Tidur di samping pasangan yang mendengkur mungkin terdengar seperti gangguan kecil. Namun, jika terjadi hampir setiap malam, suara dengkuran bisa membuat tidur pasangan ikut terganggu dan terputus-putus.
Dengkuran terjadi ketika jaringan lunak di saluran napas bagian atas bergetar saat seseorang tidur. Masalahnya, suara tersebut tidak hanya mengganggu orang yang mendengkur. Pasangan yang tidur di sebelahnya juga bisa kehilangan kualitas tidur.
Melansir studi yang diterbitkan dalam European Respiratory Journal, pasangan perempuan dari pria yang mendengkur mengalami tidur yang lebih terfragmentasi ketika tidur bersama dibandingkan saat tidur sendirian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika setiap malam harus tidur ditemani suara dengkuran?
Tidur bisa terganggu tanpa disadari
Tubuh tidak selalu harus terbangun sepenuhnya untuk mengalami gangguan tidur. Suara dengkuran yang muncul berulang kali dapat membuat tidur menjadi lebih ringan atau memicu terbangun singkat yang terkadang tidak disadari.
Studi tersebut menemukan adanya peningkatan fragmentasi tidur ketika seseorang tidur bersama pasangan yang mendengkur. Saat tidur sendirian, jumlah terbangun per jam lebih rendah dan waktu yang dihabiskan dalam salah satu tahap tidur ringan juga berkurang.
Artinya, seseorang bisa saja merasa sudah tidur selama tujuh atau delapan jam, tetapi kualitas tidurnya belum tentu optimal.
Gangguan tidur yang terjadi berulang kali dapat membuat tubuh tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Dampaknya bisa terasa pada siang hari, seperti tubuh lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, atau merasa kurang segar ketika bangun.
Dalam konteks pasangan yang mendengkur, gangguan tersebut dapat terjadi berulang setiap malam. Jadi, persoalannya bukan semata-mata suara yang berisik, melainkan kemungkinan tidur yang terus terganggu.
Mengatasi dengkuran juga bisa membantu pasangan
Studi dari Mayo Clinic menunjukkan bahwa ketika pasangan yang mendengkur dan mengalami gangguan napas saat tidur menggunakan alat bantu untuk mengurangi dengkuran dan gangguan pernapasan, kualitas tidur pasangannya ikut membaik.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa ketika gangguan tidur pada orang yang mendengkur ditangani, pasangan yang tidur di sebelahnya juga berpeluang mendapatkan tidur yang lebih baik.
Meski begitu, dengkuran tidak selalu berarti seseorang mengalami penyakit tertentu. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah dengkuran disertai tanda gangguan pernapasan saat tidur.
Dokter dapat membantu membedakan dengkuran biasa dengan sleep apnea, yaitu kondisi ketika napas berhenti dan kembali berulang kali selama tidur.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain pasangan seperti berhenti bernapas sesaat, terbangun karena tersedak atau terengah-engah, sering terbangun pada malam hari, hingga mengalami sakit kepala ketika bangun tidur.
Jika tanda-tanda tersebut muncul, sebaiknya jangan hanya mencari cara agar suara dengkuran menjadi lebih pelan. Ajak pasangan yang mendengkur untuk berkonsultasi dengan dokter.
Penanganan akan bergantung pada penyebab dengkuran dan ada atau tidaknya gangguan pernapasan saat tidur. Jadi, jika pasangan mendengkur setiap malam, kamu tidak berlebihan jika merasa kualitas tidur ikut terganggu.
Dengkuran memang dapat berdampak pada tidur orang di sebelahnya. Yang perlu dicari bukan hanya cara untuk membuat suara dengkuran lebih kecil, tetapi juga penyebab di baliknya.
(anm/tis)

