5 Tanda Anda Sedang dalam Mode Bertahan Hidup
Pernah merasa hidup baik-baik saja, tetapi di dalam diri justru terasa sangat melelahkan? Bisa jadi Anda sedang berada dalam survival mode atau mode bertahan hidup. Kondisi ini dapat muncul ketika seseorang menghadapi tekanan pekerjaan, konflik dengan orang terdekat, atau terlalu banyak hal yang harus diselesaikan dalam waktu bersamaan.
Saat berada dalam kondisi tersebut, seseorang biasanya hanya berusaha melewati hari tanpa memikirkan hal lain. Fokusnya adalah menyelesaikan satu hal ke hal berikutnya, meski secara mental dan emosional sudah kewalahan.
Menariknya, kondisi ini tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang tetap bisa bekerja, bersosialisasi, dan menjalani rutinitas seperti biasa, tetapi sebenarnya sedang mengalami tekanan yang cukup besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut para ahli, ada sejumlah tanda yang bisa menunjukkan seseorang mulai masuk ke dalam survival mode. Berikut di antaranya melansir Real Simple:
1. Mudah lupa
Sering lupa menaruh ponsel atau kunci, masuk ke sebuah ruangan lalu lupa tujuan awal, hingga kehilangan alur pembicaraan bisa menjadi tanda otak sedang kelelahan. Pekerja sosial klinis Nicole Ivelevitch mengatakan ketika otak terus-menerus memantau kemungkinan ancaman dan berbagai tuntutan, energi untuk menjalankan fungsi lain seperti memori kerja, perhatian, perencanaan, dan pengambilan keputusan dapat berkurang.
Akibatnya, seseorang bisa lebih mudah kehilangan fokus, lupa jadwal, atau kesulitan mengingat hal-hal sederhana yang biasanya tidak menjadi masalah.
2. Terbangun tengah malam dengan rasa cemas
Terbangun sesekali pada malam hari merupakan hal yang wajar. Namun, jika hal tersebut sering terjadi dan Anda langsung dipenuhi rasa cemas atau berbagai pikiran begitu membuka mata, kondisi ini patut diperhatikan.
Dokter Archana Shrestha mengatakan seseorang dalam kondisi survival mode bisa tidur dalam keadaan tubuh yang sangat lelah, tetapi pikirannya tidak benar-benar berhenti bekerja. Saat terbangun, pikiran dapat langsung dipenuhi daftar pekerjaan, kekhawatiran tentang masa depan, atau berbagai persoalan yang belum selesai.
Kondisi tersebut juga dapat membuat sistem saraf simpatik, yang berperan dalam respons tubuh terhadap stres atau ancaman, menjadi lebih aktif.
3. Lebih mudah marah
Apakah Anda belakangan menjadi lebih mudah tersulut emosi, bahkan oleh hal-hal kecil? Ketika tubuh dan pikiran mengalami stres berkepanjangan, seseorang bisa memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap gangguan atau masalah kecil.
Ivelevitch menjelaskan, saat seseorang mengalami stres berat, amigdala yang berperan dalam mendeteksi ancaman dapat menjadi lebih reaktif. Pada saat yang sama, bagian otak yang berperan dalam mengatur emosi dan pengambilan keputusan, yaitu korteks prefrontal, bisa bekerja kurang optimal.
Akibatnya, persoalan yang biasanya dianggap sepele dapat terasa jauh lebih mengganggu. Anda mungkin menjadi lebih mudah kesal, tersinggung, atau marah meski sebenarnya tidak menginginkan hal tersebut.
4. Terus memikirkan emosi negatif
Tanda lainnya adalah sulit melepaskan diri dari perasaan negatif. Saat berada dalam survival mode, seseorang dapat merasa terus terjebak dalam stres, tekanan, dan kewalahan. Pikiran pun cenderung berputar pada masalah yang sama tanpa menemukan jeda untuk beristirahat.
Sesekali merasa cemas, sedih, atau tertekan tentu merupakan bagian dari kehidupan. Namun, jika perasaan tersebut berlangsung terus-menerus dan mendominasi keseharian, hal itu dapat berkontribusi terhadap stres kronis dan berdampak pada kesehatan. Karena itu, penting untuk mengenali kapan tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak.
5. Merasa harus mengendalikan semuanya
Ketika kehidupan terasa tidak terkendali, seseorang mungkin justru berusaha mengontrol lebih banyak hal agar semuanya terasa lebih aman dan dapat diprediksi. Menurut Ivelevitch, orang yang biasanya santai bisa tiba-tiba menjadi lebih perfeksionis atau merasa segala sesuatu harus berjalan sesuai rencana.
Hal tersebut tidak selalu berarti ingin mengendalikan orang lain. Dalam banyak kasus, kebutuhan untuk mengontrol muncul karena seseorang sedang mencari kepastian. Dengan mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, situasi terasa lebih mudah diprediksi dan tidak terlalu mengancam.
Cara keluar dari survival mode
Jika beberapa tanda di atas terasa familiar, bukan berarti ada sesuatu yang salah dengan diri Anda. Tubuh dan otak pada dasarnya memiliki mekanisme untuk menghadapi tekanan dan situasi yang dianggap mengancam.
Namun, jika kondisi tersebut berlangsung terlalu lama, penting untuk memberikan ruang bagi tubuh dan pikiran untuk kembali beristirahat. Mulailah dengan mengenali sumber tekanan yang paling besar, mengurangi tuntutan yang tidak perlu, menjaga waktu tidur, serta memberikan jeda di tengah kesibukan.
Berbicara dengan orang yang dipercaya juga dapat membantu. Jika rasa cemas, kelelahan, gangguan tidur, atau perubahan emosi mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan dari tenaga profesional kesehatan mental juga dapat menjadi pilihan.
Hal yang tidak kalah penting, jangan menganggap kemampuan untuk terus bekerja dan menjalani rutinitas sebagai tanda bahwa semuanya baik-baik saja. Terkadang, tubuh dan pikiran sudah meminta istirahat jauh sebelum kita menyadarinya.
(tis/tis)
