Budget Minimal, Gizi Keluarga Tetap Bisa Optimal
Keterbatasan anggaran kerap membuat sebagian orang berpikir bahwa makanan bergizi membutuhkan biaya lebih besar. Padahal, memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga tetap bisa dilakukan dengan bahan pangan yang sederhana dan mudah ditemukan.
Ahli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani mengatakan makanan sehat tidak harus identik dengan bahan pangan mahal.
"Makanan sehat itu tidak harus mahal. Jangan sampai kita punya mindset bahwa makanan sehat identik dengan bahan pangan tertentu, misalnya ikan salmon," kata Tara dalam media talk Forum Ngobras dan Frisian Flag Indonesia bertajuk 'Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal' di Jakarta, Rabu (26/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Tara, rata-rata masyarakat Indonesia sebenarnya sudah memenuhi kebutuhan kalori harian. Namun, asupan tersebut masih banyak didominasi oleh karbohidrat. Padahal, karbohidrat tetap merupakan bagian penting dalam pola makan. Secara umum, karbohidrat dapat menyumbang sekitar 50-60 persen dari asupan pangan harian.
Yang perlu diperhatikan adalah keberagaman sumber karbohidrat. Masyarakat tidak harus selalu mengandalkan nasi putih sebagai sumber utama energi.
"Kita punya banyak sekali pangan lokal dari umbi-umbian. Contohnya kimpul, yang sekarang sedang tren. Beras juga beraneka warna, jadi jangan nasi putih terus," ujar Tara.
Pilih sumber protein yang lebih terjangkau
Selain karbohidrat, pemenuhan protein juga menjadi bagian penting dalam menyusun menu bergizi. Protein bisa diperoleh dari berbagai bahan pangan, baik sumber hewani maupun nabati.
Tara mengatakan tempe dan tahu dapat menjadi pilihan sumber protein nabati yang relatif ekonomis. Namun, sumber protein hewani juga sebaiknya tetap masuk dalam menu sehari-hari.
"Kita punya sumber protein nabati yang sangat baik, yaitu tempe dan tahu, yang memang lebih ekonomis. Tapi jangan lupakan protein hewani yang sebenarnya lebih mudah dicerna dan diserap," katanya.
Kebutuhan protein hewani menjadi perhatian khusus pada anak-anak. Nutrisi dari sumber hewani dapat membantu memenuhi kebutuhan asam amino esensial yang diperlukan untuk menunjang tumbuh kembang.
Namun, pemenuhan makanan beragam pada anak masih menjadi tantangan. Tara menyoroti bahwa hanya 43 persen balita usia 6-23 bulan di Indonesia yang mendapatkan Minimum Acceptable Diet atau pola makan minimum yang memenuhi keberagaman dan frekuensi makanan sesuai kebutuhan anak.
Karena itu, orang tua tidak harus selalu memilih daging sebagai sumber protein hewani. Telur dan ikan juga dapat menjadi alternatif yang lebih ramah di kantong.
"Apalagi, Indonesia negara kepulauan; keanekaragaman ikan sangat tinggi. Ikan juga mengandung lemak tak jenuh yang sehat," jelas Tara.
Telur juga bisa menjadi pilihan praktis untuk melengkapi menu keluarga. Harganya relatif terjangkau, mudah diolah, dan dapat dipadukan dengan berbagai jenis sayuran.
Susu bisa menjadi pelengkap
Selain makanan utama, susu dapat menjadi salah satu pilihan untuk melengkapi asupan gizi harian. Tara menjelaskan susu memiliki kualitas protein yang baik berdasarkan metode penilaian Digestible Indispensable Amino Acid Score (DIAAS).
DIAAS merupakan metode untuk mengukur kualitas protein berdasarkan kemampuan tubuh mencerna dan menyerap asam amino esensial. Semakin tinggi nilainya, semakin baik kualitas protein tersebut. Tara mengatakan protein susu sapi memiliki nilai DIAAS di atas 100 persen.
Meski demikian, susu sebaiknya diposisikan sebagai bagian dari pola makan secara keseluruhan, bukan pengganti makanan utama. Kebutuhan gizi tetap perlu dipenuhi melalui makanan yang beragam.
Untuk membantu keluarga menyusun menu sehari-hari, Tara menyarankan masyarakat berpedoman pada prinsip gizi seimbang melalui Tumpeng Gizi dan konsep Isi Piringku.
Komposisi makanan perlu mencakup sumber karbohidrat, sayuran, protein, dan buah dalam proporsi yang seimbang. Dengan begitu, makanan yang dikonsumsi tidak hanya membuat kenyang, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan berbagai zat gizi.
Di tengah kondisi ekonomi yang menuntut masyarakat lebih selektif dalam berbelanja, perencanaan menu menjadi semakin penting.
"Kita harus pintar mengatur strategi makanan yang padat gizi. Saat membeli lauk misalnya, perhitungkan apa saja kandungan gizinya. Jangan asal kenyang tapi minim gizi," kata Tara.
Menurut dia, masyarakat juga tidak perlu merasa bersalah ketika sesekali membeli makanan jadi atau makanan olahan. Yang terpenting adalah memperhatikan keseimbangan menu secara keseluruhan.
"Beli makanan di warteg pun bisa kok mendapatkan gizi yang baik. Atau misalnya kita goreng sosis untuk lauk, maka tambahkan sayur yang lebih beragam, jadi asupan gizi tetap optimal," ujarnya.
Dengan strategi tersebut, makanan bergizi tidak harus selalu berasal dari bahan pangan premium. Kombinasi bahan pangan lokal yang terjangkau justru dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga.
Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, mengatakan kondisi ekonomi membuat masyarakat perlu semakin cermat dalam menentukan prioritas pengeluaran, termasuk untuk kebutuhan pangan.
"Kami melihat masyarakat Indonesia saat ini berada dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk terus mengecek ulang prioritas dalam pengeluaran. Karena itu, menurut kami, pengetahuan mengenai nutrisi menjadi semakin penting agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya," ujar Andrew.
Melalui kampanye nasional 'Temani Langkahmu Kini dan Nanti', Frisian Flag Indonesia menyatakan komitmennya untuk mendampingi keluarga Indonesia dalam memenuhi kebutuhan nutrisi pada berbagai tahap kehidupan.
"Kami berupaya mendukung kesehatan keluarga Indonesia dengan nutrisi terbaik, yaitu asupan susu kaya gizi sebagai fondasi kesehatan harian yang kuat," katanya.
Selain menghadirkan produk susu, perusahaan juga menyatakan konsisten memberikan edukasi mengenai kesehatan dan nutrisi. Edukasi tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap pangan, tetapi juga memahami cara menyusun pola makan yang sesuai kebutuhan.
"Kami tidak hanya ingin menghadirkan produk yang bernutrisi, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki pengetahuan yang baik untuk mengoptimalkan manfaatnya. Misalnya dengan menghadirkan para pakar dalam diskusi hari ini, agar literasi mengenai nutrisi semakin baik dan keluarga Indonesia dapat semakin bijak dalam memprioritaskan kebutuhan yang baik bagi mereka," pungkas Andrew.
(tis/tis)

