Apa Itu Silikosis? Ketahui Risikonya dari Paparan Abu Vulkanik

CNN Indonesia
Rabu, 09 Sep 2026 06:00 WIB
Selain dapat mengganggu saluran pernapasan dan menyebabkan batuk, ada risiko penyakit silikosis akibat kandungan silika pada abu vulkanik.
Ilustrasi. Selain dapat mengganggu saluran pernapasan dan menyebabkan batuk, ada risiko penyakit silikosis akibat kandungan silika pada abu vulkanik. (iStockphoto/Morsa Images)
Jakarta, CNN Indonesia --

Erupsi Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir membuat masyarakat khususnya di Jakarta dan sebagian wilayah Jawa Barat perlu mewaspadai paparan abu vulkanik.

Sebab, partikel abu yang terbawa angin dapat mencapai wilayah yang cukup jauh dari sumber erupsi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain dapat mengganggu saluran pernapasan dan menyebabkan batuk, ada risiko penyakit silikosis yang diakibatkan oleh kandungan silika pada abu vulkanik.

Lantas, apa itu silikosis dan apakah paparan abu vulkanik dapat menyebabkan penyakit tersebut?


Apa itu silikosis?

Dikutip dari Cleveland Clinic, silikosis adalah penyakit paru yang terjadi akibat menghirup debu yang mengandung silika dalam jumlah tertentu secara berulang atau dalam paparan yang cukup tinggi.

Silika atau silikon dioksida merupakan mineral yang secara alami terdapat pada batuan, pasir, tanah, dan sejumlah material lainnya.

Silika sendiri tidak berbahaya ketika tertelan, tetapi menghirup partikel debu silika tertentu dapat merusak sistem pernapasan.

Silikosis umumnya dikenal sebagai penyakit yang diidap pekerja pertambangan, konstruksi, penggalian, pemotongan batu, sandblasting, hingga industri keramik dan kaca lantaran terpapar debu silika secara terus-menerus.


Bagaimana silika bisa merusak paru-paru?

Berdasarkan informasi Volcanoes dari US Geological Survey (USGS), partikel abu vulkanik berukuran kurang dari 4 mikrometer dapat masuk hingga ke wilayah alveolus atau kantung udara paru-paru.

Partikel yang sangat halus ini disebut sebagai partikel yang dapat terhirup hingga bagian dalam paru.

Jika abu tersebut mengandung silika kristalin bebas dalam jumlah yang cukup, paparan dalam jangka panjang dapat menjadi perhatian karena silika dapat memicu kerusakan paru.

Praktisi kesehatan RS Paru Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan bahwa partikel silika yang menetap di paru dalam waktu lama dapat memicu terbentuknya jaringan parut atau fibrosis.

"Nah, kalau terjadi berbulan-bulan, bertahun-tahun, partikel debu yang mengandung silika itu bisa terdisposisi di paru. Dan akan menyebabkan terjadinya fibrosis. Fibrosis atau kekakuan pada paru disebut sebagai silikosis," ujarnya, dikutip dari detikhealth, Selasa (8/9).

Fibrosis membuat jaringan paru menjadi kaku sehingga fungsi paru untuk bekerja secara optimal dapat terganggu.

Abu vulkanik dapat mengandung silika, tetapi bukan berarti setiap paparan abu vulkanik akan otomatis menyebabkan silikosis.

Ada banyak faktor yang memengaruhinya, termasuk ukuran partikel, kandungan silika kristalin dalam abu, konsentrasi paparan, serta lama dan intensitas seseorang menghirup abu tersebut.

Masih mengacu USGS, erupsi yang menghasilkan abu sangat halus dengan kandungan silika tinggi merupakan kondisi yang paling berpotensi menimbulkan risiko silikosis.

Namun, silikosis pada umumnya merupakan penyakit yang berkembang akibat paparan debu silika dalam jangka panjang.

Cleveland Clinic menyebut silikosis kronis biasanya berkembang setelah seseorang terpapar debu yang dapat terhirup selama lebih dari 10 tahun. Pada paparan yang lebih berat, kerusakan paru dapat berkembang lebih cepat.

Karena itu, masyarakat yang terpapar abu vulkanik akibat erupsi dalam beberapa hari tidak perlu langsung menganggap dirinya mengalami silikosis.

Dalam jangka pendek, abu vulkanik lebih mungkin menimbulkan gangguan berupa iritasi pada saluran pernapasan.

Partikel yang mengendap di hidung dan tenggorokan dapat menyebabkan iritasi pada bagian tersebut. Sementara partikel yang masuk lebih jauh ke saluran pernapasan dapat memicu batuk dan memperburuk kondisi seperti asma atau bronkitis.

Paparan abu dalam konsentrasi tinggi bahkan dapat menyebabkan rasa tidak nyaman di dada, peningkatan batuk, dan iritasi pada orang yang sebelumnya sehat.

Meskipun silikosis bukan risiko yang perlu langsung dikhawatirkan setelah paparan abu selama beberapa hari, masyarakat perlu sebisa mungkin mengurangi paparan abu vulkanik dengan memakai masker serta memastikan penggunaan secara tepat ketika harus berada di luar ruangan.

Selain itu, kurangi aktivitas di luar rumah jika kondisi udara dipenuhi abu dan tutup pintu serta jendela untuk mencegah abu masuk ke dalam rumah.

(fef)
placeholder