4 Ciri Kucing Stres yang Perlu Diperhatikan Pemilik

CNN Indonesia
Rabu, 12 Agu 2026 06:00 WIB
ilustrasi kucing meringkuk di kardus
Ilustrasi. Kenali beberapa tanda yang ditunjukan saat kucing stres. (iStockphoto/piranka)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Kucing dikenal sebagai hewan yang cukup sensitif terhadap perubahan di sekitarnya. Hal-hal yang dianggap biasa oleh manusia ternyata bisa menjadi sumber stres bagi kucing.

Kedatangan tamu, misalnya, mungkin menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi pemilik rumah. Namun, bagi kucing, kehadiran orang baru berarti ada bau asing, suara berbeda, hingga perubahan rutinitas.

Tak hanya tamu, stres pada kucing juga dapat dipicu oleh kehadiran hewan peliharaan baru, bayi, renovasi rumah, suara bising, pembangunan, hingga perubahan jadwal sehari-hari. Jika berlangsung terus-menerus, stres dapat memengaruhi kesehatan dan perilaku kucing. Karena itu, pemilik perlu mengenali berbagai tanda kucing sedang mengalami stres.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ciri-ciri kucing stres

Kucing tidak dapat memberi tahu pemilik ketika sedang merasa tertekan. Namun, perubahan perilaku dan kondisi fisik dapat menjadi petunjuk.

Berikut beberapa ciri kucing stres yang perlu diperhatikan melansir berbagai sumber:

1. Nafsu makan dan minum berubah

Salah satu tanda yang cukup mudah diamati adalah perubahan pola makan dan minum. Kucing yang sedang stres dapat kehilangan nafsu makan atau bahkan menolak makanan dan minuman. Sebaliknya, sebagian kucing dapat makan lebih banyak sebagai respons terhadap kecemasan.

Pemilik juga perlu memperhatikan gejala lain, seperti muntah atau diare. Perubahan tersebut bisa berkaitan dengan stres, meski juga dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan lain.

Jika kucing tidak mau makan atau minum dalam waktu tertentu, sebaiknya jangan langsung menganggap penyebabnya hanya stres. Pemeriksaan oleh dokter hewan diperlukan untuk memastikan kondisi yang mendasarinya.

2. Pola tidur berubah

Perubahan pola tidur juga bisa menjadi tanda kucing sedang tidak nyaman. Kucing yang mengalami stres dapat tidur jauh lebih banyak dan terlihat tidak bersemangat. Namun, ada pula yang justru menjadi gelisah, sering mondar-mandir, dan sulit beristirahat.

Kucing yang biasanya aktif berinteraksi dengan pemilik juga mungkin tiba-tiba lebih sering bersembunyi atau menghindari kontak dengan manusia dan hewan lain. Perubahan mendadak pada kebiasaan sehari-hari patut diperhatikan, terutama jika berlangsung cukup lama.

3. Menjadi agresif atau melakukan perilaku merusak

Stres juga dapat membuat perilaku kucing berubah drastis. Kucing yang biasanya tenang bisa menjadi lebih mudah marah, mendesis, menggeram, bahkan menunjukkan perilaku agresif kepada manusia atau hewan lain.

Perilaku merusak juga dapat muncul. Misalnya, kucing mencakar perabotan secara berlebihan atau melakukan aktivitas tertentu secara terus-menerus.

Kucing juga bisa buang air kecil di luar kotak pasir. Perubahan kebiasaan buang air ini tidak boleh dianggap sebagai kenakalan semata karena bisa menjadi tanda kucing sedang mengalami tekanan atau masalah kesehatan.

4. Menjilati tubuh secara berlebihan

Kucing memang memiliki kebiasaan merawat tubuh dengan menjilati bulunya. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan tersebut bisa menjadi tanda adanya masalah.

Kucing yang stres dapat menjilati bagian tubuh tertentu secara terus-menerus. Akibatnya, bulu di area tersebut dapat menipis atau rontok, bahkan kulitnya bisa mengalami luka.

Perhatikan jika kucing terus menjilati bagian tubuh yang sama atau melakukan grooming dalam waktu yang jauh lebih lama dari biasanya. Selain itu, perubahan suara juga patut diamati. Kucing yang stres dapat menjadi lebih sering mengeong, menggeram, atau mendesis.

(tis/tis)


[Gambas:Video CNN]