Sepertiga Anak RI Belum Dapat ASI Eksklusif, IDAI Soroti Tantangannya

CNN Indonesia
Jumat, 07 Agu 2026 12:10 WIB
Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, Sp.A, Subsp.Neo(K)
Satgas ASI IDAI Naomi Esthernita Dewanto menyebut masih banyak tantangan yang membuat cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia belum optimal. (Foto: CNNIndonesia/Felicia Facette)
Jakarta, CNN Indonesia --

Cakupan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif di Indonesia terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kenaikan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ideal karena masih banyak bayi yang belum memperoleh ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya.

Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Naomi Esthernita Dewanto, Sp.A, Subsp.Neo(K) mengatakan sekitar satu dari tiga anak Indonesia hingga kini masih belum mendapatkan ASI eksklusif. Kondisi itu menunjukkan masih besarnya tantangan dalam meningkatkan praktik menyusui di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan data WHO dan UNICEF, cakupan ASI eksklusif di Indonesia meningkat dari 52 persen pada 2017 menjadi sekitar 66 persen pada 2024. Meski demikian, menurut Naomi, capaian tersebut masih perlu ditingkatkan agar lebih banyak bayi memperoleh haknya atas ASI eksklusif.

"Indonesia mengalami peningkatan angka rata-rata mendapatkan ASI eksklusif di enam bulan pertama. Angka ini sebenarnya masih perlu dimaksimalkan, karena artinya satu per tiga anak Indonesia tidak mendapatkan ASI eksklusif," ujar Naomi kepada CNN Indonesia, Jumat (7/8).

Naomi menilai, peningkatan cakupan ASI eksklusif belum berjalan optimal karena masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Salah satunya adalah minimnya pendampingan dan edukasi bagi ibu menyusui.

"Contohnya ibu-ibu yang masih menyusui itu kurang pendampingan, kurang edukasi. Kemudian masalah ibu bekerja, mulai tuh menyusut, akhirnya sampai enam bulan angkanya turun tidak sesuai dengan yang diharapkan," ujarnya.


Ibu bekerja hadapi banyak hambatan

Naomi menyoroti ibu bekerja menjadi kelompok yang paling rentan menghentikan pemberian ASI eksklusif lebih awal. Ini erat kaitannya dengan kondisi ibu yang harus kembali bekerja.

Ia menjelaskan, sebenarnya ibu tetap dapat memberikan ASI melalui ASI perah. Namun, praktik tersebut sering kali terkendala karena tempat kerja belum menyediakan fasilitas maupun waktu yang memadai.

"Sekitar 45 persen kegagalan ASI eksklusif karena ibu bekerja. Ibu bekerja bisa perah, tapi tidak semua kantor atau perusahaan menyediakan dan mendukung. Padahal ibu bekerja butuh didukung untuk memerah ASI, perlu ruangan, perlu kesempatan atau waktu untuk memerah ASI," jelasnya.

Selain tantangan di lingkungan kerja, Naomi juga menyoroti maraknya promosi susu formula yang dinilai masih menjadi hambatan dalam meningkatkan praktik menyusui.

"Yang ketiga, tantangannya adalah banyak sekali promosi susu formula yang menghambat angka menyusui," katanya.


Dukungan keluarga jadi kunci

Naomi menegaskan keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu. Menurutnya, keluarga, terutama suami, memiliki peran penting dalam memberikan dukungan selama proses menyusui.

Ia mengatakan edukasi tidak boleh hanya ditujukan kepada ibu karena kegagalan menyusui sering kali dipandang sebagai kesalahan ibu semata.

"Yang perlu diedukasi bukan cuma ibunya, karena banyak orang menyalahkan ibunya kalau gagal menyusui. Padahal kita juga perlu mengedukasi keluarga inti terutama suami untuk mendukung, karena ibu-ibu kadang-kadang mau menyusui, tapi direcoki suami atau mertua," imbuhnya.

Selain keluarga, fasilitas pelayanan kesehatan juga dinilai memiliki peran besar melalui penerapan Baby-friendly Hospital Initiative (BFHI).

Program tersebut memiliki 10 langkah yang bertujuan memberikan awal terbaik bagi ibu dan bayi untuk menyusui, mulai dari edukasi tenaga kesehatan, penerapan rawat gabung (rooming in), hingga larangan promosi susu formula di rumah sakit.

"Kalau itu dijalankan di rumah sakit, itu akan dongkrak (angka keberhasilan menyusui ASI eksklusif) banget," katanya.

Ia pun menegaskan peningkatan cakupan ASI eksklusif membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari tenaga kesehatan, keluarga, tempat kerja, pemerintah, hingga media.

"Intinya, semua dari kita mulai dari dokter, tenaga kesehatan, bidan, keluarga, suami, sampai pemerintah dan media punya peran untuk bisa menaikkan angka ini," tutup Naomi.

(fef)


[Gambas:Video CNN]