6 Mitos agar Anak Cepat Bicara dari Berbagai Negara

CNN Indonesia
Rabu, 05 Agu 2026 19:15 WIB
Ilustrasi Anak Sendirian di Rumah
Ilustrasi. Ada macam-macam mitos tradisional yang diterapkan berbagai negara agar anak cepat bicara. (Thedanw/Pixabay)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Kemampuan berbicara merupakan salah satu tonggak penting dalam tumbuh kembang anak. Tak heran jika banyak orang tua menantikan momen saat si kecil mengucapkan kata pertamanya.

Harapan tersebut melahirkan beragam kepercayaan turun-temurun di berbagai belahan dunia. Mulai dari menggosok lidah dengan cincin emas, mengoleskan madu, hingga mandi di bawah air hujan, berbagai cara dipercaya dapat membantu anak lebih cepat berbicara.

Meski terdengar unik dan telah diwariskan dari generasi ke generasi, sebagian besar praktik tersebut hanyalah mitos yang belum didukung bukti ilmiah. Lantas, seperti apa mitos agar anak cepat bicara yang berkembang di berbagai negara? Berikut daftarnya, melansir berbagai sumber:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mitos agar anak cepat bicara di berbagai negara

Berikut sejumlah mitos yang berkembang di berbagai budaya.

1. Indonesia: menggosok lidah dengan cincin emas

Di sejumlah daerah di Indonesia, ada kepercayaan bahwa menggosok atau mengetukkan cincin emas asli ke lidah bayi dapat membuat anak lebih cepat lancar berbicara. Selain itu, ada pula mitos yang menyebut menyentuhkan paruh burung gereja ke lidah anak bisa membuatnya menjadi lebih cerewet, mengikuti karakter burung tersebut yang dikenal sering berkicau.

Tak hanya itu, sebagian masyarakat juga percaya memberikan rempela atau lambung ayam kepada anak dapat memperkuat organ bicara sehingga si kecil lebih mudah mengucapkan kata-kata.

2. Malaysia: menyapu lidah dengan daun sirih

Di Malaysia, terdapat tradisi menyapu lidah anak menggunakan daun sirih yang telah diberi sedikit kapur sirih. Praktik ini dipercaya dapat 'membersihkan' lidah sehingga tidak kaku dan anak lebih mudah berbicara. Kepercayaan serupa juga masih ditemukan di beberapa wilayah Indonesia.

3. India: mengoleskan madu dan tanaman herbal

Di beberapa daerah di India, bayi dipercaya akan lebih cepat berbicara jika lidahnya diolesi campuran madu dan tanaman herbal vacha atau sweet flag. Ramuan tersebut diyakini mampu merangsang saraf bicara sekaligus meningkatkan kecerdasan verbal.

Selain itu, ada pula kepercayaan bahwa anak akan lebih cepat berbicara jika meminum air yang dituangkan langsung dari dalam bel atau lonceng kuningan di kuil.

4. Tiongkok: memotong tali lidah

Mitos kuno di Tiongkok menganggap tali lidah yang pendek menjadi penyebab utama anak terlambat berbicara. Karena itu, dahulu sebagian bidan tradisional melakukan pemotongan kecil pada jaringan di bawah lidah bayi agar lidah dianggap lebih lentur.

Kini, tindakan tersebut hanya dilakukan berdasarkan indikasi medis pada anak yang benar-benar mengalami kondisi tongue-tie atau ankiloglosia, bukan sebagai cara mempercepat kemampuan berbicara.

5. Nigeria dan sejumlah negara Afrika: mandi air hujan

Di beberapa wilayah Afrika, termasuk Nigeria, terdapat kepercayaan bahwa anak yang mandi atau berdiri di bawah air hujan pertama saat pergantian musim akan memiliki suara yang lebih lantang dan fasih berbicara. Air hujan dipercaya membawa energi alam yang mampu 'membuka' kemampuan berbicara anak.

6. Eropa kuno: melarang anak makan telur

Di sejumlah budaya Eropa kuno berkembang pantangan memberikan telur kepada anak yang belum bisa berbicara. Masyarakat pada masa itu percaya telur dapat membuat lidah menjadi 'berat' sehingga anak lebih lambat mengucapkan kata-kata pertamanya.

Apa kata medis?

Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan berbagai ritual tersebut dapat mempercepat kemampuan berbicara anak. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kematangan otak, kemampuan pendengaran, kondisi kesehatan, hingga kualitas interaksi anak dengan orang tua dan lingkungan sekitarnya.

Karena itu, orang tua justru dianjurkan memberikan stimulasi yang tepat sejak dini agar kemampuan bahasa berkembang optimal, antara lain:

• Mengajak anak berbicara sesering mungkin, bahkan sejak masih bayi.

• Membacakan buku cerita secara rutin.

• Merespons setiap celotehan, ocehan, maupun usaha anak untuk berkomunikasi.

• Bernyanyi dan mengajak anak bermain secara interaktif.

• Membatasi screen time sesuai dengan usia anak.

Apabila anak menunjukkan keterlambatan berbicara dibandingkan tahapan perkembangan usianya, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak atau terapis wicara. Penanganan sejak dini dapat membantu menemukan penyebab sekaligus memberikan intervensi yang sesuai.

(tis/tis)


[Gambas:Video CNN]