Sering Kepikiran Makanan? Bisa Jadi Anda Mengalami Food Noise

CNN Indonesia
Kamis, 27 Agu 2026 17:00 WIB
Ilustrasi perempuan memegang perut
Ilustrasi. Ada banyak hal yang bisa bikin diet gagal, salah satunya food noise. (iStock/sorrapong)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pernah merasa baru saja makan, tetapi pikiran sudah kembali tertuju pada makanan? Atau tiba-tiba ingin ngemil meski sebenarnya tidak sedang lapar?

Jika hal tersebut sering terjadi, Anda mungkin pernah mengalami apa yang disebut sebagai food noise. Istilah food noise belakangan semakin banyak digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika pikiran seseorang terus dipenuhi keinginan, dorongan, atau pikiran tentang makanan.

Misalnya, memikirkan makanan yang ingin dimakan, sulit berhenti memikirkan camilan, atau terus mencari sesuatu untuk dimakan meski tubuh sebenarnya tidak membutuhkan asupan. Kondisi ini terkadang dianggap sebagai tanda seseorang kurang disiplin dalam menjalani diet. Padahal, keinginan makan tidak selalu sesederhana persoalan kemauan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Psikolog LIGHThouse Clinic, Tara de Thouars, mengatakan food noise sering kali disalahartikan sebagai kurangnya kemauan atau disiplin ketika seseorang menjalani diet. Padahal, hubungan seseorang dengan makanan dapat terbentuk dari berbagai faktor yang saling berkaitan.

"Pola pikir membentuk bagaimana seseorang bersikap dan membuat pilihan. Pola pikir dan hubungan dengan makanan yang tidak tepat dapat memengaruhi pola makan yang juga tidak tepat," ujar Tara dalam keterangannya.

Menurut dia, pendekatan psikologis diperlukan untuk membantu seseorang memahami pikiran, dorongan makan, serta akar masalah yang menyebabkan pola makan tidak tepat. Artinya, ketika seseorang terus-menerus memikirkan makanan, penting untuk melihat lebih jauh penyebabnya, apakah karena lapar secara fisik, kebiasaan, kondisi emosional, paparan makanan, atau faktor lain?

Kenapa diet bisa terasa semakin sulit?

Persoalan menjadi lebih kompleks pada orang yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas dalam waktu lama. Tubuh memiliki sistem biologis yang membantu mempertahankan berat badan.

Ketika seseorang mulai menurunkan berat badan, tubuh dapat memberikan respons untuk mengembalikan berat tersebut, salah satunya dengan meningkatkan rasa lapar dan menurunkan rasa kenyang. Mekanisme ini membuat sebagian orang merasa semakin sulit mengendalikan nafsu makan ketika sedang menjalani diet.

Dengan kata lain, diet yang berulang kali gagal tidak selalu karena seseorang tidak memiliki motivasi atau disiplin. Tubuh juga memiliki mekanisme biologis yang dapat memengaruhi proses tersebut.

Salah satu bagian dari sistem yang berperan dalam pengaturan nafsu makan adalah hormon incretin. Hormon incretin merupakan kelompok hormon yang diproduksi usus setelah seseorang makan. Dua di antaranya adalah GLP-1 (glucagon-like peptide-1) dan GIP (glucose-dependent insulinotropic polypeptide).

Hormon tersebut membantu tubuh merespons makanan yang masuk, termasuk berperan dalam pengaturan kadar gula darah dan rasa kenyang. Sinyal yang berkaitan dengan hormon ini juga berhubungan dengan pengaturan nafsu makan.

Ketika mekanisme pengaturan lapar dan kenyang terganggu, seseorang dapat lebih mudah merasa lapar atau kesulitan mendapatkan rasa kenyang setelah makan. Kondisi tersebut kemudian dapat membuat upaya mengatur asupan makanan menjadi lebih menantang.

Jangan hanya fokus pada angka timbangan

Karena itu, penanganan kelebihan berat badan dan obesitas idealnya tidak hanya berfokus pada angka di timbangan. Pola makan, aktivitas fisik, kondisi psikologis, kebiasaan, lingkungan, hingga faktor biologis perlu dipertimbangkan secara bersama-sama.

Pendampingan ahli gizi, misalnya, dapat membantu seseorang menyusun pola makan yang realistis dan sesuai kebutuhan. Sementara itu, psikolog dapat membantu mengidentifikasi pemicu emosional, kebiasaan, serta pola pikir yang berhubungan dengan perilaku makan.

Pada kondisi tertentu, pendekatan medis juga dapat menjadi bagian dari penanganan obesitas. Dokter Guadelupe Maria Melissa, Medical Manager LIGHT Group, menjelaskan terapi berbasis tirzepatide bekerja melalui dua jalur hormon incretin, yaitu GLP-1 dan GIP.

"Keduanya berperan dalam mengatur nafsu makan dan rasa kenyang, sehingga pada pasien yang sesuai, terapi ini dapat membantu mengurangi rasa lapar, meningkatkan kontrol terhadap asupan makanan, dan mengurangi dorongan atau pikiran berlebihan terhadap makanan yang sering disebut sebagai food noise," kata Guadelupe.

Namun, terapi medis bukan satu-satunya bagian dari perjalanan penurunan berat badan.

"Terapi injeksi hanyalah satu bagian dari perjalanan. Terapi terbaik tidak berhenti pada injeksi saja. Keberhasilan jangka panjang tetap memerlukan pendekatan yang komprehensif dan pengaturan pola makan yang dipersonalisasi agar hasil yang dicapai dapat dipertahankan," ujarnya.

(tis/tis)
placeholder