Desainer legendaris Pierre Cardin akan dikenang melalui pameran karya-karyanya di rumah mewah alias Palazzo miliknya di Venesia, yang kini disulap menjadi Museum Pierre Cardin dan akan dibuka pada 13 September 2026.
Sebuah pesta kostum digelar pada Kamis (3/9) malam di Palazzo Bragadin, kediaman Pierre Cardin bergaya futuristik di Venesia yang telah ia tempati selama hampir 40 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Desainer kelahiran Italia yang besar di Prancis ini meninggal dunia dalam usia 98 tahun pada Desember 2020. Ia dikenal luas berkat keahliannya dalam dunia mode era 1960-an, khususnya melalui desain bergaya unisex dan futuristik.
Karya Pierre Cardin memicu gelombang budaya anak muda, mulai dari butik-butik di Paris hingga Carnaby Street di London.
Pierre mengukuhkan reputasinya sebagai sosok yang sangat berdedikasi pada mode sekaligus pelopor tren pada masanya. Ia bereksperimen dengan pola geometris yang berani, gaya unik, serta kegemarannya menggunakan bahan-bahan sintetis.
Pierre dikenal memiliki strategi bisnis inovatif dalam mematenkan namanya secara global untuk berbagai jenis produk, meski agak mengurangi nilai eksklusivitas jenamanya yang semula sangat diminati.
Keponakan yang kini menjadi CEO label sang desainer, Rodrigo Basillicati-Cardin, mengungkapkan Palazzo ini merupakan tempat Pierre menyegarkan imajinasi dan mencari kreativitas, sekaligus tempat bersantai dan menepi dari hiruk-pikuk.
Museum Pierre Cardin ini bertujuan mengingatkan pengunjung akan visi desain revolusioner sang desainer, yang sebelumnya pernah bekerja untuk Christian Dior dan Elsa Schiaparelli, sebelum membangun imperiumnya sendiri pada 1950.
Museum Pierre Cardin ini bertujuan mengingatkan pengunjung akan visi desain revolusioner sang desainer, yang sebelumnya pernah bekerja untuk Christian Dior dan Elsa Schiaparelli, sebelum membangun imperiumnya sendiri pada 1950. (Photo by ANDREA PATTARO / AFP) Foto: AFP/ANDREA PATTARO |
Sekitar 130 busana mengisi aula luas museum ini, dengan koleksi yang mencakup rentang waktu pembuatan dari 1951 hingga 2018.
Terdapat gaun malam beludru hitam dari koleksi 1991 yang dipercantik dengan aksen taffeta besar di bagian pinggul, bersanding dengan tunik rajut hijau zamrud berikat pinggang dari koleksi 1971 yang memukau pada bagian samping.
Ada pula gaun mini tanpa lengan dari 1963 berbahan sutra perak dengan pola sarang lebah, yang dilengkapi aksesori pita di leher sebagai pengganti kerah. Kemudian ada gaun dari 1993 berwarna oranye labu dengan aksen lipit spektakuler yang menjuntai dari bagian badan gaun.
"Seluruh hidupnya didasarkan pada struktur. Semua busananya bersifat arsitektural, tidak ada yang sepenuhnya mengalir lembut," kata Basillicati-Cardin. "Ia menganggap gaun-gaunnya sebagai karya seni pahat."
"Ia selalu berkata: Saya ingin orang mengenali gaun saya bahkan dari jarak 10 meter," katanya.
Keponakan yang kini menjadi CEO label sang desainer, Rodrigo Basillicati-Cardin, mengungkapkan Palazzo ini merupakan tempat Pierre menyegarkan imajinasi dan mencari kreativitas, sekaligus tempat bersantai dan menepi dari hiruk-pikuk. (Photo by Jade Gao / AFP) Foto: AFP/JADE GAO |
Pierre Cardin dikenal ingin mendemokratisasi dunia mode. Itulah sebabnya ia meluncurkan lini busana ready-to-wear pada 1959 yang menjadi langkah berani dibanding desainer lain pada masa itu.
Keputusan itu sempat membuat Pierre Cardin dikeluarkan sementara dari Dewan Haute Couture Prancis. Namun tak lama kemudian banyak pesaing yang mencoba menirunya.
Acara pesta kostum 3 September 2026 itu juga bertepatan dengan pesta legendaris yang melambungkan nama dan karier Cardin pada 75 tahun lalu.
Pesta legendaris yang dihelat pada 1951 itu dijuluki Ball of the Century dan diselenggarakan kolektor seni sekaligus sosialita Charles de Beistegui. Acara itu dihadiri oleh kalangan elit, termasuk Orson Welles, Aga Khan III, dan fotografer Cecil Beaton.
Setelah meninggalkan Dior, sang perancang busana mendapat tugas untuk membuat kostum bagi sebuah pesta dansa yang digelar di Venesia. Pekerjaan ini jugalah yang turut melambungkan reputasi Cardin.
"Bayangkan saja paman saya, empat bulan setelah membuka rumah modenya sendiri, tiba-tiba mendapat pesanan untuk membuat 30 kostum-dan itu bukan kostum sembarangan," kata Basillicati-Cardin.
"Saat itu kami hanya memiliki enam pekerja, enam penjahit wanita, tapi ia berhasil memproduksi ke-30 kostum tersebut, termasuk kostum untuk Salvador Dalí dan rekan-rekannya."
Renee Taponier yang menjadi rekan lama Cardin berbagi cerita mengenai pengalamannya bekerja dengan sang desainer, sembari menyelesaikan persiapan akhir menjelang pembukaan museum yang akan segera digelar.
"Saya merindukannya," kata pria 79 tahun tersebut yang mulai bekerja bersama Pierre sejak usianya masih 14 tahun. "Dia adalah sosok yang membentuk diri saya. Dia membangun seluruh hidup saya."
Dengan pengalaman lebih dari 60 tahun di organisasi tersebut, Taponier pernah bekerja di bidang penjualan, menjahit berbagai gaun, bahkan membantu penyelenggaraan peragaan busana, di antara berbagai peran lainnya.
"Dia adalah sosok yang memiliki standar tinggi, tapi juga memberikan banyak hal kepada kami."
(jaz/end)


