Dulu, kawasan komersial identik dengan deretan ruko yang sibuk pada jam kerja. Orang datang untuk berbelanja, menyelesaikan urusan, lalu pergi. Namun, pola itu perlahan berubah.
Di tengah pertumbuhan kota dan perubahan gaya hidup masyarakat, kawasan komersial kini dituntut menawarkan lebih dari sekadar ruang untuk membuka usaha. Area kuliner, tempat nongkrong, ruang terbuka, jalur pedestrian, hingga aktivitas komunitas mulai menjadi bagian penting dari sebuah kawasan.
Perubahan tersebut turut terlihat di sejumlah kawasan penyangga Jakarta, termasuk Tangerang. Pertumbuhan hunian dan mobilitas masyarakat membuat kebutuhan terhadap tempat makan, rekreasi, retail, hingga layanan sehari-hari ikut berkembang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat Juga :![]() Laporan dari Paris Stephane Rolland dan Senandung Dalida yang Tak Pernah Pudar |
Bagi pelaku usaha, kondisi ini menciptakan peluang baru. Lokasi tidak lagi hanya dinilai berdasarkan ukuran bangunan atau harga properti, tetapi juga berdasarkan ekosistem yang mengelilinginya.
Ketika konsumen mencari pengalaman
Perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu faktor yang mendorong perkembangan kawasan komersial berbasis gaya hidup. Tempat makan, misalnya, tidak lagi semata-mata menjadi lokasi untuk mengisi perut. Banyak orang datang untuk bertemu teman, bekerja dari kafe, membuat konten, atau sekadar menghabiskan waktu.
Hal serupa terjadi pada retail dan berbagai bisnis jasa. Kawasan yang nyaman untuk berjalan kaki, memiliki ruang terbuka, serta menawarkan beragam pilihan aktivitas cenderung memiliki daya tarik lebih panjang dibandingkan area yang hanya mengandalkan satu jenis usaha.
Konsep ruang komersial terbuka atau open-space pun semakin relevan. Pengunjung dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa harus merasa sedang berada di area pertokoan konvensional.
Dari sudut pandang bisnis, pola tersebut berpotensi menciptakan lalu lintas pengunjung yang saling menguntungkan. Sebuah restoran dapat menarik pelanggan bagi toko di sebelahnya, sementara aktivitas komunitas dapat membuat kawasan tetap hidup di luar jam makan.
Inilah yang kemudian dikenal sebagai ekosistem bisnis, ketika berbagai usaha, penghuni, pengunjung, dan aktivitas di sebuah kawasan saling mendukung.
Dari kuliner hingga komunitas
Fenomena tersebut juga terlihat di Paramount Gading Serpong yang berkembang dengan beragam pusat komersial dan aktivitas gaya hidup.
Kawasan ini dalam beberapa tahun terakhir dikenal sebagai salah satu destinasi kuliner dan gaya hidup di Tangerang. Deretan restoran, kafe, retail, dan berbagai bisnis jasa membuat kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga tujuan masyarakat dari wilayah sekitar.
Direktur Sales & Marketing Paramount Land Ferry John Sihombing mengatakan perkembangan tersebut membuat Paramount Gading Serpong semakin menyerupai kota mandiri dengan pusat-pusat aktivitas yang tersebar.
"Paramount Gading Serpong kini telah menampilkan wajah kota mandiri yang lengkap, vibrant, dan terintegrasi, dengan beragam commercial hub yang tersebar di setiap sudut kota," kata Ferry dalam keterangannya.
Menurut dia, perkembangan kuliner dan gaya hidup turut memperkuat posisi kawasan tersebut sebagai salah satu pusat aktivitas masyarakat di Jabodetabek.
"Fenomena yang semakin menguatkan posisi Paramount Gading Serpong sebagai 'the most happening culinary city', kota kuliner yang hidup, berkembang, dan terus menghadirkan pilihan baru bagi masyarakat," ujarnya.
Pertumbuhan semacam ini menjadi menarik bagi pelaku usaha maupun investor. Sebab, sebuah bisnis tidak berdiri sendiri. Keberadaan hunian, pusat kuliner, retail, fasilitas publik, dan aktivitas komunitas dapat membentuk captive market yang membantu menjaga pergerakan pengunjung.
Dalam konteks tersebut, potensi bisnis Tangerang tidak hanya datang dari pertumbuhan jumlah penduduk, tetapi juga dari perubahan kebutuhan masyarakat perkotaan.
Membaca peluang dari kawasan yang sudah hidup
Salah satu pendekatan yang mulai banyak digunakan dalam pengembangan kawasan komersial adalah membangun area yang sejak awal dirancang sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat. Grand Boulevard Aniva menjadi salah satu pengembangan yang membawa pendekatan tersebut di kawasan Paramount Gading Serpong.
