Kompres Es di Ketiak Bisa Redakan Kecemasan? Ini Kata Psikiater

CNN Indonesia
Selasa, 18 Agu 2026 09:45 WIB
Ice cube tray filled with ice cubes and three lose ice cubes against dark wood.
Ilustrasi. Konon mengompres ketiak dengan es batu, bikin mental lebih bagus. (iStockphoto/john shepherd)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tren kesehatan mental di media sosial belakangan ini memunculkan beragam cara untuk meredakan kecemasan dan overthinking. Salah satunya adalah menempelkan kompres es di area ketiak.

Cara tersebut disebut-sebut bisa membantu tubuh menjadi lebih tenang ketika seseorang sedang cemas atau banyak pikiran. Namun, apakah kompres es di ketiak benar-benar terbukti secara medis untuk mengatasi kecemasan?

Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University Riati Sri Hartini mengatakan sensasi dingin memang dapat memberikan efek relaksasi dalam waktu singkat. Namun, metode tersebut bukan terapi utama untuk mengatasi gangguan kecemasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa kompres es terasa menenangkan?

Menurut Riati, sensasi dingin yang muncul ketika tubuh terkena es dapat membantu memberikan rasa tenang untuk sementara. Setidaknya ada dua mekanisme yang mungkin berperan dalam efek tersebut.

Pertama, sensasi dingin dapat membantu mengaktifkan sistem saraf parasimpatis. Sistem ini berperan dalam mengembalikan tubuh ke kondisi lebih rileks setelah mengalami respons stres.

Kedua, rasa dingin yang cukup kuat dapat berfungsi seperti teknik grounding. Sensasi fisik tersebut membuat perhatian seseorang beralih dari pikiran yang berlebihan kepada apa yang sedang dirasakan tubuh pada saat itu.

Dengan begitu, kompres dingin mungkin membantu seseorang mengalihkan perhatian ketika sedang dilanda kecemasan atau overthinking.

"Efeknya hanya bersifat sementara, yaitu membantu menenangkan tubuh, bukan mengatasi penyebab kecemasan. Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang cukup bahwa kompres es di ketiak merupakan terapi untuk mengatasi gangguan kecemasan," kata Riati mengutip Detik.

Bukan terapi utama untuk gangguan kecemasan

Meski dapat memberikan rasa tenang sesaat, kompres es sebaiknya tidak dianggap sebagai pengobatan untuk gangguan kecemasan.

Kecemasan yang berlangsung terus-menerus dapat memiliki berbagai penyebab dan membutuhkan penanganan yang sesuai. Karena itu, mengandalkan metode yang sedang viral di media sosial tanpa memahami penyebabnya justru dapat membuat seseorang menunda penanganan yang dibutuhkan.

Riati juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati saat menggunakan es secara langsung pada kulit. Paparan suhu yang sangat dingin dalam waktu lama dapat menyebabkan iritasi hingga cold burn, yakni cedera jaringan kulit akibat paparan suhu dingin ekstrem.

Jika ingin menggunakan kompres dingin ketika merasa panik atau tegang, sebaiknya jangan menempelkan es batu secara langsung ke kulit dan tidak menggunakannya dalam waktu lama.

Rasa cemas sesekali merupakan hal yang wajar. Namun, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian jika berlangsung selama beberapa minggu dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain kecemasan yang mengganggu tidur, membuat pekerjaan atau aktivitas harian berantakan, hingga munculnya serangan panik (panic attack). Dalam kondisi tersebut, masyarakat dianjurkan berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater agar mendapatkan penanganan yang sesuai.

"Penanganan yang tepat sejak dini oleh psikolog atau psikiater akan memberikan hasil yang jauh lebih baik, baik melalui bantuan psikoterapi CBT maupun pemberian obat-obatan jika memang diperlukan," ujar Riati.

Jadi, kompres es di ketiak mungkin dapat membantu mengalihkan perhatian dan memberikan efek menenangkan untuk sementara. Namun, metode tersebut bukan terapi untuk mengatasi gangguan kecemasan.

Jika cemas dan overthinking terus berulang hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan hanya mengandalkan tren kesehatan mental di media sosial. Konsultasi dengan tenaga profesional tetap menjadi langkah yang lebih tepat.

Baca selengkapnya di sini

(tis/tis)
placeholder