Film soal Layanan Kesehatan Gigi Masyarakat Adat Diluncurkan
Film dokumenter yang memotret layanan kesehatan gigi dan mulut masyarakat adat berjudul 'Negeri Susah Senyum' diluncurkan bertepatan dengan HUT ke-81 Republik Indonesia di Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (17/8).
Jarak yang jauh dari fasilitas kesehatan, minimnya tenaga medis, hingga kuatnya stigma terhadap dokter gigi membuat persoalan kesehatan gigi tidak sekadar menjadi masalah medis. Keterbatasan akses bahkan turut menyuburkan mitos dan praktik pengobatan alternatif yang belum tentu aman.
Film 'Negeri Susah Senyum' merekam perjalanan para dokter gigi saat melakukan riset sekaligus pelayanan kesehatan dasar di Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam keterangan tertulis, film ini tidak hanya memperlihatkan kondisi kesehatan gigi masyarakat adat, tetapi juga menggambarkan perubahan pola hidup yang mulai berdampak pada kesehatan generasi muda.
Salah satu dokter gigi yang terlibat drg Ahmad Syahrul Mubarok dari FDC Dental Clinic menemukan sebuah paradoks menarik. Menurutnya masyarakat generasi sepuh di Kasepuhan Ciptagelar justru memiliki kondisi gigi yang relatif jauh lebih baik dibandingkan generasi anak-anak.
"Generasi sepuh di Ciptagelar memiliki gigi yang jauh lebih kuat karena asupan makanan yang natural dan rendah gula. Keluhan utama mereka rata-rata hanyalah atrisi atau keausan gigi akibat konsumsi makanan bertekstur keras," kata Ahmad saat peluncuran film Negeri Susah Senyum di FDC Dental Clinic, Kota Bandung.
Sementara untuk anak-anak, persoalan karies cukup memprihatinkan. Bahkan, pada usia sekitar tujuh tahun, gigi susu sebagian anak sudah mengalami kerusakan berat akibat karies rampan.
Perubahan pola konsumsi menjadi salah satu pemicunya. Makanan modern dengan kandungan gula tinggi dan makanan olahan mulai masuk ke lingkungan kasepuhan dan perlahan menggantikan pola konsumsi masyarakat yang sebelumnya lebih banyak mengandalkan bahan pangan alami.
Persoalan semakin rumit karena keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan gigi. Ketiadaan dokter gigi dan minimnya fasilitas kesehatan membuat masyarakat tidak memiliki banyak pilihan ketika mengalami sakit gigi.
Ahmad bahkan menemukan tenaga kesehatan di tingkat lokal harus mengambil tindakan di luar kewenangan idealnya karena tidak adanya tenaga medis yang lebih lengkap.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan yang lebih memadai, masyarakat harus menuju fasilitas kesehatan di wilayah Pelabuhanratu. Perjalanan darat bisa memakan waktu sekitar empat jam dengan kondisi jalan yang tidak mudah dilalui.
Jarak bukan sekadar persoalan geografis. Bagi masyarakat yang sedang mengalami sakit gigi, perjalanan berjam-jam untuk mendapatkan pengobatan dapat menjadi hambatan besar.
Kondisi inilah yang kemudian membuka ruang bagi berkembangnya mitos maupun pengobatan alternatif yang tidak selalu dilakukan secara higienis.
"Stigma bahwa ke dokter gigi menakutkan, lama dan mahal, juga masih sangat melekat. Oleh karena itu, pendekatan kami sangat personal dengan memberikan edukasi dasar serta penanganan darurat, seperti penambalan dan pencabutan gigi," ujar Ahmad.
Buka mata generasi muda
Penayangan perdana Negeri Susah Senyum juga mengajak para finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 untuk menyaksikan langsung film dokumenter tersebut.
Para finalis tidak sekadar menjadi penonton. Mereka juga diajak berdiskusi dan mengupas berbagai persoalan yang diangkat dalam film bersama para narasumber yang terlibat dalam proses produksi maupun kegiatan lapangan.
Kehadiran para finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 diharapkan dapat membuka perspektif baru mengenai persoalan kesehatan gigi yang masih dihadapi masyarakat di berbagai pelosok Jawa Barat.
Salah satu finalis asal Kabupaten Sukabumi, Djemima Shireen Ferdinand, mengaku apa yang digambarkan dalam film tersebut bukan sesuatu yang asing baginya.
Sebagai putri daerah, Djemima tumbuh dan besar di kawasan pesisir Sukabumi. Meski wilayah tempat tinggalnya cukup jauh dari lokasi pengambilan gambar film di Kasepuhan Ciptagelar, ia mengatakan realitas mengenai keterbatasan akses dan edukasi kesehatan yang digambarkan dalam film terasa dekat dengan kehidupan masyarakat di daerahnya.
Menurut Djemima, film tersebut memperlihatkan kondisi yang memang terjadi di lapangan dan bukan sekadar cerita yang dibangun untuk kepentingan film.
Baginya, pengalaman tersebut menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab sebagai putri daerah untuk ikut menyuarakan pentingnya kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Sementara itu Founder dan CEO FDC Dental Clinic drg Ita Lestari, mengatakan 'Negeri Susah Senyum' sengaja dibuat untuk membuka mata masyarakat bahwa akses terhadap kesehatan gigi di Indonesia masih belum merata.
Persoalannya bukan hanya ketersediaan dokter dan fasilitas kesehatan, tetapi juga stigma yang telanjur melekat di tengah masyarakat.
"Kami akan menggiatkan pemutaran film ini karena ada misi sosial, yaitu menyebarkan senyum ke semua orang," kata Ita.
(sur/tim/sur)