Alih-alih hanya mengandalkan deretan bangunan, kawasan ini dirancang dengan sejumlah ruang yang memungkinkan aktivitas bisnis dan sosial berjalan berdampingan.
Salah satunya adalah Aniva Green Park, area hijau yang membentang sekitar 550 meter dan menghubungkan kawasan Aniva hingga Amarillo Village. Area tersebut dilengkapi sejumlah elemen seperti jembatan, amphitheater, promenade, mini stage, jogging track, taman, hingga ribbon wall.
Ada pula Aniva Mural Walk yang menghadirkan ruang pedestrian dengan mural, serta Aniva Clock Square yang menjadi salah satu elemen visual kawasan.
Konsep tersebut membuat pengalaman pengunjung tidak berhenti ketika mereka masuk ke sebuah toko atau restoran. Perjalanan menuju tempat usaha juga menjadi bagian dari pengalaman kawasan.
Dari sisi akses, Grand Boulevard Aniva memiliki enam jalur masuk serta sistem parkir gateless. Kawasan ini juga memiliki dua boulevard utama dengan ROW 30 dan ROW 28 yang terhubung dengan jalur penghubung Gading Serpong dan BSD City.
Lokasi yang berada di antara dua kawasan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam melihat potensi pasar. Dengan akses dari Gading Serpong maupun BSD, kawasan komersial memiliki peluang menjangkau konsumen yang lebih luas.
Perubahan perilaku konsumen juga membuat kebutuhan terhadap ruang usaha ikut berubah. Bisnis yang membutuhkan visibilitas tinggi, misalnya, memiliki kebutuhan berbeda dengan usaha yang lebih mengutamakan fungsi operasional. Karena itu, desain bangunan menjadi salah satu aspek yang mulai diperhitungkan sejak awal.
Grand Boulevard Aniva menawarkan beberapa tipe ruang komersial yang dirancang untuk kebutuhan berbeda. Tipe regular, misalnya, tersedia dalam pilihan bangunan dua dan tiga lantai. Bangunan ini memiliki koridor depan selebar 1,8 meter serta dua muka bangunan. Bagian belakang menghadap service alley selebar dua meter yang dapat digunakan untuk kebutuhan utilitas dan kebersihan.
Sementara itu, tipe Alfresco ditempatkan di jalan utama dengan konsep YOSECA atau Your Own Self Expandable Commercial Area. Konsep tersebut memungkinkan fasad disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
Bangunan tiga lantai ini memiliki interior dengan high ceiling hingga 6,8 meter, hanging balcony di lantai dua, serta teras alfresco selebar empat meter.
Untuk bisnis yang mengutamakan tampilan dan eksposur, tersedia pula tipe Luminous Boutique Shop. Konsep ini menyasar berbagai jenis usaha seperti kedai kopi, kafe, salon, fashion, home decor, specialty retail, hingga showroom.
Fasad kaca yang luas memungkinkan pelaku usaha memanfaatkan bagian depan bangunan sebagai window display. Dengan begitu, tampilan toko sekaligus menjadi bagian dari strategi menarik perhatian calon pelanggan.
Bukan sekadar membeli ruang usaha
Bagi investor maupun pelaku bisnis, perkembangan sebuah kawasan menjadi pertimbangan penting sebelum menentukan lokasi.
Bangunan yang berada di kawasan yang belum memiliki aktivitas mungkin menawarkan harga tertentu, tetapi membutuhkan waktu untuk membangun pasar. Sebaliknya, kawasan dengan ekosistem yang sudah terbentuk memiliki keuntungan berupa aktivitas dan pasar yang telah lebih dahulu berkembang.
Ferry mengatakan pendekatan pengembangan kawasan Paramount Land tidak hanya berfokus pada pembangunan bangunan komersial.
"Kesuksesan pertumbuhan kawasan komersial di Paramount Gading Serpong merupakan bagian dari komitmen Paramount Land yang tidak hanya mengembangkan bangunan ruko, tetapi juga membangun ekosistem bisnis dan gaya hidup," kata Ferry.
Nilai sebuah lokasi juga dipengaruhi oleh apa yang terjadi di sekelilingnya, siapa yang tinggal di sana, siapa yang datang, bisnis apa yang tumbuh, bagaimana aksesnya, dan apakah kawasan tersebut mampu menciptakan alasan bagi orang untuk kembali.
Dalam lanskap bisnis Tangerang yang terus berkembang, faktor-faktor tersebut menjadi semakin penting. Sebab, kawasan komersial masa kini bukan lagi sekadar tempat membuka toko. Ia dapat menjadi ruang bertemu, tempat kuliner berkembang, pusat komunitas, sekaligus bagian dari gaya hidup masyarakat.
(tis/tis)


