Pada tahap tertentu perkembangan anak, orang tua sudah harus mulai melakukan toilet training. Hal ini penting agar mampu mengontrol keinginan buang air kecil dan besar secara mandiri.
Namun satu hal yang penting dari toilet training menurut Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, Andy Darma, yakni rasa saling percaya yang terbangun antara orang tua dan anak. Apalagi jika anak memiliki kebiasaan menahan buang air besar (BAB).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Diawali dari saling percaya antara ibu dan anak. Jadi, anak supaya kita bisa meyakinkan 'Ini enggak sakit, kok,' dia yakin memang poop (buang air besar) itu enggak sakit karena ibunya enggak pernah bohong," ujar Andy di Jakarta, Rabu (9/9), dilansir Antara.
Trust issue jadi tantangan
Menurut Andy, kebiasaan menahan BAB dapat membuat feses makin keras karena cairan di dalamnya diserap oleh usus. Kondisi tersebut dapat membuat anak malah makin sulit BAB.
"BAB keras menyebabkan nyeri. Nyeri menyebabkan menahan. Menahan menyebabkan bertambah keras. Jadi berputar saja siklusnya di situ, nanti enggak selesai-selesai," ujarnya.
Andy pun berkata, kondisi ini perlu diputus dengan membuat feses jadi lebih lunak dan membantu anak agar tak menahan BAB. Dokter bisa membantu memberikan obat untuk melunakkan feses, sedangkan tugas orang tua meyakinkan anak agar tak menahan BAB.
Toilet training bisa jadi sangat menantang jika anak memiliki trust issue atau rasa sulit percaya pada sesuatu. Hal ini tak lepas dari pengalaman sebelumnya.
Andy mencontohkan, trust issue bisa muncul ketika orang tua mengatakan obat tidak pahit atau suntikan vaksin tidak sakit, tetapi ternyata anak merasakan sebaliknya.
Orang tua perlu lebih jujur kepada anak. Jadi ketika feses sudah lunak berkat obat dari dokter, tetapi anak masih menahan BAB, orang tua perlu meyakinkan proses tersebut tak sakit.
Setelah anak berhasil BAB tanpa rasa sakit, orang tua bisa memberi afirmasi dengan menanyakan kembali apakah BAB terasa sakit. Jangan lupa untuk mengingatkan anak agar tak menahan BAB.
"Membangun rasa percaya, menyelesaikan trust issue pada anak," ucap Andy.
Kapan waktu ideal untuk memulai toilet training?
Menurut laman Johns Hopkins Medicine, usia rata-rata toilet training, yakni 27 bulan. Namun dengan catatan tak ada usia yang tepat untuk memulai, jadi sebaiknya toilet training dilakukan ketika anak menunjukkan tanda-tanda kesiapan.
Hal ini karena setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda. Kemampuan anak untuk mengendalikan otot-otot usus dan kandung kemih datang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan yang tepat.
Anak dengan usia kurang dari 12 bulan tak memiliki kendali atas buang air kecil (BAK) ataupun BAB. Pada anak 12-18 bulan, biasanya anak mulai menunjukkan sangat sedikit kontrol.
Namun sebagian besar anak tidak dapat mengendalikan BAK dan BAB pada rentang usia 24-30 bulan.
Karena tak ada pakem pasti, berikut ini beberapa tanda yang bisa jadi indikator kesiapan anak untuk mulai toilet training:
- Meminta popoknya diganti atau memberi tahu orang tua bahwa ia akan BAB atau BAK.
- Merasa tidak nyaman ketika popoknya basah atau kotor.
- Senang meniru apa yang dilakukan orang tua atau anak yang lebih besar.
- Mengikuti orang tua ke kamar mandi untuk melihat bagaimana toilet digunakan.
- Ingin melakukan sejumlah hal, seperti pergi ke toilet, untuk membuat orang tua senang atau untuk mendapatkan pujian.
- Popok anak kering setidaknya selama 2 jam di siang hari atau kering setelah tidur siang atau semalaman.
Jadi, selain mengetahui kapan saat yang tepat untuk mulai toilet training, penting juga bagi orang tua untuk membangun kepercayaan dengan anak. Hal ini agar anak tak menahan BAB atau BAK karena adanya trust issue.
(rti)
