4 Hal yang Bikin Karyawan Betah di Kantor, Bukan Cuma Gaji
Banyak orang mengira gaji menjadi satu-satunya alasan seseorang bertahan di sebuah perusahaan. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Riset terbaru Jobstreet by SEEK mengungkap bahwa hubungan baik dengan rekan kerja justru menjadi salah satu faktor terbesar yang membuat karyawan merasa bahagia sekaligus betah bekerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi, kehadiran teman kantor yang suportif ternyata mampu menjadi penopang kesehatan mental sekaligus meningkatkan produktivitas. Temuan tersebut tertuang dalam laporan Workplace Happiness Index yang dirilis Jobstreet by SEEK pada Januari 2026.
Laporan itu menunjukkan bahwa meski kompensasi masih menjadi pertimbangan utama saat memilih pekerjaan, kebahagiaan karyawan lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan interpersonal yang kuat, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work-life balance), serta rasa bahwa pekerjaan yang dilakukan memiliki makna.
Lalu, apa saja yang membuat seseorang lebih betah bekerja di kantor? Berikut ulasannya:
1. Punya teman kantor yang saling mendukung
Teman kantor bukan sekadar rekan untuk makan siang atau mengobrol saat istirahat. Mereka juga menjadi sistem pendukung ketika pekerjaan sedang terasa berat.
Berdasarkan riset Jobstreet, sebanyak 77 persen pekerja Indonesia menyebut rekan kerja atau tim yang suportif sebagai faktor utama yang membuat mereka merasa bahagia di tempat kerja.
Lingkungan kerja yang penuh dukungan dapat membantu mengurangi stres, mencegah kelelahan (burnout), hingga menurunkan keinginan karyawan untuk mengundurkan diri.
Meski 54 persen responden mengaku gaji lebih tinggi tetap menjadi daya tarik utama, dukungan sosial dari rekan kerja terbukti menjadi alasan penting yang membuat mereka bertahan.
2. Suasana kerja yang nyaman
Bukan hanya hubungan antarkaryawan, kondisi lingkungan kerja juga berpengaruh terhadap kenyamanan bekerja. Sebanyak 76 persen responden menilai lokasi dan atmosfer kantor yang kondusif membantu menciptakan lingkungan yang aman untuk berkolaborasi.
Saat karyawan merasa nyaman, komunikasi menjadi lebih terbuka, pertukaran ide berjalan lebih lancar, dan penyelesaian masalah dapat dilakukan lebih cepat.
Suasana kerja yang positif juga membuat karyawan tidak segan memberikan masukan atau berdiskusi tanpa khawatir memicu konflik pribadi.
3. Merasa pekerjaan punya makna
Bekerja tidak lagi hanya soal mengejar target atau menerima gaji setiap bulan. Banyak pekerja ingin merasa bahwa apa yang mereka lakukan memiliki dampak nyata.
Dalam riset tersebut, 75 persen responden menyebut rasa bahwa pekerjaan mereka bermakna (purpose) menjadi salah satu sumber kebahagiaan.
Ikatan yang kuat dengan tim turut membantu menciptakan rasa memiliki terhadap tujuan bersama. Target perusahaan yang semula terasa sekadar angka berubah menjadi misi yang dikerjakan bersama sehingga pekerjaan terasa lebih bernilai.
4. Merasa aman untuk berkembang
Lingkungan kerja yang sehat juga ditandai dengan adanya psychological safety, yakni kondisi ketika karyawan merasa diterima, dihargai, dan tidak takut menyampaikan pendapat. Saat rasa aman ini tercipta, karyawan cenderung lebih berani mengemukakan ide, mencoba pendekatan baru, hingga mengambil risiko yang terukur.
Budaya kerja seperti ini juga mendorong inovasi dan memperkuat kerja sama ketika perusahaan menghadapi berbagai tantangan.
Budaya kerja yang baik jadi kunci retensi
Temuan Jobstreet menunjukkan bahwa gaji memang penting untuk menarik talenta baru. Namun, yang membuat karyawan bertahan dalam jangka panjang adalah budaya kerja yang sehat dan hubungan antarrekan kerja yang positif.
Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya menawarkan kompensasi yang kompetitif. Membangun lingkungan kerja yang inklusif, memberikan ruang komunikasi yang terbuka, serta mendorong kolaborasi antarkaryawan juga menjadi investasi penting untuk meningkatkan kebahagiaan, produktivitas, sekaligus mempertahankan talenta terbaik di tengah persaingan dunia kerja yang semakin dinamis.
(tis/tis)