Budaya Ngopi Makin Ngetren, Jangan Lupa Ampas Bekasnya

CNN Indonesia
Jumat, 28 Agu 2026 22:37 WIB
Ilustrasi kopi
Ilustrasi. Bukan cuma soal kopinya, tapi setelah selesai ngopi juga harus dipikirkan sampahnya. (iStock/Davizro)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Ada yang punya kedai kopi langganan untuk memulai hari. Ada pula yang menjadikan coffee shop sebagai tempat bekerja, bertemu teman, atau sekadar mencari suasana baru setelah seharian berkutat dengan rutinitas.

Bagi sebagian orang, ngopi bahkan sudah menjadi agenda yang hampir selalu ada dalam keseharian. Tak heran jika coffee shop kini bukan sekadar tempat membeli minuman, tapi berkembang menjadi ruang sosial sekaligus bagian dari gaya hidup masyarakat urban.

Namun, pernahkah terpikir apa yang terjadi setelah secangkir kopi selesai diminum?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika es kopi susu atau minuman favorit sudah tandas, yang tersisa biasanya adalah gelas, tutup, sedotan, dan berbagai material lainnya. Barang-barang tersebut mungkin hanya menemani kopi selama beberapa puluh menit, tetapi perjalanan materialnya tentu tidak berhenti setelah minuman habis.

Di sinilah kebiasaan ngopi bisa menjadi kesempatan untuk mulai lebih peduli terhadap apa yang kita konsumsi dan gunakan.

Ngopi bukan cuma soal kopi

Popularitas coffee shop membuat aktivitas menikmati kopi semakin lekat dengan kehidupan sehari-hari. Berdasarkan survei GoodStats pada Oktober 2024, sebanyak 71 persen masyarakat Indonesia memilih membeli kopi di coffee shop dibandingkan menyeduhnya sendiri di rumah.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kopi kini memiliki fungsi yang lebih luas. Ia bukan hanya minuman untuk mengusir kantuk, tetapi juga bagian dari aktivitas sosial, hiburan, bahkan rutinitas bekerja.

Karena itu, kebiasaan setelah ngopi juga menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan. Langkah sederhana seperti mengenali material pada kemasan, menggunakan barang sesuai peruntukannya, dan memilahnya setelah digunakan dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Terlebih, tidak semua material harus langsung dianggap sebagai sampah. Beberapa material masih memiliki nilai dan dapat dikelola kembali sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan baku untuk produk lainnya.

Belajar dari secangkir kopi

Upaya mendekatkan isu tersebut dengan kebiasaan masyarakat salah satunya dilakukan melalui Jejak Asri Hobbies Vol. 2 'Ngopi Bijak, Sirkular Berdampak', bagian dari Kampanye Indonesia Asri yang digagas PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group).

Kegiatan ini mengajak komunitas Indonesia Asri atau 'Sobat Asri' melihat aktivitas ngopi dari perspektif yang lebih luas. Bukan hanya menikmati kopi, tetapi juga memahami material yang digunakan dan bagaimana mengelolanya setelah selesai digunakan.

Dalam kemasan minuman, misalnya, terdapat material seperti Polypropylene (PP) dan High-Density Polyethylene (HDPE) yang digunakan untuk kebutuhan tertentu. Memahami jenis material menjadi langkah awal karena setiap material memiliki karakteristik dan cara pengelolaan yang berbeda.

"Melalui secangkir kopi kita bisa belajar memahami material yang kita gunakan, menggunakannya sesuai dengan kebutuhan dan memikirkan apa yang bisa kita lakukan setelah material tersebut selesai digunakan. Harapannya, pengalaman hari ini tidak berhenti di kegiatan ini, tetapi menjadi kebiasaan yang dibawa Sobat Asri ke keseharian," ujar Head of Corporate Communications Chandra Asri Group Chrysanthi Tarigan dalam konferensi pers di Jakarta.

Pesan tersebut sebenarnya cukup dekat dengan keseharian. Kebiasaan ramah lingkungan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Membawa tumbler ketika memungkinkan, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta memilah kemasan setelah digunakan merupakan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.

Dari ampas kopi hingga kemasan bekas

Konsep tersebut kemudian berkaitan dengan ekonomi sirkular, yakni upaya mempertahankan nilai suatu material agar dapat digunakan kembali selama mungkin. Dalam kehidupan sehari-hari, penerapannya bisa ditemukan dari hal-hal yang sederhana.

Ampas kopi, misalnya, dapat dimanfaatkan menjadi kompos. Sementara material kemasan yang masih bernilai dapat dikumpulkan, dipilah, dan dikelola agar berpotensi kembali menjadi bahan baku. Dengan demikian, sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai sampah memiliki kesempatan untuk mendapatkan fungsi baru.

Chrysanthi mengatakan pemahaman terhadap material juga penting untuk membentuk kebiasaan konsumsi yang lebih bijak.

"Kita menggunakan berbagai material karena masing-masing memiliki fungsi dan manfaat. Karena itu, memahami karakteristik dan peruntukannya membantu kita membuat pilihan yang tepat, sekaligus memahami bagaimana material tersebut sebaiknya dikelola setelah digunakan," katanya.

Coffee shop juga punya peran

Kebiasaan tersebut tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab konsumen. Pelaku usaha kopi juga dapat ikut menciptakan ekosistem yang membuat praktik keberlanjutan lebih mudah dilakukan.

Kopi Nako, misalnya, menjadikan aktivitas menikmati kopi sebagai bagian dari pengalaman untuk mengenalkan praktik ekonomi sirkular kepada konsumennya. Founder Kopi Nako Robert Wanasida mengatakan kebiasaan ngopi yang sudah begitu dekat dengan masyarakat dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan isu keberlanjutan secara sederhana.

"Kami menerapkan pengenalan produk berbahan daur ulang sebagai wujud tanggung jawab terhadap waste cup material yang digunakan dan juga dengan mengajak customer menggunakan mesin rinser kami dengan mencuci langsung cup plastik bekas pakai," ujar Robert.

Menurut dia, kebiasaan sederhana yang dilakukan saat menikmati kopi dapat menjadi bagian dari upaya mendorong ekonomi sirkular dalam kehidupan sehari-hari.

"Melalui aktivitas ngopi, kami berkomitmen untuk terus mendorong penerapan ekonomi sirkular yang mudah dilakukan dalam keseharian, sehingga masyarakat dapat melihat langkah sederhana dalam menikmati kopi juga dapat berkontribusi pada keberlanjutan di kehidupan sehari-hari," katanya.

(tis/tis)