Dokter Ungkap Gejala Iritasi Pernapasan pada Anak akibat Abu Vulkanik

CNN Indonesia
Selasa, 08 Sep 2026 09:45 WIB
ilustrasi anak pakai masker
Ilustrasi. Anak menjadi kelompok yang paling rentan terpapar abu vulkanik. (istockphoto/gahsoon)
Jakarta, CNN Indonesia --

Paparan abu vulkanik tidak hanya membuat udara terlihat keruh. Partikel halus yang terhirup juga dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama pada anak-anak yang memiliki kondisi tertentu seperti asma atau alergi.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Wahyuni Indawati mengatakan, paparan abu vulkanik dapat memicu iritasi saluran pernapasan dan menimbulkan sejumlah gejala.

"Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya," kata Wahyuni dalam pernyataannya, Senin (7/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenali gejala pada anak

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Material tersebut terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat halus yang dapat terhirup dan mengiritasi saluran pernapasan.

Pada anak, paparan abu dapat ditandai dengan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Gejala ini perlu diperhatikan, terutama jika muncul setelah anak berada di lingkungan yang terdampak sebaran abu vulkanik.

Risikonya bisa lebih besar pada anak yang sebelumnya memiliki asma, alergi saluran napas, atau penyakit paru kronis. Paparan abu dapat memperburuk kondisi tersebut dan memicu serangan akut.

Orang tua juga perlu memperhatikan tanda gangguan pernapasan yang lebih serius. Wahyuni mengatakan, anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan jika mengalami napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen.

"Kami mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap remeh gejala yang muncul. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," kata Wahyuni dalam pernyataannya.

Kurangi paparan abu vulkanik

Untuk mencegah anak menghirup lebih banyak abu, IDAI menyarankan anak berada di dalam rumah dan menjauh dari wilayah terdampak jika memungkinkan.

Rumah juga sebaiknya ditutup rapat agar abu tidak masuk. Jika menggunakan AC, orang tua dianjurkan memilih mode recirculation sehingga udara dari dalam ruangan diputar kembali dan tidak mengambil udara dari luar.

Kipas angin juga sebaiknya dihindari ketika abu masih banyak mengendap di dalam rumah. Hembusan kipas dapat membuat partikel yang sudah berada di lantai atau permukaan benda kembali beterbangan dan terhirup.

Saat membersihkan rumah, orang tua dianjurkan menggunakan kain atau lap basah. Menyapu abu dalam kondisi kering justru dapat membuat partikel kembali beterbangan.

Jika anak harus keluar rumah, gunakan masker yang terpasang dengan baik dan pelindung mata. Pakaian tertutup juga dapat membantu mengurangi kontak abu dengan kulit.

Khusus anak dengan asma atau alergi saluran napas, orang tua sebaiknya memastikan obat rutin dan obat darurat yang biasa digunakan selalu tersedia. Paparan asap rokok dan asap dapur juga perlu dihindari karena dapat semakin mengiritasi saluran pernapasan.

Selain perlindungan dari paparan, anak juga perlu cukup minum dan mendapatkan makanan bergizi untuk membantu menjaga kondisi tubuh selama kualitas udara terganggu.

(anm/asr)