7 Prinsip Hidup dari Pria Paling Bahagia di Dunia, Apa Saja?

CNN Indonesia
Jumat, 21 Agu 2026 11:15 WIB
Pemuka agama Tibet (Lama) Yongey Mingyur Rinpoche digambarkan sebagai 'pria paling bahagia di dunia'.
Pemuka agama Tibet (Lama) Yongey Mingyur Rinpoche digambarkan sebagai 'pria paling bahagia di dunia'. (Tangkapan layar web tergarsangha.org)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemuka agama Buddha Tibet (Lama) Yongey Mingyur Rinpoche digambarkan sebagai 'pria paling bahagia di dunia'. Julukan yang diberikan oleh para ahli saraf dan sejumlah media itu tak sembarangan, Mingyur memang memegang sejumlah prinsip hidup yang membuatnya bahagia.

Mingyur mengatakan, kebahagiaan abadi tidak datang dari kekayaan, kenyamanan, atau menghindari perasaan negatif. Lebih dari itu, kebahagiaan adalah kemampuan untuk melatih pikiran dalam menerima perubahan, menghadapi emosi, dan mengembangkan kebiasaan yang lebih sehat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dimiliki seseorang sejak lahir. Kebahagiaan dapat diperkuat seperti keterampilan lainnya melalui latihan mental secara teratur dan perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari," jelas Mingyur.

Setidaknya, ada tujuh prinsip dan cara hidup yang dipegang Mingyur. Berikut di antaranya, melansir VN Express.

1. Berhenti terus-menerus mengejar kenyamanan

Saat bosan melanda, banyak orang mencoba mengalihkannya dengan makanan, kopi, hingga media sosial. Pengalihan itu dipilih untuk melarikan diri dari rasa tidak nyaman.

Tapi bagi Mingyur, upaya untuk 'melawan' emosi negatif dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk memahami diri sendiri dengan lebih baik.

"Kita berusaha untuk menghindarinya [emosi negatif], tapi perasaan-perasaan itu, dalam arti tertentu, adalah sebuah kebijaksanaan. Hal yang penting adalah merenungkannya, menerimanya sebagai jalan untuk dieksplorasi," ujar Mingyur kepada The Guardian.

Misalnya, alih-alih menggulir layar ponsel saat merasa gelisah, seseorang dianjurkan untuk menyingkirkan ponsel dan merasakan kegelisahan itu. Terus menerus mencari rangsangan baru, lanjut dia, hanya akan memperdalam emosi negatif.

2. Membiasakan diri dengan perubahan

Menurut Mingyur, seseorang tak perlu mengalami krisis hidup untuk belajar beradaptasi. Perubahan kecil dari rutinitas, seperti mengambil rute pulang yang berbeda, secara bertahan dapat mengajarkan pikiran untuk lebih tenang menghadapi ketidakpastian dan perubahan.

3. Melatih pikiran

Dalam Buddhisme Tibet, pelatihan mental dilakukan melalui tiga elemen: pandangan, meditasi, dan penerapan.

'Pandangan' mengacu pada cara orang memahami diri mereka sendiri dan orang lain. Meditasi membantu seseorang menjadi lebih sadar. Sementara penerapan berarti mengubah kesadaran menjadi kebiasaan sehari-hari.

4. Nyatakan rasa syukur secara spesifik

Mingyur mengatakan, rasa syukur menjadi lebih bermakna saat seseorang fokus pada pengalaman konkret daripada pernyataan samar tentang apa yang mereka hargai.

Alih-alih mengucap syukur atas kehidupan, Anda disarankan untuk bersyukur atas hal-hal sepele seperti rasa nyaman duduk di kursi favorit.

Memperhatikan detail-detail kecil membantu seseorang mengenali sumber-sumber kepuasan yang sudah ada dalam kehidupan sehari-hari.

5. Tidak melawan emosi negatif

Mingyur pernah mengalami kecemasan dan serangan panik saat masa kanak-kanak. Kala itu, sang ayah memberinya nasihat dalam dua kalimat: jangan dilawan.

Menurutnya, rasa takut, cemas, dan kesedihan memang dapat muncul dengan intens. Namun pada akhirnya, rasa itu akan berlalu ketika kita mengamati atau menyadarinya, bukan karena kita melawan.

Kepada Forbes, Mingyur pernah menyarankan untuk mengalihkan perhatian ke sensasi fisik yang langsung terasa saat emosi negatif terasa begitu intens. Misalnya, suara di ruangan, suhu udara, atau detail lain di lingkungan.

6. Menyadari bahwa 'lebih banyak' tidak sama dengan 'lebih bahagia'

Ilustrasi perempuan tersenyumIlustrasi. Ada beberapa prinsip hidup yang bisa membangun kebahagiaan sejati. (iStock/Prostock-Studio)

Banyak orang membayangkan bahwa memiliki lebih banyak uang bisa menjamin kebahagiaan. Tapi menurut Mingyur, pencapaian itu tak menjamin rasa puas dan bahagia yang bertahan lama.

"Kebahagiaan sejati adalah ketika kita melepaskan perasaan tidak puas, perasaan tidak lengkap, perasaan bahwa ada sesuatu yang hilang," ujar dia.

7. Berhenti sejenak sebelum bereaksi

Mingyur juga menyarankan untuk memberi jeda antara merasa marah dan merespons kemarahan tersebut. Artinya, beri waktu diri untuk memproses amarah sebelum meresponsnya.

Jeda singkat sekali pun, lanjut Mingyur, dapat mencegah reaksi impulsif yang boleh jadi justru bikin masalah makin runyam.

(asr)