Benarkan Cat Rambut Picu Kanker Payudara? Ini Penjelasan Pakar

CNN Indonesia
Jumat, 11 Sep 2026 08:15 WIB
Pakar IPB ingatkan hati-hati membaca studi terkait cat rambut picu kanker payudara.
Ilustrasi cat rambut. Pakar IPB ingatkan hati-hati membaca studi terkait cat rambut picu kanker payudara. Bukti ilmiah belum cukup untuk menentukan hubungan sebab-akibat ini. (iStockphoto/AlenaPaulus)
Jakarta, CNN Indonesia --

Isu penggunaan cat rambut picu kanker payudara dengan menaikkan risikonya hingga 60 persen sempat ramai di media sosial. Namun benarkah demikian?

Meski ada penelitian yang mendasarinya, Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB, Samuel Stemi, menegaskan masyarakat perlu membaca hasil studi itu secara hati-hati agar tidak salah menafsirkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Studi dimaksud, yakni yang dilakukan National Institute of Environmental Health Sciences (NIEHS) AS dan dipublikasikan International Journal of Cancer pada 4 Desember 2019. Studi tersebut melibatkan 46.709 perempuan.

Namun, menurut Samuel, angka yang beredar di jagat maya tidak bisa dipahami secara sederhana sebagai ancaman langsung bagi semua pengguna cat rambut.

"Angka ini harus dipahami secara hati-hati. Ini adalah peningkatan risiko relatif, bukan berarti 60 persen pengguna cat rambut akan terkena kanker payudara," ujar Samuel, seperti dikutip dari laman IPB University.

Samuel melanjutkan, penelitian tersebut merupakan studi observasional yang menunjukkan hubungan, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat.

Studi tersebut memang menemukan adanya hubungan antara penggunaan pewarna rambut permanen dengan peningkatan risiko kanker payudara.

Namun, peningkatan risiko relatif sekitar 60 persen itu khusus ditemukan pada kelompok perempuan kulit hitam (African American) yang menggunakan pewarna rambut permanen setiap 5-8 minggu atau lebih sering. Ada peserta perempuan kulit putih juga dalam penelitian.

Pada seluruh peserta, penggunaan cat rambut permanen dalam 12 bulan sebelum penelitian dikaitkan dengan sekitar 9 persen peningkatan risiko. Pada perempuan kulit putih, angkanya sekitar 7 persen, sedangkan pada perempuan kulit hitam sekitar 45 persen.

Menurut Samuel, bukti ilmiah mengenai cat rambut picu kanker payudara juga belum sepenuhnya konsisten. Dalam meta-analisis lain yang menggabungkan 14 penelitian dengan lebih dari 210.000 subjek menemukan peningkatan risiko secara keseluruhan sekitar 7 persen.

"Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara penggunaan pewarna rambut permanen, terutama penggunaan yang sering, dengan peningkatan risiko kanker payudara pada kelompok tertentu, tetapi belum dapat disimpulkan bahwa cat rambut secara langsung menyebabkan kanker," tutur Samuel.

Terkait bahan kimia dalam cat rambut, Samuel menyebut produk ini mengandung berbagai formulasi yang berbeda. Salah satu kelompok bahan yang menjadi perhatian adalah aromatic amines, termasuk p-phenylenediamine (PPD).

Meski demikian, adanya bahan kimia dalam produk tidak otomatis membuktikan bahan tersebut menyebabkan kanker pada manusia. Ia juga mengingatkan formulasi cat rambut sudah banyak berubah, sejumlah bahan yang diketahui bersifat karsinogenik sudah dihilangkan atau dibatasi.

Samuel menekankan, masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap bijak menggunakan produk cat rambut. Gunakan produk legal, mengikuti petunjuk pemakaian, tidak terlalu sering mengecat rambut, serta memastikan kulit kepala tidak sedang luka atau iritasi.

"Jika seseorang sesekali mengecat rambut, tidak ada dasar ilmiah yang kuat untuk mengatakan bahwa ia harus takut akan terkena kanker payudara karena aktivitas tersebut," ujarnya.

Namun, untuk penggunaan yang sangat sering dan berlangsung bertahun-tahun, terutama dengan produk permanen, ia menyarankan agar frekuensi dikurangi dan memilih produk dengan profil keamanan yang baik.

(rti)
placeholder