Stoikisme dan mindfulness sama-sama sering dikaitkan dengan kemampuan untuk tidak mudah terbawa emosi. Keduanya juga kerap digunakan untuk membantu seseorang menghadapi stres, masalah, atau situasi yang tidak berjalan sesuai harapan.
Sekilas, keduanya memang terdengar mirip. Ketika menghadapi masalah, baik stoikisme maupun mindfulness dapat mendorong seseorang untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi. Lalu, di mana sebenarnya letak bedanya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Stoikisme
Stoikisme merupakan salah satu aliran filsafat yang berkembang pada periode Helenistik di Yunani dan kemudian berkembang di Romawi. Tokoh yang sering dikaitkan dengan stoikisme antara lain Zeno dari Citium, Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius.
Dalam stoikisme, pertanyaannya bukan hanya bagaimana seseorang bisa merasa lebih tenang ketika menghadapi masalah. Pertanyaan yang lebih mendasar justru bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan yang baik. Jawabannya berkaitan dengan penggunaan rasio, pengembangan karakter, kebajikan, serta cara seseorang menilai dan merespons berbagai hal yang terjadi dalam hidup.
Mengutip Stanford Encyclopedia of Philosophy, kebajikan atau virtue merupakan bagian penting dalam pandangan stoik mengenai kehidupan yang baik. Dalam menghadapi sebuah masalah, stoikisme mengajak seseorang membedakan hal yang berada dalam kendalinya dan hal yang berada di luar kendalinya.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa stoikisme tidak identik dengan sikap cuek atau pasrah. Seseorang tetap diminta bertindak, tetapi tidak menjadikan sesuatu yang berada di luar kendalinya sebagai satu-satunya ukuran atas dirinya.
Mindfulness lebih dulu mengajak menyadari pengalaman
Sementara mindfulness memiliki akar sejarah yang berbeda. Konsep ini berhubungan dengan tradisi Buddha dan kemudian berkembang dalam berbagai bentuk di psikologi modern.
Dalam psikologi, mindfulness umumnya merujuk pada kemampuan atau proses untuk memperhatikan pengalaman yang sedang berlangsung dengan kesadaran tertentu, disertai sikap menerima dan tidak langsung menghakimi pengalaman tersebut.
Mengutip jurnal Mindfulness, definisi mindfulness memang beragam. Meski begitu, sejumlah unsur yang sering muncul antara lain perhatian terhadap pengalaman saat ini, kesadaran, penerimaan, dan sikap tidak reaktif. Perbedaan titik awal inilah yang membuat mindfulness dan stoikisme dapat terlihat mirip dalam praktik, tetapi sebenarnya memiliki kerangka pemikiran yang berbeda.
Penelitian melihat hubungan keduanya
Penelitian berjudul Seneca Meets the Buddha: The Relationship Between Buddhist and Stoic Mindfulness secara khusus melihat hubungan antara mindfulness yang berakar dari tradisi Buddha dan konstruksi stoik.
Para peneliti menemukan adanya hubungan antara konstruksi mindfulness dan stoik, termasuk melalui konstruksi yang mereka sebut sebagai 'stoic mindfulness'. Hubungan tersebut terlihat kuat dengan aspek non-reactivity dalam salah satu ukuran mindfulness.
Ini berarti kemampuan untuk tidak langsung terseret oleh pengalaman atau bereaksi secara spontan menjadi salah satu titik temu antara kedua konsep tersebut.
Meski demikian, penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa stoikisme dan mindfulness adalah hal yang sama. Keduanya tetap dipandang sebagai konstruksi yang berbeda.
Jadi, apa bedanya stoikisme dan mindfulness?
Sederhananya, mindfulness dapat dipahami sebagai cara untuk menyadari apa yang sedang terjadi dalam pengalaman diri tanpa langsung bereaksi terhadapnya. Kemudian stoikisme merupakan filsafat hidup yang mengajak seseorang menggunakan rasio, membedakan apa yang berada dalam kendalinya, serta menjalani hidup berdasarkan kebajikan.
Itulah sebabnya keduanya bisa terlihat mirip ketika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya sama-sama memiliki ruang untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi, tetapi pertanyaan yang muncul setelahnya berbeda.
Mindfulness lebih banyak bertanya, "Apa yang sedang terjadi dalam diriku sekarang?". Stoikisme bergerak lebih jauh dengan bertanya, "Bagaimana seharusnya aku menilai keadaan ini dan bertindak?"
Jadi, mindfulness bukan stoikisme versi modern, pun sebaliknya. Keduanya memiliki sejarah, kerangka pemikiran, dan tujuan yang berbeda, meski memiliki titik temu dalam kemampuan untuk tidak langsung terseret oleh reaksi spontan.
(anm/asr)

