pada anak? Meski sekilas terlihat serupa, keduanya memiliki beberapa perbedaan penting.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip laman American Speech-Language-Hearing Association (ASHA), late talker adalah sebutan untuk anak yang mengalami late language emergence (LLE).
Adapun LLE merupakan keterlambatan kemampuan berbahasa tanpa adanya diagnosis disabilitas atau keterlambatan pada ranah kognitif maupun motorik.
Di sisi lain, menurut ScienceDirect, speech delay merupakan keterlambatan kemampuan bahasa akibat kurangnya stimulasi sensorik, disabilitas intelektual, hingga gangguan pendengaran.
Memahami perbedaannya dapat membantu orang tua lebih tenang dalam mengamati perkembangan anak. Lantas, apa saja perbedaan late talker dan speech delay? Merangkum berbagai sumber, berikut ini penjelasannya.
1. Kemampuan memahami bahasa
Late talker biasanya memiliki kemampuan memahami bahasa yang cukup baik meski jumlah kata yang diucapkan masih terbatas. Anak mungkin bisa mengikuti instruksi sederhana, memahami pertanyaan, serta mengetahui nama benda di sekitarnya.
Di sisi lain, speech delay dapat melibatkan kesulitan yang lebih luas. Anak tidak hanya terlambat berbicara, tetapi juga bisa mengalami kendala dalam memahami bahasa atau mengikuti komunikasi sederhana.
2. Jumlah kosakata yang dimiliki
Salah satu tanda yang sering terlihat pada late talker, yakni jumlah kosakata yang lebih sedikit dibandingkan anak seusianya. Misalnya, pada sekitar usia 24 bulan, anak belum menggunakan sekitar 50 kata atau belum mulai menggabungkan dua kata menjadi frasa sederhana.
Pada speech delay, keterlambatan kosakata dapat disertai masalah lain dalam kemampuan komunikasi. Oleh karena itu, jumlah kata saja tidak cukup untuk menentukan kondisi anak.
3. Kemampuan menggunakan gestur dan berinteraksi
Anak yang termasuk late talker umumnya tetap menggunakan cara lain untuk berkomunikasi. Mereka mungkin menunjuk benda yang diinginkan, melakukan kontak mata, melambaikan tangan, atau menunjukkan ekspresi saat berinteraksi.
Sebaliknya, keterbatasan gestur, kontak mata, atau respons sosial bisa sangat terbatas pada kondisi speech delay.
4. Kemungkinan akan membaik sendiri
Pada anak late talker, kemungkinan kondisinya akan membaik sendiri sekitar 70-80 persen. Namun pada speech delay, kemungkinannya sangat tipis jika tidak mendapat dukungan dari orang tua.
5. Interaksi sosial
Meski masih kesulitan untuk berbicara, late talker masih bisa terhubung dengan orang lain saat berinteraksi sosial. Kemampuan bermain anak pun masih sesuai usianya.
Berbeda kondisinya pada speech delay. Anak yang mengalami speech delay cenderung kesulitan berinteraksi sosial dan kemampuan bermainnya pun mengalami keterlambatan.
6. Perkembangan kemampuan lainnya
Late talker biasanya tetap menunjukkan perkembangan yang sesuai pada area lain. Anak dapat bermain, bergerak, memahami lingkungan, meski kemampuan bicaranya berkembang lebih lambat.
Pada speech delay, keterlambatan bisa muncul bersama kesulitan lain dalam memahami bahasa, berkomunikasi, atau menggunakan suara dengan jelas.
Memahami bedanya late talker dan speech delay bukan bertujuan memberikan label kepada anak, melainkan membantu orang tua memberikan penanganan dan dukungan yang lebih tepat.
(gas/rti)

