Studi Ungkap Kabut Asap Turunkan Kesuburan Pria

CNN Indonesia
Jumat, 04 Sep 2026 08:15 WIB
Studi Ungkap Kabut Asap Turunkan Kesuburan Pria
Ilustrasi udara yang tercemar kabut asap akibat karhutla. (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Paparan kabut asap kebakaran hutan ternyata tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan paru-paru, melainkan juga mengancam sistem reproduksi pria.

Penelitian terbaru mengungkap bahwa paparan polusi asap kebakaran memicu penurunan signifikan pada kualitas air mani dan sperma.

Laporan yang dipublikasikan dalam jurnal Fertility and Sterility menemukan bahwa asap kebakaran hutan menurunkan jumlah total, konsentrasi, hingga daya gerak (motilitas) sperma pada pria yang sedang menjalani perawatan kesuburan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tim peneliti dari University of Washington di Seattle menganalisis sampel air mani dari 84 pria yang menjalani prosedur inseminasi intrauterin (IUI) selama rentang periode bencana kabut asap pada 2018 hingga 2022.

"Asap kebakaran hutan kini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan reproduksi pria. Seiring meningkatnya frekuensi dan intensitas kebakaran, penting untuk memahami dampak paparan asap terhadap kesuburan," ujar asisten profesor urologi University of Washington, Dr. Tristan Nicholson, seperti dilansir fertstert.org.

Para ahli menjelaskan bahwa partikel pencemar dalam asap terhirup melalui paru-paru, lalu masuk ke dalam aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Zat beracun tersebut diduga kuat mengganggu fungsi organ vital, termasuk testis yang berperan dalam proses pembentukan sperma.

Dampak dari paparan tersebut tecermin dari tingkat kehamilan pasangan dalam kelompok studi yang hanya mencapai 11 persen, dengan tingkat kelahiran hidup sebesar 9 persen-angka yang berada pada batas bawah rata-rata populasi umum.

Dukungan atas temuan ini juga diperkuat oleh penelitian pada hewan yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network. Hasil riset mengindikasikan bahwa polutan udara, terutama materi partikulat, dapat merusak proses pematangan sperma. Makin kecil ukuran partikel pencemar di udara, makin tinggi risiko kerusakan pada kualitas sperma.

Mengutip analisis paparan polutan selama 90 hari yang dilaporkan News Medical Net, berbagai senyawa kimia di udara memberikan dampak buruk yang spesifik terhadap parameter sperma.

Efek polutan udara terhadap parameter semen selama periode paparan 90 hari mengungkapkan efek negatif yang signifikan dari SO2 dan O3 masing-masing pada morfologi sperma dan motilitas progresif dan vitalitas.

Sementara PM2.5, PM10, dan NO2 menunjukkan hubungan dengan morfologi sperma, O3 dan NO2 menunjukkan hubungan dengan indeks kelainan bentuk sperma.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa prevalensi infertilitas global saat ini menyentuh angka 15 persen, yang berdampak pada sekitar 60 hingga 80 juta pasangan di seluruh dunia. Dari total kasus ketidaksuburan tersebut, faktor pria menyumbang porsi terbesar, yakni berkisar antara 40 hingga 70 persen.

Melalui temuan ini, para peneliti berharap tingkat kesadaran masyarakat terhadap bahaya tersembunyi dari kebakaran hutan dapat meningkat, terutama dalam memberikan perlindungan respirasi ekstra bagi warga dan pekerja yang beraktivitas di wilayah rawan paparan kabut asap.

(wiw)
placeholder