Tak Lagi Terbuang, Perca 'Hidup' Kembali Berkat Tangan Kreatif Seniman

CNN Indonesia
Jumat, 14 Agu 2026 20:15 WIB
Pameran seni Purana
Jenama Purana merayakan usia yang ke-17 dengan sebuah eksibisi atau gerakan kebudayaan bertajuk "Renjana Perca". Perca atau sisa kain diolah menjadi produk karya seni oleh para seniman lokal Indonesia. Karya dipamerkan di Atrium Utama East Mall, Grand Indonesia mulai hari ini, Jumat (14/8) hingga Minggu (23/8). (CNN Indonesia/ Elise Dwi R)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perca alias potongan kain sisa biasanya dibuang. Namun jenama Purana memberikan 'napas baru' buat perca-perca di gudangnya menjadi karya seni bernilai tinggi.

Menandai usia yang ke-17 tahun, Purana menggandeng sejumlah seniman lokal untuk mengolah perca jadi karya seni. Karya seni ini dipamerkan dalam gelaran bertajuk "Renjana Perca" di East Mall Grand Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Purana merayakan ulang tahun ke-17 yang kami tandai dengan sebuah peluncuran sebuah gerakan kebudayaan yang dinamakan Renjana Perca. Ini sebuah narasi kemerdekaan berkarya, sebuah kebebasan kreativitas tanpa batas, merupakan bentuk kepedulian Purana terhadap lingkungan, zero waste luxury dan liveable art," kata founder dan COO Purana, Nonita Respati dalam konferensi pers di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (14/8).

Dia menambahkan liveable art sendiri berarti membawa karya seni rupa ke dalam kehidupan, busana fungsional, dan kaya akan narasi budaya.

Nonita berkata sejak 2009, jenama selalu mendapat kehormatan untuk berkolaborasi dengan seniman dari berbagai pelosok Nusantara. Kemudian di momen istimewa tahun ini, jenama kembali menggandeng total 12 seniman dari berbagai latar belakang bidang seni untuk menuangkan karya menggunakan perca.

Seniman-seniman yang terlibat antara lain, Sutjipto Adi, Suanjaya Kencut, Francisca 'Kika' Puspitasari, Ruth Marbun, Agan Harahap, Sarkodit, Hendra 'Hehe' Harsono, Hana Surya (Threadapeutic), Rosyid Akhmadi (Mohoi), Arief Susanto (Dus Duk Duk), Anton Afganial, dan Kicky Oktaviano.

Suanjaya Kecut mengolah perca menjadi boneka yang merefleksikan kemanusiaan. Agan Harahap menginisiasi karya visual yang menantang logika berpikir dan memeriksa kembali antara sesuatu yang fiksi dan nonfiksi.

Kemudian pada beberapa pilar mal terdapat olahan bambu, rotan, dan perca karya Rosyid Ahmadi, pemilik jenama Momoi.

Nonita sendiri menyebut jenamanya tidak pernah membuang perca sejak awal berdiri. Pun belum semua perca terserap meski sudah begitu banyak karya dihasilkan.

Jenama Purana merayakan usia yang ke-17 dengan sebuah eksibisi atau gerakan kebudayaan bertajuk Founder dan COO Purana, Nonita Respati mengajak awak media melihat-lihat karya seni yang dihasilkan dari perca di East Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (14/8). (CNN Indonesia/ Elise Dwi R)

Kendati demikian, lewat pameran karya seni ini Purana ingin membuktikan bahwa perca bukan lagi limbah yang harus dibuang. Berkolaborasi dengan Dus Duk Duk, pameran menggunakan material kardus daur ulang sehingga nanti pameran bakal berakhir tanpa menghasilkan sampah.

"Tiap tahun kayak dikasih ujian sama Purana. Tahun kemarin temanya dekoratif pohon, hewan dari kardus. Tahun ini justru ditantang bikin konstruksi arsitektur. Itu kan secara struktur harus kuat," ujar Arief dalam kesempatan serupa.

Jenama Purana merayakan usia yang ke-17 dengan sebuah eksibisi atau gerakan kebudayaan bertajuk Salah satu karya seni hasil pengolahan perca oleh seniman Ruth Marbun. (CNN Indonesia/ Elise Dwi R)

Inovasi demi inovasi terus dilakukan terlebih kini Nonita tengah menyelesaikan studi jurusan Textile Product Design, Research and Sustainability di Italia. Ia tengah menyelesaikan tesis yang fokus pada pengolahan limbah plastik.

Limbah plastik disebut diolah dan dipintal menjadi benang. Tak sebatas bahan penelitian, benang-benang hasil olahan limbah plastik diharapkan mampu memantapkan Purana dari sustainability ke circularity.

(els)
placeholder