Studi: Semaglutide Turunkan Risiko Rawat Inap Pasien Bipolar

CNN Indonesia
Kamis, 10 Sep 2026 17:22 WIB
Woman's Emotional Struggle, sleeping and dreaming
Ilustrasi. Bipolar. (iStock/Alpgiray Kelem)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penggunaan obat semaglutide, yang dikenal luas melalui merek Ozempic dan Wegovy, dikaitkan dengan risiko rawat inap akibat masalah psikiatri yang lebih rendah pada pasien gangguan bipolar.

Temuan tersebut berasal dari studi yang dipimpin peneliti Griffith University, Australia, dengan menganalisis data hampir 15 ribu orang dengan gangguan bipolar selama periode 15 tahun.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Acta Psychiatrica Scandinavica itu, peneliti menemukan pasien yang menggunakan semaglutide memiliki risiko 21 persen lebih rendah untuk menjalani rawat inap psikiatri dibandingkan periode ketika pasien yang sama tidak menggunakan obat tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penelitian ini menggunakan data nasional Swedia periode 2009-2024. Dari 14.694 orang yang masuk dalam penelitian, sebanyak 5.200 orang tercatat menggunakan obat golongan agonis reseptor GLP-1 atau GLP-1RA.

Profesor Mark Taylor dari Griffith University yang memimpin penelitian mengatakan, pasien gangguan bipolar yang menggunakan semaglutide menunjukkan tingkat rawat inap psikiatri yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan saat mereka tidak menggunakan obat tersebut.

"Temuan ini menambah bukti yang berkembang bahwa agonis reseptor GLP-1 mungkin memiliki manfaat di luar pengobatan diabetes dan obesitas serta dapat menjadi jalan baru yang menjanjikan untuk penelitian gangguan bipolar," kata Taylor, dikutip dari Griffith University.

Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai perubahan suasana hati ekstrem, mulai dari episode depresi hingga mania. Pada kondisi yang berat, depresi dapat disertai pikiran atau perilaku bunuh diri, sedangkan episode mania dapat memicu perilaku impulsif, psikosis, atau gangguan kemampuan merawat diri.

Bagaimana semaglutide bisa berkaitan dengan bipolar?

Semaglutide merupakan obat yang bekerja pada reseptor GLP-1 dan selama ini digunakan terutama untuk menangani diabetes tipe 2 dan obesitas. Peneliti menduga aktivitas GLP-1 mungkin memiliki efek lain pada otak. Salah satu kemungkinan yang diteliti berkaitan dengan peradangan dan stres seluler, yang diketahui berhubungan dengan sejumlah proses biologis pada gangguan bipolar.

Dalam penelitian tersebut, penggunaan semaglutide juga dikaitkan dengan penurunan risiko kekambuhan bipolar sebesar 17 persen. Namun, temuan tersebut belum cukup untuk membuktikan bahwa semaglutide secara langsung memperbaiki gejala atau mencegah kekambuhan gangguan bipolar.

Menariknya, efek tersebut tidak terlihat pada seluruh obat dalam kelompok GLP-1. Peneliti tidak menemukan kaitan yang sama antara penggunaan liraglutide maupun dulaglutide dengan penurunan risiko rawat inap psikiatri.

Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan manfaat terhadap gangguan bipolar belum tentu merupakan efek yang berlaku pada semua obat GLP-1.

Bukan berarti Ozempic obat gangguan bipolar

Meski hasil penelitian terlihat menjanjikan, semaglutide belum dapat disebut sebagai obat untuk gangguan bipolar. Penelitian ini merupakan studi observasional sehingga hanya dapat menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan semaglutide dan risiko rawat inap yang lebih rendah.

Penelitian tersebut belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat. Para peneliti juga mengingatkan bahwa hasil dari populasi Swedia belum tentu dapat digeneralisasi ke seluruh populasi atau sistem layanan kesehatan lainnya.

Karena itu, Taylor dan tim menilai temuan tersebut masih perlu diuji melalui uji klinis terkontrol secara acak sebelum semaglutide dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari terapi gangguan bipolar.

Temuan ini menambah sejumlah penelitian yang mulai melihat kemungkinan hubungan antara obat GLP-1 dan kesehatan mental. Pada April 2026, tim peneliti yang juga melibatkan Taylor menemukan bahwa obat GLP-1 berkaitan dengan risiko yang lebih rendah terhadap sejumlah kondisi kesehatan mental yang memburuk, termasuk depresi, kecemasan, dan perilaku menyakiti diri pada kelompok tertentu.

Meski demikian, penelitian mengenai efek GLP-1 terhadap kesehatan mental masih berkembang. Untuk saat ini, obat seperti semaglutide tetap digunakan sesuai indikasi medisnya dan tidak boleh menggantikan terapi gangguan bipolar yang telah diresepkan dokter.

(tis/tis)
placeholder