Kasus Batu Ginjal di RI Tinggi, Pakar Urologi Ungkap Pemicunya

CNN Indonesia
Jumat, 28 Agu 2026 17:00 WIB
Ilustrasi batu ginjal
Ilustrasi. Tingginya kasus batu ginjal di RI dipicu berbagai faktor, mulai dari kondisi lingkungan hingga kebiasaan sehari-hari masyarakat. (iStockphoto/piotr_malczyk)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus batu ginjal dan saluran kemih di Indonesia tergolong tinggi. Indonesia bahkan masuk dalam kawasan stone belt of the world atau wilayah dengan kasus tersebut yang tergolong tinggi.

Spesialis urologi dari Bethsaida Hospital, dr Boyke Budiman Sumantri, SpU, mengatakan tingginya kasus batu ginjal tidak terlepas dari berbagai faktor, mulai dari kondisi lingkungan hingga kebiasaan sehari-hari masyarakat RI.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Artinya Indonesia ini paling banyak penduduknya yang menderita batu di ginjal dan saluran kencing. Ini penelitiannya secara persentase," ujar dr Boyke dikutip dari detikhealth, Kamis (27/8).

Menurutnya, kondisi cuaca di Indonesia yang cenderung panas dan lembap menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko. Cuaca panas membuat tubuh lebih mudah kekurangan cairan lewat keringat.

Apabila kebutuhan cairan tubuh tidak tercukupi, maka urine menjadi lebih pekat dan mendorong terbentuknya kristal yang berkembang menjadi batu.

Selain faktor lingkungan, kandungan endapan dari air minum yang dikonsumsi masyarakat di beberapa wilayah juga dapat berpengaruh.

Namun, ada hal lain yang turut berperan besar. Kebiasaan sehari-hari seperti kurang minum air putih yang dipadukan dengan pola makan tidak teratur, seperti gemar mengonsumsi gorengan maupun camilan kacang-kacangan, menjadi pemicu terbentuknya batu ginjal.

Ia menjelaskan, seluruh jenis makanan yang dikonsumsi akan melalui proses metabolisme dan penyaringan di ginjal. Dalam proses filtrasi tersebut, ginjal mengurai sisa makanan yang berpotensi membentuk kristal.

"Kristal ini kalau tersimpan di ginjal, kalau tidak ada olahraga, kurang minum, akibatnya dia akan mengumpul menjadi batu. Makanya jadinya ginjalnya bekerja lebih keras," jelas dr Boyke.

Karena itu, menjaga kecukupan cairan menjadi salah satu hal penting untuk membantu menurunkan risiko terbentuknya batu ginjal. Selain cukup minum, masyarakat juga perlu memperhatikan pola makan, aktivitas fisik, serta waktu istirahat.

"Maka alangkah baiknya kita hidup seimbang. Menjadi manusia yang mengerti mengenai masalah diri kita dengan makan yang sesuai, minum yang sesuai dan cukup, olahraga juga istirahat pun demikian," tutupnya.

(fef)
placeholder