Abu Gunung Anak Krakatau yang erupsi sejak Jumat (4/9) malam sudah menyebar ke sejumlah wilayah di sekitarnya, setidaknya dilaporkan dari Bengkulu hingga ke Jabodetabek.
Masyarakat dalam radius wilayah tersebut juga sudah melaporkan abu vulkanik yang beterbangan di udara, mulai menyelimuti bangunan, hingga menyebabkan mata perih saat berkendara dan di luar rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat erupsi gunung vulkanik terjadi, abu akan menjadi hal yang paling dirasakan oleh masyarakat dan bisa mengganggu kegiatan sehari-hari, terutama di luar ruangan.
Namun bila terpaksa haru ke luar rumah atau berkegiatan di udara terbuka, ada baiknya menggunakan masker untuk melindungi sistem pernapasan dari paparan abu vulkanik.
Abu vulkanik seperti dari Gunung Anak Krakatau yang erupsi beberapa hari terakhir mengandung partikel debut yang sangat halus yang mempunyai sifat iritatif dan korosif karena asam.
Dokter ahli paru Agus Dwi Susanto memaparkan kepada CNNIndonesia.com pada 2017 bahwa ada sejumlah masker dan alternatifnya yang bisa digunakan oleh masyarakat dalam kondisi menghindari abu vulkanik masuk ke sistem pernapasan.
1. N95
Masker N95 cukup populer dan kerap digunakan karena diyakini efektif mencegah partikel buruk akibat kebakaran dan atau abu vulkanik masuk ke dalam saluran pernafasan.
Masker tersebut juga dianjurkan badan kesehatan Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) sebagai masker ideal untuk menghindari polusi udara.
"Masker N95 sendiri memiliki 95 persen kemampuan dalam memfiltrasi partikel debu sehingga masker ini paling ideal," ujarnya kala itu.
Meskipun begitu, seperti pada saat pandemi, masker N95 cenderung sulit ditemukan dan memang lebih diutamakan untuk dipakai oleh tenaga medis, tim penyelamat, atau mereka yang harus bekerja di luar ruangan dalam kondisi bencana.
Maka dari itu, untuk masyarakat awam, sebaiknya menggunakan masker jenis lain di bawah N95 yang lebih mudah ditemukan dan harganya juga lebih terjangkau dibanding N95.
Selain itu, Lebih lanjut Agus menganjurkan agar masker N95 tidak digunakan oleh anak, ibu hamil, seseorang dengan riwayat penyakit paru atau jantung, dan penduduk lanjut usia.
Hal itu karena masker N95 mampu memperketat daerah pernafasan sehingga seseorang akan mengalami kesulitan dalam bernafas akibat memiliki kemampuan menyaring debu yang kuat.
masker N95 cenderung sulit ditemukan dan memang lebih diutamakan untuk dipakai oleh tenaga medis, tim penyelamat, atau mereka yang harus bekerja di luar ruangan dalam kondisi bencana. Foto: Istockphoto/Alohapatty |
2. Surgery mask
Agus menyarankan untuk menggunakan masker standar, seperti surgery mask untuk melindungi saluran pernafasan dari abu vulkanik berukuran 10 mikron yang berbahaya bagi organ pernafasan.
"Sebenarnya di luar negeri ada surgery mask dengan kemampuan memfiltrasi debu berukuran 2,5 hingga 5 mikron, tapi belum ada di Indonesia. Sebagai pengganti bisa menggunakan masker biasa," ujarnya.
Surgery mask sendiri setelah pandemi banyak ditemukan di pasaran. Masker ini juga sering digunakan oleh pengendara motor karena kemudahan didapat dan kemampuannya menghalang debu masuk hidung.
Jenis masker ini memiliki kemampuan untuk menyaring udara sekitar 65 persen, tidak sebanyak jenis lainnya dan tidak dapat digunakan berkali-kali. Jadi, penggunaannya tetap harus dibatasi dan selalu ganti secara berkala.
Agus menyarankan untuk menggunakan masker standar, seperti surgery mask untuk melindungi saluran pernafasan dari abu vulkanik berukuran 10 mikron yang berbahaya bagi organ pernafasan.ANTARA FOTO/ANDRI SAPUTRA |
3. Kain basah
Bila belum menyetok masker di rumah tetapi terpaksa berkegiatan di luar ruangan di tengah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang bertebangan di udara, sejumlah pihak biasa menggunakan kain basah sebagai pertahanan pertama.
Namun Agus memberikan catatan bahwa kain basah lebih cocok sebagai pencegahan debu vulkanik masuk ke rumah, bukan sebagai masker yang digunakan berjam-jam.
"Kain basah mungkin bagus untuk menutupi ventilasi di rumah karena bisa menangkap partikel debu. Namun, sebagai masker tidak disarankan karena kain basah bisa menjadi lembab dan menimbulkan kuman," ujar Agus.
Infografis - Jenis Masker untuk Lawan Polusi Udara Foto: Basith Subastian/CNNIndonesia |



