Paha Besar Jadi Jaminan Umur Panjang, Memangnya Iya? Ini Kata Ahli
Konon, orang dengan paha besar memiliki peluang hidup lebih lama. Anggapan ini tengah ramai diperbincangkan. Tapi, benarkah?
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University dr Yunita Aryani menegaskan bahwa anggapan tersebut tak sepenuhnya tepat. Ukuran paha, menurut dia, tak serta merta jadi jaminan panjang umur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lingkar paha yang terlalu kecil memang merupakan penanda rendahnya massa otot atau status gizi yang kurang baik. Namun, bukan berarti semakin besar ukuran paha, semakin panjang pula usia seseorang," ujar Yunita, melansir detikhealth, Selasa (1/9).
Lahirnya mitos soal paha besar dan umur panjang ini dimulai dari studi ilmiah yang disalahpahami oleh masyarakat. Studi yang dipublikasikan dalam British Medical Journal (BMJ) menemukan, lingkar paha kecil berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner dan kematian dini. Namun, studi tak mencatat adanya efek ambang batas.
Begitu ukuran paha mencapai batas ideal tertentu, paha yang bertambah besar tak otomatis bermanfaat untuk kesehatan.
Mengapa paha bisa jadi tolok ukur kesehatan?
Yunita mengatakan, paha terdiri dari kombinasi tulang, massa otot, cairan, dan lemak subkutan. Dua orang dengan lingkar paha yang sama bisa memiliki profil risiko penyakit yang berbeda.
Otot paha sendiri berperan dalam menyerap glukosa, meningkatkan sensitivitas insulin, mengontrol gula darah, menjaga keseimbangan tubuh, dan menjadi cadangan protein saat tubuh mengalami krisis metabolik.
Lemak di area paha (subkutan) juga cenderung lebih aman dibanding lemak perut (visceral). Lemak visceral jelas lebih berbahaya karena bisa menyebabkan penyakit kardiovaskular.
"Bukan sekadar seberapa besar pahanya, tetapi apa yang menyusun paha tersebut dan seberapa baik fungsinya," ujar Yunita mengingatkan.
Yang menjadi kunci utama, lanjut dia, bukan besarnya paha, melainkan massa otot yang terbentuk.
