Pemerintah Nepal mengimbau turis asing atau wisatawan mancanegara untuk tidak membatalkan rencana perjalanan mereka dan tetap berkunjung ke negara tersebut, meskipun baru saja dihantam bencana banjir bandang dahsyat akibat runtuhnya gletser di perbatasan Nepal dan China.
Menteri Pariwisata Nepal Khadakraj Paudel menegaskan bahwa sektor pariwisata merupakan salah satu penopang utama perekonomian nasional. Kedatangan turis saat ini dinilai sangat vital untuk membantu Nepal melewati masa pemulihan pascabencana.
"Jalur pegunungan dan rute trekking kami masih menanti Anda," ujar Paudel dalam video resminya, sembari memastikan bahwa banjir tidak berdampak pada seluruh wilayah dan fasilitas utama seperti bandara, hotel, serta destinasi wisata utama tetap beroperasi normal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang permukiman di sepanjang aliran sungai merusak infrastruktur secara luas. Mengutip The Independent, sedikitnya 1.114 orang dilaporkan meninggal dunia dan hampir 4.000 orang masih dinyatakan hilang, termasuk 583 warga negara asing dari 38 negara.
Pemerintah memperkirakan total kerugian di sektor pariwisata menembus angka 50 miliar rupee Nepal atau sekitar Rp5,8 triliun. Kerusakan fisik mencakup 142 hotel, 57 restoran, 141 kendaraan pariwisata, serta 27 situs warisan budaya.
Beberapa kawasan bersejarah yang mengalami kerusakan parah antara lain kawasan keagamaan Devighat di sepanjang Sungai Trishuli dan biara-biara lokal masyarakat Tamang di Distrik Rasuwa.
Pemerintah Nepal berupaya keras mempertahankan aktivitas pariwisata karena sektor ini merupakan sumber pendapatan terbesar ketiga bagi negara.
Sepanjang 2025, Nepal berhasil menarik lebih dari satu juta wisatawan asing yang mendaki kawasan Pegunungan Himalaya dan Gunung Everest.
Sebagai langkah pemulihan jangka panjang, Paudel membeberkan rencana untuk mengonversi sejumlah kawasan terdampak menjadi climate heritage.
Area tersebut bakal dibangun museum, taman, dan monumen guna mengedukasi publik mengenai dampak bencana alam serta perubahan iklim bagi generasi mendatang.
(dsd/wiw)