Puluhan simpanse yang pernah dijadikan bahan eksperimen uji coba vaksin hepatitis B pada masa lalu kini menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh di tempat perlindungan baru mereka di Liberia.
Langkah medis ini dilakukan guna memberikan jaminan kesehatan dan "kesempatan kedua" bagi hewan yang terancam punah tersebut untuk hidup secara layak.
Direktur suaka Humane World for Animals' Second Chance Chimpanzee Refuge, Liliana Pacheco Ricote, mengungkapkan bahwa tim medis memberikan perawatan medis komprehensif untuk simpanse Afrika Barat tersebut, mulai dari pembersihan gigi, rontgen dada, hingga perawatan kuku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih dari 400 simpanse dimanfaatkan oleh peneliti Amerika Serikat (AS) di Liberia untuk uji coba vaksin hepatitis B sejak era 1970-an hingga awal 2000-an. Sebagian besar dari mereka ditangkap dari alam liar saat masih bayi.
"Mereka digunakan dalam penelitian yang sangat invasif... (dan) telah melalui banyak eksperimen serta rasa sakit yang luar biasa," ujar Ricote, seperti dilansir ABC News.
Liberia merupakan rumah bagi populasi simpanse terbesar kedua di Afrika Barat setelah Guinea. Spesies simpanse Afrika Barat saat ini dikategorikan sebagai satwa yang terancam punah akibat penurunan populasi yang drastis.
Sejak 2015, organisasi Humane World for Animals mengambil alih tanggung jawab permanen untuk merawat 60 simpanse tersisa usai program penelitian dihentikan. Saat ini, kawanan simpanse tersebut hidup bebas di suaka berupa gugusan pulau yang ditutupi hutan bakau di Liberia tengah.
Pemeriksaan kesehatan dilakukan di bawah pengaruh pembiusan untuk menilai kondisi kesehatan jangka panjang, mendeteksi tanda awal penyakit, serta menyusun rencana perawatan khusus saat mereka menua.
Rangkaian tes medis mencakup pemeriksaan gigi, jantung, paru-paru, sistem saraf, tes darah, pemberian vaksin penguat atau booster, hingga pemotongan kuku.
"Pemeriksaan kesehatan ini merupakan bagian vital dalam merawat simpanse-simpanse yang telah melalui banyak penderitaan," tegas dokter hewan suaka, Belen
Perez Hernando.
Sejauh mana dampak jangka panjang eksperimen terhadap simpanse yang kini rata-rata berusia 30 hingga 35 tahun tersebut masih terus diteliti. Namun, rasa trauma fisik dan psikologis mereka masih sangat terasa.
"Melihat betapa dalamnya rasa sakit yang mereka alami akibat perbuatan manusia, memberi saya kebahagiaan besar... bisa memberikan mereka kesempatan kedua untuk hidup bermartabat sebagaimana mestinya," kata Ricote.
(wiw)