Kisah Bocah 10 Tahun Penyandang Autisme Bertualang Keliling 100 Negara

CNN Indonesia
Selasa, 11 Agu 2026 15:00 WIB
Ilustrasi Peta Dunia
Ilustrasi peta dunia. (Schaeffler/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bagi sebagian besar anak-anak, liburan musim panas atau pergi ke pantai bersama keluarga adalah sebuah momen istimewa. Namun, bagi Jamie France-Meconi yang baru berusia 10 tahun, perjalanan keliling dunia bukan sekadar hiburan, melainkan jalan hidup.

Jamie baru saja menginjakkan kaki di negaranya yang ke-100. Perjalanannya dimulai sejak Mei 2023, ketika sang ibu, Hayley (47), memutuskan untuk mengemas rumah mereka di Preston, Inggris, dan mengajak Jamie hidup nomaden secara penuh.

Sejak saat itu, Jamie telah menyusuri hutan di Kalimantan, berenang bersama hiu paus di Madagaskar, mengunjungi Piramida Giza, hingga tinggal bersama suku Maasai. Pengalaman-pengalaman ini diyakini Hayley memberikan pelajaran hidup yang tak bisa didapatkan di bangku sekolah formal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Anak-anak perlu keluar dari ruang kelas. Saat anak-anak lain menanam tauge di gelas plastik, Jamie menanam pohon langsung di Borneo. Ketika teman-temannya mempelajari Charles Darwin dari buku, Jamie melihatnya langsung di Kepulauan Galapagos," ujar Hayley, seperti dilansir Metro.

Hasrat Hayley untuk menjelajah dunia muncul pada 2017 silam pasca-kematian ayah Jamie. Tak ingin menjadi ibu yang menghabiskan waktu dari pagi hingga malam di kantor setelah anaknya kehilangan sosok ayah, Hayley memilih jalan ini agar putranya tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati dan penuh empati.

Meski pernah diajak ke Yunani saat berusia sembilan minggu, memori terawal yang diingat Jamie adalah ketika mereka tinggal di Tanzania pada 2020. Rencana awal liburan satu minggu berubah menjadi masa tinggal selama tujuh bulan akibat lockdown pandemi Covid-19 di Inggris.

Kala itu, seorang warga suku Maasai mengundang mereka berkunjung. Niat awal menginap satu sore berkembang menjadi masa tinggal selama empat bulan di pondok tradisional.

"Kami tinggal di pondok lumpur dan berbagi tempat tidur dengan domba serta anjing ... dan itu mungkin memori pertama yang paling dia ingat," kenang Hayley sambil tertawa.

Bulan ini, Jamie mengukir rekor pribadi dengan mengunjungi negara ke-100, yaitu Arab Saudi, untuk menyaksikan pertandingan tinju antara Anthony Joshua melawan Kristian Pranga.

Kendati memprioritaskan perjalanan, Hayley kini tetap mengusahakan agar perjalanan mereka tidak mengganggu jadwal sekolah formal Jamie.

Hayley menjelaskan bahwa Jamie memiliki kondisi ADHD dan autisme, sehingga rutinitas serta struktur yang didapatkan dari sekolah sangat penting untuk pembentukan jiwanya.

"Saya tidak percaya ruang kelas adalah segalanya, tetapi sekolah memberikan interaksi pertemanan. Dia ingin bermain sepak bola dengan anak-anak seusianya, dan sekolah adalah tempat terbaik untuk itu," jelasnya.

Saat ini, tingkat kehadiran Jamie di sekolah mencapai 96 persen. Setiap 10 pekan sekali, ia diizinkan mengambil libur singkat untuk melanjutkan petualangannya. Di Inggris sendiri, orang tua dapat dikenakan denda sebesar 80 pound sterling (sekitar Rp1,9 juta) jika anak mereka membolos sekolah tanpa alasan yang sah.

Hayley memiliki ambisi untuk mengunjungi seluruh negara di dunia dan meraih predikat United Nations Master. Ia juga berharap mereka bisa menjadi duet ibu dan anak termuda yang meraih status tersebut.

Sementara itu, Jamie bertekad memecahkan rekor sebagai orang termuda yang pernah mengunjungi seluruh negara di dunia, rekor yang saat ini dipegang oleh Wyatt Maktrav Bedura, bocah asal Filipina berusia 12 tahun.

Menanggapi berbagai penilaian miring dari orang luar mengenai gaya pengasuhannya, Hayley memilih untuk tidak ambil pusing.

"Pandangan saya sederhana-kita hanya hidup sekali. Saya menolak hidup berdasarkan sudut pandang orang lain. Saya mengenal anak saya lebih baik dari siapa pun, dan saya tahu dia bahagia, aman, serta dicintai," bebernya.

(wiw)


[Gambas:Video CNN]