Seniman Jepang Yayoi Kusama Meninggal Dunia di Usia 97 Tahun

CNN Indonesia
Kamis, 27 Agu 2026 10:24 WIB
Seniman Jepang Yayoi Kusama di pameran "My Eternal Soul" di Pusat Seni Nasional di Tokyo pada 21 Februari 2017. (Photo by TOSHIFUMI KITAMURA / AFP)
Seniman kontemporer Jepang Yayoi Kusama meninggal dunia pada usia 97 tahun. (Foto: AFP/TOSHIFUMI KITAMURA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seniman kontemporer Jepang Yayoi Kusama meninggal dunia pada usia 97 tahun. Seniman yang dikenal khalayak lewat motif polkadot, pola berulang, serta instalasi Infinity Mirror Rooms itu mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit di Tokyo pada 14 Agustus 2026.

Kabar tersebut disampaikan dalam sebuah pernyataan di situs webnya pada Kamis (27/8). Dikutip dari Japan Times, Kusama mendedikasikan seluruh hidupnya selama 97 tahun untuk berkarya sebagai seniman avant-garde.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain seni visual, kiprahnya juga mencakup seni pertunjukan, novel, dan puisi. Hingga hari-hari terakhirnya, ia disebut tetap melukis dan mengeksplorasi gagasan tentang cinta abadi serta jiwa.

Melansir The Guardian, Kusama lahir di Matsumoto, Jepang, pada 1929. Saat kecil, ia disebut mengalami halusinasi yang membuat bunga-bunga seolah bergerak dan berbicara dengannya. Ia kemudian menjadikan pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses kreatifnya dengan menggambar apa yang dilihatnya.

Saat berusia 13 tahun, Kusama bahkan pernah dikerahkan untuk membuat kain bagi parasut tentara Jepang selama Perang Dunia II. Ia kemudian mempelajari nihonga, gaya lukisan tradisional Jepang, sebelum merasa tidak cocok dengan keterbatasannya.

Pada 1958, Kusama meninggalkan Jepang dan pindah ke New York. Di sana, ia mengembangkan karya Infinity Net, berupa bidang kanvas luas yang dipenuhi pola berulang.

Ia juga membuat patung dan instalasi dengan bentuk-bentuk yang tidak biasa, termasuk karya yang mengangkat tema seksualitas, tubuh, dan gagasan tentang "self-obliteration" atau peleburan diri ke dalam ketakterhinggaan.

Namun, pengakuan internasional baru datang padanya ketika usianya yang telah senja. Karyanya dipamerkan di berbagai institusi seni bergengsi, termasuk Museum of Modern Art di New York dan Tate Modern di London.

Instalasi Infinity Mirror Rooms dan karya berbentuk labu dengan warna mencolok kemudian menjadikannya salah satu seniman paling mudah dikenali di dunia, terutama di era media sosial.

Meski telah menjadi maestro seni, Kusama mempertahankan identitasnya sebagai seorang outsider, alias seniman yang berkarya di luar mainstream.

"Saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya akan diklasifikasikan setelah kematian saya," ujar Kusama kala itu. "Rasanya menyenangkan menjadi orang luar."

(fef)
placeholder